Berbagi Pelangi (Bagian 1)
Berbagi Pelangi (Bagian 1)
Aku kembali ke ruang keluarga untuk pamit dan minta dipanggilkan taksi atau ikut salah satu dari mereka saat pulang nanti, karena jarang sekali taksi yang lewat di daerah ini.
"Ly, kami sepakat lanjut, gimana?" tanya salah seorang dari mereka.
"Aku sih terserah saja, tapi sama siapa?" tanyaku. Mereka saling berpandangan seakan tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu, dan tak ada yang mengalah untuk memberikan kesempatan ini kepada temannya.
Setelah berunding beberapa lama, akhirnya aku mengusulkan untuk diadakan lelang. Dijadikan objek pelelangan? Aku sih oke saja. Penawar tertinggi akan mendapatkan tubuhku — di luar urusan pembayaran dengan GM, jadi yang dilelang adalah tips yang akan aku terima.
Serempak mereka menulis angka-angka di kertas tisu dan menyerahkan padaku sebagai juri. Satu per satu kubuka, kuumumkan nama dan jumlah yang tertulis. Ternyata angka tertinggi ada dua orang, masing-masing menulis 2,5 juta, yaitu Robi dan David. Aku tak tahu bagaimana harus menentukan pemenang. Bagiku bukan orangnya yang harus kupilih, tapi angkanya — toh melayani siapa pun sudah biasa bagiku.
Apakah diundi pakai koin, suit, atau lelang lanjutan? Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku tahu ada potensi untuk mendapatkan angka yang lebih besar dari yang tertulis, namun dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat terlalu mata duitan.
Kuminta Robi dan David mendekatiku.
"Sorry yang lainnya, sebagai juri aku harus menentukan siapa pemenangnya," kataku kepada yang lain.
Begitu mereka mendekat, kupeluk mereka berdua dan kuremas selangkangannya seakan menguji seberapa besar yang mereka punya. Ini hanyalah untuk mengalihkan perhatian yang lain dan juga untuk membuat kedua orang ini terhanyut dalam skenarioku.
"Aku tahu kamu menikmati saat aku dikeroyok di sofa tadi," bisikku sambil menatap mata mereka satu per satu, meski aku tak yakin betul mereka benar-benar menikmatinya.
"Kalau masing-masing mau menggandakan apa yang kamu tulis tadi, aku mau menemani kalian berdua bersamaan. Pasti jauh lebih heboh dari yang tadi, tapi tidak di tempat ini — kita bertiga saja. Kalau nggak mau, aku tawarkan pada yang lain," bisikku. Mereka berpandangan. Kuremas-remas semakin kuat kejantanannya dan kutempelkan tubuhku pada mereka seraya menggeser-geserkan buah dada, sekadar menggoyahkan logika mereka agar menuruti usulanku.
Usahaku berhasil. Mereka menyetujui tanpa berpikir lebih lama. Tentu saja, bagi mereka apalah artinya uang sebesar itu — ditambah tarif yang harus mereka urus dengan si GM — dibandingkan sensasi yang bakal mereka nikmati.
Kutatap mereka bergantian. Hanya anggukan yang kuterima sebagai jawabannya.
"Sorry, kami sepakat melanjutkan acara sendiri di luar. Kalian nggak keberatan, kan?" tanyaku sambil menggandeng Robi dan David keluar tanpa menunggu jawaban dari yang lain. Meskipun begitu, sempat kudengar teriakan "Huuu!", tapi aku tak peduli.
"Fren, bawa mobilku dulu," kata David sambil melempar kunci kontak ke arah temannya.
Dengan mengendarai si mata kucing, kami bertiga meluncur meninggalkan kawasan Galaxy menuju hotel terdekat.
"Aku belum pernah main rame-rame kayak gini," kata Robi yang sedang menyetir.
"Aku juga, meski pinginnya sih sudah lama," timpal David dari bangku belakang.
"Emang aku pernah — gara-gara kalian tadi aku jadi pingin nyoba," cetusku berbohong.
"Kalau aku nggak suka, boleh mundur kan?" tanya David lagi.
"Terserah, tapi janji tetap janji seperti yang ditulis tadi," godaku.
"Ly, kamu pindah ke belakang dong, jangan ganggu sopir," pinta Robi. Kami pun berhenti sebentar dan aku berpindah ke jok belakang. Aku tahu maksud Robi menyuruhku pindah.
"Awas kamu nanti, aku balas di kamar. Pokoknya aku yang duluan," ancam Robi sambil kembali menjalankan Mercy-nya dan mengatur kaca spion menghadap ke kami.
Begitu aku duduk di belakang, David langsung memelukku. Bersamaan, tangannya menjamah buah dadaku dan bibirnya mendarat di pipi dan leherku. Aku menggelinjang. Kusambut bibirnya saat menyentuh bibirku, kulumat dengan penuh gairah. Kaca film yang gelap menyembunyikan perbuatan kami dari pandangan luar.
Tangan David menyelinap di balik kaosku. Aku menolak saat dia minta kulepas — terlalu berani. Namun dengan terampilnya tangan itu melepas kaitan bra di punggungku. Buah dadaku sudah bergantung tanpa penyangga lagi, makin gemas dia meremas-remasnya. Jalanan Kertajaya mulai macet, memberi kesempatan lebih lama kepada David untuk menikmati tubuhku lebih dulu. Dengan menyingkap kaosku hingga ke dada, dia semakin berani dan mengulum kedua putingku bergantian. Aku pun mendesah dalam nikmat seraya mengeluarkan penisnya. Sesaat kulirik David di depan yang mengamati kami dari kaca spion — beruntung kemacetan jalanan tidak terlalu membutuhkan konsentrasi saat menyetir.
Aku tahu Robi sambil melirik dari depan, meremas-remas sendiri kejantanannya yang kuyakini sudah setegang batu karang. Namun aku tak bisa memperhatikan lebih jauh saat David menundukkan kepalaku pada selangkangannya. Sedetik kemudian penis David sudah keluar-masuk mulutku. Sambil menerima kulumanku, dia tak melepaskan remasannya pada buah dadaku, diiringi permainan di puting.
Tanpa kusadari, aku tidak lagi menolak ketika dia melepas kaosku hingga topless. Kulumanku semakin bergairah. Desahan David seakan mengundang temannya untuk segera bergabung. Aku tahu dia tak akan bertahan lebih lama lagi, maka semakin kupercepat kulumanku diselingi remasan-remasan menggoda, dan... muncratlah spermanya di dalam mulutku. Aku tak mau mengeluarkannya — kutahan penis itu tetap berada di mulutku hingga habis spermanya. Banyak sekali sperma yang tertumpah, meskipun aku berusaha menelan semua, tak bisa dihindari beberapa tetes mengalir keluar mengenai celananya. Kuremas-remas seakan memeras habis sisa-sisa sperma yang ada. Dia mengerang berusaha menarik kepalaku, tapi aku tak mau — malah kupermainkan lidahku di ujung penisnya.
"Ah, di sini sajalah, kalian sudah mulai duluan," kata Robi ketika tiba di depan Hotel Sahid.
"Jangan di sini, nggak enak. Sana saja di Garden Palace, lebih asyik," usulku ketika dia hendak belok kanan memasuki area hotel Sahid. Aku masih menjilati sisa-sisa sperma yang ada di penis David.
Ketika mobil memasuki halaman parkir Garden Palace, aku masih bertelanjang dada di pangkuan David. Dari belakang, Robi meremas-remas buah dadaku sambil mencium dan menjilati punggungku seakan tak pernah bosan menjamah tubuhku.
Entah apakah tukang parkir yang mengatur parkir bisa melihatku telanjang atau tidak, karena kaca depan memang terang. Segera aku turun dan mengenakan kaosku tanpa bra — yang sudah dikantungi David. Bertiga kami menuju lobi. David menggandengku dan menunggu di sofa saat Robi check-in di meja resepsionis.
Kuamati lobi hotel yang pernah menjadi "rumahku" selama tiga bulan saat aku menjadi "simpanan" Koh Wi. Tidak banyak yang berubah, bahkan mungkin tidak ada yang berubah. Beberapa bell boy dan satpam masih kukenali, dan tampaknya mereka pun masih mengenaliku.
Sesampainya di kamar di lantai 14, David — yang dari tadi sudah menahan birahinya — langsung memelukku hingga kami terjatuh ke ranjang. Bukannya berhenti, malah semakin ganas menggumuliku. Dengan kasar ditariknya kaosku dan dilempar ke arah temannya.
Celanaku pun meninggalkanku tak lama kemudian. Aku telanjang di depan dua pria yang masih berpakaian lengkap. Sesaat mereka membiarkanku telentang sendirian di ranjang. Dengan tergesa-gesa David melepas pakaiannya, dan begitu telanjang dia langsung melompat ke atasku. Kusambut dengan pelukan dan ciuman hangat. Bibir dan lidah kami saling bertaut menyalurkan getaran-getaran birahi. Begitu ganas David mencumbuiku — entah karena tipenya atau karena tak mampu lagi menahan birahi sejak kejadian di rumah Indra tadi. Yang jelas, ciumannya sangat liar, namun justru membuatku semakin bergairah. Lidahnya menyusuri tubuhku dari leher, turun dan berhenti di buah dada, lalu turun lagi hingga selangkangan — tapi dia tidak melakukan oral, mungkin masih ragu karena sperma temannya telah membasahi tadi. Ciumannya kembali naik setelah sampai di klitoris.
Kami berpelukan bergulingan hingga hampir jatuh. Kuminta dia telentang dan diam saja menikmati kenikmatan yang akan kuberikan. Mula-mula kujilati putingnya — aku membalas seperti apa yang dia lakukan padaku tadi. Dia masih terdiam menahan desahan. Namun begitu lidahku menyentuh lipatan pahanya, desahan lirih mulai terdengar dan semakin keras ketika kuremas kejantanannya sambil menjilati kepala penisnya yang tidak disunat. Akhirnya dia pun mendesah lepas saat lidahku menjilati dan menyusuri sekujur batang kemaluan hingga ke kantong bola dan menyentuh lubang anus. Kubuka lebar dan kuangkat kakinya ke atas hingga aku lebih bebas menjilati daerah seputar lubang pembuangannya. Dia menjerit semakin keras, tak menyangka mendapat servis seperti itu — servis yang tak kuberikan pada temannya sebelumnya — apalagi tanganku tak pernah berhenti mengocok penisnya.
Kurasakan elusan di punggungku. Ternyata Robi sudah telanjang dan bersiap ikut menikmati tubuhku. Kuminta dia telentang di samping David untuk mendapatkan servis yang sama, tapi dia menolak — malah menciumi pantatku yang sedang menungging. Robi mencium vaginaku dari belakang, sesekali menyentuh lubang anusku. Sama seperti David, aku pun tak menyangka dia akan melakukan itu. Aku mendesah sambil terus menjilati David.
Cukup lama aku menjilat dan dijilat di tempat yang sama. Kemudian kurasakan penis Robi menyapu vaginaku dari belakang, disusul dorongan pelan yang mengua liang kenikmatanku. Aku beranjak dari posisiku — belum tiba saatnya. Aku ingin pemanasan yang lama dengan dua laki-laki ini. Kurebahkan tubuhku telentang di samping David dan kubuka kakiku lebar mengundang untuk dikulum.
David, yang dari tadi hanya telentang, menyerobot posisi temannya. Dia segera menyusupkan kepalanya di selangkanganku — rupanya ingin membalas perlakuanku. Aku mendesah nikmat kala bibir dan lidahnya menyentuh klitorisku, dan semakin keras saat Robi ikut mendaratkan lidahnya pada putingku bergantian.
Dua lidah laki-laki bermain di dua daerah sensitifku sekaligus. Sungguh kenikmatan yang tak terbayangkan, begitu indah rasanya. Apalagi permainan lidah David tak kalah liar dengan Robi yang menari-nari di vagina. Kukocok keras penis Robi yang berada dalam genggamanku — dia pun ikut mendesah.
Robi menggumuli bagian atas tubuhku dengan penuh gairah: mengulum putingku, melumat bibir sambil meremas kedua buah dadaku, menciumi leher hingga kembali ke puting. Rasanya tidak satu sentimeter pun tubuhku yang terlewatkan dari sapuan bibir dan lidahnya. David yang berada di bawah juga tak kalah liarnya, menyusuri bagian bawah tubuhku — dari jilatan di klitoris menyebar ke bibir vagina, hingga ke lipatan paha dan paha dalam, lalu kembali lagi ke vagina dan sekitar dubur. Semua dilakukan bersamaan dengan temannya, seperti paduan keahlian dan gerak tari lidah yang terpadu di atas tubuhku — sungguh permainan yang penuh gelora birahi tinggi.
"Oke, siapa duluan?" tantangku setelah merasakan serbuan liar bertubi-tubi dari bibir dan lidah mereka, agak kewalahan menikmati permainan oral mereka. Mereka berpandangan seakan tidak ada yang mau mengalah.
"Kalian berunding dulu dan jangan berantem. Semua pasti kebagian, tunggu dulu ya," kataku menggoda sambil turun dari ranjang mengambil kondom dari tas Eigner-ku yang selalu siap.
"Pakai ini dulu, kecuali kalian mau sama-sama tidak pakai," kataku sambil meletakkan beberapa bungkus kondom di atas ranjang. Aku kembali telentang menunggu siapa yang beruntung mendapatkan vaginaku terlebih dahulu.
"Kamu yang pilih deh," kata David.
"Nggak," jawabku singkat sambil mendesah pelan, memainkan klitorisku sendiri dengan tangan. Selain untuk menggoda mereka, aku tak mau gairahku drop hanya karena menunggu mereka berebut. Tentu saja kedua laki-laki itu semakin sengit berebut. Mereka berunding berbisik. Aku tak peduli sambil mendesah semakin keras, melanjutkan kocokan jariku yang sudah keluar-masuk vagina.
Bersambung...