Berbagi Pelangi
Berbagi Pelangi
Aku kembali ke ruang keluarga untuk pamit dan minta dipanggilkan taksi, atau ikut salah satu dari mereka saat pulang nanti, karena jarang sekali taksi yang lewat daerah ini.
"Ly, kami sepakat lanjut, gimana?" tanya salah seorang dari mereka.
"Aku sih terserah saja, tapi sama siapa?" tanyaku. Mereka saling berpandangan seakan tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu, dan tak ada yang mengalah untuk memberikan kesempatan ini pada temannya.
Setelah berunding beberapa lama, akhirnya aku usulkan untuk diadakan lelang—dijadikan objek pelelangan aku sih oke saja. Penawar tertinggi akan mendapatkan tubuhku, di luar urusan pembayaran dengan GM; jadi yang dilelang adalah tips yang akan aku terima.
Serempak mereka menulis angka-angka di kertas tisu dan menyerahkannya padaku sebagai juri. Satu per satu kubuka, kuumumkan nama dan jumlah yang ditulis. Ternyata angka tertinggi ada dua orang—masing-masing menulis 2,5 juta—yaitu Robi dan David. Aku tak tahu bagaimana harus menentukan pemenang; bagiku bukan orangnya yang harus kupilih, tapi angkanya. Toh melayani siapa saja sudah biasa bagiku.
Apakah diundi pakai koin, suit, atau lelang lanjutan, aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku tahu ada potensi untuk mendapatkan angka yang lebih besar dari yang tertulis—dengan cara yang lebih halus dan tidak terlihat terlalu mata duitan.
Kuminta Robi dan David mendekatiku.
"Sorry lainnya, sebagai juri aku harus menentukan siapa pemenangnya," kataku pada yang lain.
Begitu mereka mendekat, kupeluk mereka berdua dan kuremas selangkangannya seakan menguji seberapa besar yang mereka punya. Ini hanyalah untuk mengalihkan perhatian yang lain dan juga untuk membuat keduanya terhanyut dalam skenarioku.
"Aku tahu kamu menikmati saat aku dikeroyok di sofa tadi," bisikku sambil menatap mata mereka satu per satu, meski aku tak yakin betul mereka benar-benar menikmatinya.
"Kalau masing-masing mau menggandakan apa yang kamu tulis tadi, aku mau menemani kalian berdua bersamaan—pasti jauh lebih heboh dari yang tadi. Tapi tidak di tempat ini; kita bertiga saja. Kalau tidak mau, aku tawarkan pada yang lain," bisikku. Mereka berpandangan. Kuremas-remas makin kuat kejantanannya dan kutempelkan tubuhku pada mereka seraya menggeser-geserkan buah dada—sekadar menggoyahkan logika mereka supaya menuruti usulanku.
Usahaku berhasil; mereka menyetujui tanpa berpikir lebih lama lagi. Tentu saja bagi mereka apalah artinya uang sebesar itu, ditambah tarif yang harus diurus dengan si GM, apabila dibandingkan sensasi yang bakal mereka nikmati.
Kutatap mereka bergantian; hanya anggukan yang kuterima sebagai jawabannya.
"Sorry, kami sepakat melanjutkan acara sendiri di luar. Kalian tidak keberatan kan?" tanyaku sambil menggandeng Robi dan David keluar tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya. Meskipun begitu, sempat kudengar teriakan "Huu," tapi aku tak peduli.
"Fren, bawa mobilku dulu," kata David sambil melempar kunci kontak ke arah temannya.
Dengan mengendarai si mata kucing, kami bertiga meluncur meninggalkan kawasan Galaxy menuju hotel terdekat.
"Aku belum pernah main rame-rame kayak gini," kata Robi yang sedang menyetir.
"Aku juga, meski pinginnya sih sudah lama," timpal David yang duduk di belakang.
"Emang aku pernah—gara-gara kalian tadi aku jadi ingin nyoba," cetusku berbohong.
"Kalau aku tidak suka, boleh mundur kan?" tanya David lagi.
"Terserah, tapi janji tetap janji seperti yang ditulis tadi," godaku.
"Ly, kamu pindah belakang dong, jangan ganggu sopir," pinta Robi. Kami pun berhenti sebentar dan aku berpindah ke jok belakang. Aku tahu maksud Robi menyuruhku pindah.
"Awas kamu nanti, aku balas di kamar. Pokoknya aku yang duluan," ancam Robi sambil kembali menjalankan Mercy-nya dan mengatur kaca spion menghadap ke kami.
Begitu aku duduk di belakang, Robi memelukku; bersamaan tangannya menjamah buah dadaku dan bibirnya mendarat di pipi dan leher. Aku menggelinjang. Kusambut bibirnya saat menyentuh bibirku; kulumat dengan penuh gairah. Kaca film yang gelap menyembunyikan perbuatan kami dari pandangan luar.
Tangan Robi menyelinap di balik kaosku; aku menolak saat dia minta kulepas—terlalu berani. Dengan terampilnya tangan itu melepas kaitan bra di punggung; buah dadaku sudah bergantung tanpa penyangga lagi, makin gemas dia meremas-remasnya. Jalanan Kertajaya mulai macet, memberi kesempatan lebih lama pada Robi untuk menikmati tubuhku lebih dulu. Dengan menyingkap kaos hingga ke dada, dia semakin berani dan mengulum kedua putingku bergantian; aku pun mendesah dalam nikmat seraya mengeluarkan penisnya. Sesaat kulirik mata David mengamati kami dari kaca spion—beruntung macetnya jalanan tidak terlalu membutuhkan konsentrasi saat menyetir.
Aku tahu sambil melirik, David meremas-remas sendiri kejantanannya yang kuyakini sudah setegang batu karang. Namun aku tidak bisa memperhatikan lebih jauh saat Robi menundukkan kepalaku ke selangkangannya. Sedetik kemudian penis Robi sudah keluar-masuk mulutku; sambil menerima kulumanku, dia tak melepaskan remasannya pada buah dada, diiringi permainan di puting.
Tanpa kusadari, aku tidak lagi menolak ketika dia melepas kaosku hingga topless. Kulumanku semakin bergairah; desahan Robi seakan mengundang temannya untuk segera bergabung. Aku tahu dia tidak akan bertahan lebih lama lagi, maka semakin kupercepat kulumanku diselingi remasan-remasan menggoda. Dan... muncratlah spermanya di dalam mulutku. Aku tidak mau mengeluarkannya; kutahan penis itu tetap berada di mulut hingga habis spermanya. Banyak sekali sperma yang ditumpahkan ke mulut; meskipun aku berusaha menelan semuanya, tidak bisa dihindari beberapa tetes mengalir keluar mengenai celananya. Kuremas-remas seakan memeras habis sisa-sisa sperma yang ada; dia mengerang berusaha menarik kepalaku tapi aku tidak mau—malahan kupermainkan lidahku di ujung penisnya.
"Ah di sini sajalah, kalian sudah mulai duluan," kata David ketika tiba di depan Hotel Sahid.
"Jangan di sini, tidak enak. Di situ saja di Garden Palace, lebih asyik," usulku ketika dia hendak belok kanan memasuki area hotel Sahid. Aku masih menjilati sisa-sisa sperma yang masih ada di penis Robi.
Ketika mobil memasuki halaman parkir Garden Palace, aku masih bertelanjang dada di pangkuan Robi. Dari belakang dia meremas-remas buah dadaku sambil mencium dan menjilati punggungku seakan tidak pernah bosan menjamah tubuhku.
Entahlah apakah tukang parkir yang mengatur parkir bisa melihatku telanjang atau tidak karena kaca depan memang terang. Segera aku turun dan mengenakan kaosku tanpa bra—yang sudah dikantongi Robi. Bertiga kami menuju lobi; David menggandengku dan menunggu di sofa saat Robi check-in di meja resepsionis.
Kuamati lobi hotel yang sempat menjadi "rumahku" selama tiga bulan saat aku menjadi "simpanan" Koh Wi. Tak banyak yang berubah; beberapa bellboy dan satpam masih kukenali, dan mereka tampaknya masih mengenaliku—mungkin karena penampilanku memang tidak banyak berubah.
Sesampai di kamar di lantai 14, David yang dari tadi sudah menahan birahinya langsung memelukku hingga kami terjatuh ke ranjang. Bukannya berhenti, malah semakin ganas menggumuliku. Dengan kasar ditariknya lepas kaosku dan dilemparkan ke arah temannya.
Celanaku pun meninggalkanku tak lama kemudian; aku telanjang di depan kedua pria yang masih berpakaian lengkap. Sesaat mereka membiarkanku telentang sendirian di ranjang. Dengan tergesa-gesa David melepas pakaiannya; begitu telanjang dia langsung melompat ke atasku. Kusambut dengan pelukan dan ciuman hangat; bibir dan lidah kami saling bertaut menyalurkan getaran-getaran birahi. Begitu ganas David mencumbuiku—entah karena tipenya atau karena tak mampu lagi menahan birahi sejak kejadian di rumah Indra tadi. Yang jelas ciumannya sangat liar, namun justru membuatku semakin bergairah. Lidahnya menyusuri tubuhku, dari leher turun dan berhenti di buah dada, lalu turun lagi hingga selangkangan—tapi dia tidak melakukan oral, mungkin masih ragu karena sperma temannya telah membasahi saat di rumah Indra. Ciumannya kembali naik setelah sampai di klitoris.
Kami berpelukan bergulingan hingga hampir jatuh. Kuminta dia telentang dan diam saja menikmati kenikmatan yang akan kuberikan. Mula-mula kujilati putingnya—aku membalas seperti apa yang dia lakukan padaku tadi. Dia masih terdiam menahan desahan, namun begitu lidahku menyentuh lipatan pahanya, desahan lirih mulai terdengar, dan semakin keras ketika kuremas kejantanannya sambil menjilati kepala penisnya yang tidak disunat. Akhirnya dia pun mendesah lepas saat lidahku menjilati dan menyusuri sekujur batang kemaluan hingga ke kantong bola dan menyentuh lubang anus. Kubuka lebar dan kuangkat kakinya ke atas hingga aku lebih bebas menjilati daerah seputar lubang pembuangannya; dia menjerit semakin keras, tak menyangka mendapat servis seperti itu—servis yang tak kuberikan pada temannya sebelumnya. Apalagi tanganku tak pernah berhenti mengocok penisnya.
Kurasakan elusan di punggungku; ternyata Robi sudah telanjang, bersiap ikutan menikmati tubuhku. Kuminta dia telentang di samping David untuk mendapatkan servis yang sama, tapi dia menolak—malahan menciumi pantatku yang sedang nungging. Robi menciumi vaginaku dari belakang, sesekali menyentuh lubang anusku. Seperti halnya David, aku pun tak menyangka dia akan melakukan itu; aku pun mendesah sambil menjilati David.
Cukup lama aku menjilat dan dijilat di tempat yang sama. Kemudian kurasakan penis Robi menyapu vaginaku dari belakang, disusul dorongan pelan menguak liang kenikmatanku. Aku beranjak dari posisiku—belum tiba saatnya. Aku ingin pemanasan yang lama dengan dua laki-laki ini. Kurebahkan tubuhku telentang di samping David dan kubuka kakiku lebar, mengundang untuk dikulum. David yang dari tadi hanya telentang menyerobot posisi temannya; dia segera menyusupkan kepalanya di selangkanganku—rupanya dia ingin membalas perlakuanku. Aku mendesah nikmat dikala bibir dan lidahnya menyentuh klitorisku, dan semakin keras saat Robi ikut mendaratkan lidahnya pada putingku bergantian.
Dua lidah laki-laki bermain di kedua area sensitifku—sungguh kenikmatan yang tak terbayangkan, begitu indah rasanya. Apalagi permainan lidah David tak kalah liar dengan Robi yang menari-nari di vagina. Kukocok keras penis Robi yang berada dalam genggamanku; dia pun ikut mendesah.
Robi menggumuli bagian atas tubuhku dengan penuh gairah—mengulum putingku, melumat bibir sambil meremas kedua buah dadaku, menciumi leher hingga kembali ke puting. Rasanya tidak satu sentimeter pun tubuhku yang terlewatkan dari sapuan bibir dan lidahnya. David yang berada di bawah juga tak kalah liarnya: menyusuri bagian bawah, dari jilatan di klitoris menyebar ke bibir vagina hingga ke lipatan paha dan paha dalam, terus kembali lagi ke vagina dan sekitar dubur. Semua dilakukan bersamaan dengan temannya, seperti paduan antara keahlian dan gerak tari lidah yang terpadu di atas tubuhku—sungguh permainan yang penuh gelora birahi tinggi.
"Oke, siapa duluan?" tantangku setelah merasakan serbuan liar bertubi-tubi dari bibir dan lidah mereka—agak kewalahan juga menikmati permainan oral mereka. Mereka berpandangan seakan tidak ada yang mau mengalah.
"Kamu berunding saja dulu dan jangan berantem; semua pasti kebagian. Tunggu dulu ya," kataku menggoda, sambil turun dari ranjang mengambil kondom dari tas Eigner-ku yang selalu siap.
"Pakai ini dulu, kecuali kalian mau sama-sama tidak pakai," kataku sambil meletakkan beberapa bungkus kondom di atas ranjang. Aku kembali telentang menunggu siapa yang beruntung mendapatkan vaginaku terlebih dahulu.
"Kamu yang pilih deh," kata David.
"Tidak," jawabku singkat sambil mendesah pelan, mempermainkan klitorisku sendiri dengan tangan. Selain untuk menggoda mereka, aku tidak mau gairahku drop hanya karena menunggu mereka berebut. Tentu saja kedua laki-laki itu semakin sengit berebut. Mereka berunding berbisik; aku tidak peduli sambil mendesah semakin keras, melanjutkan kocokan jariku yang sudah keluar-masuk vagina.
Bersambung . . .