18px

Budak Pemuasku (Bagian 1): Seleksi dan Rekrutmen

Budak Pemuasku (Bagian 1): Seleksi dan Rekrutmen

Saya adalah seorang wanita, single, dan telah delapan tahun bekerja di sebuah perusahaan multinasional yang terkenal. Mungkin para pembaca mengetahuinya; sebagai pekerja di perusahaan besar, karir kita tidak akan pernah mencapai posisi puncak. Posisi itu biasanya diisi oleh seorang ekspatriat yang ditunjuk langsung oleh kantor pusat di luar negeri.

Selama delapan tahun saya terus berambisi dan bekerja keras untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, di mana bukan hanya imbalan materi dan fasilitas yang lebih baik, tetapi juga kekuasaan yang lebih. Hal kedua ini lebih condong untuk kepuasan batin.

Saya rasakan bahwa hal ini lumrah bagi manusia — hasrat untuk mendapatkan lebih. Namun setiap orang mempunyai hasrat dan ambisi yang berbeda-beda, ditambah faktor talenta, kemauan kerja keras, dan keberuntungan, sehingga tidak semua orang akan mencapai level yang sama.

Di tempat saya bekerja, saya terkadang merasa tertekan karena atasan saya selalu menganggap saya sebagai budaknya dan segala hasil kerja keras saya selalu diambil kreditnya. Sebagai wanita, kami juga sering diremehkan — bukan secara seksual dalam kasus saya, melainkan dalam hal batas kemampuan dan kelemahan kami. Saya mengerti bahwa di dunia ini sudah menjadi kenyataan: ada kecenderungan pria dianggap lebih unggul dalam segala hal.

Oleh karena hal tersebut, saya berkesimpulan bahwa akar dari kesukaan saya untuk menjadi seorang Domina dalam fantasi permainan seks mungkin berawal dari ketidakpuasan di tempat kerja. Permainan fantasi ini seakan membalaskan dendam saya atas ketidakpuasan itu, sehingga secara kejiwaan saya bisa sangat menikmati dan merasa puas bila melihat seorang pria tidak berdaya dan menurut atas kemauan saya — apalagi ketidakberdayaannya itu dilakukannya sendiri dengan sukarela dan senang hati.

Pertanyaan dari para pembaca yang menanyakan sebab dari kesukaan saya ini semoga sudah terjawab dengan jelas dari penjelasan yang saya ungkapkan sejujur-jujurnya di atas.

Cukup sudah penjelasan mengenai latar belakang kesukaan saya. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman dengan seorang pria yang kebetulan cocok dengan fantasi saya, sekaligus cocok selera dari segi fisik maupun sifatnya.

Seleksi dan Rekrutmen

Pertemuan saya dengan budak cowok baru saya ini berawal dari email. Setelah pemuatan cerita saya yang berjudul "Pemijat Submissive", banyak sekali cowok yang berkirim surat meminta dijadikan budaknya. Namun dari sekian banyak email, saya memilih beberapa saja yang saya balas, dan dari balasan itu saya menyeleksi ulang para pendaftar.

Kriteria pemilihan saya terutama adalah orang yang cerdas, berpikiran terbuka, dan benar-benar menghayati perannya sebagai seorang budak. Kemudian saya juga memeriksa latar belakang dari segi materi, kebersihan, dan status perkawinan. Saya sengaja mencari orang dengan status sosial yang cukup tinggi, sudah menikah, dan mapan. Pertimbangan ini dipilih untuk menjaga privasi saya, karena saya yakin seseorang dengan kriteria tersebut juga ingin identitasnya dijaga — sehingga kami bisa saling menjaga privasi.

Dari proses penyaringan itu akhirnya saya memilih satu kandidat yang cukup memadai: namanya Anwar. Dia seorang Tionghoa yang cukup mapan, berasal dari keluarga terhormat, sudah menikah, dan berusia 32 tahun. Setelah kurang lebih satu bulan saling mengenal melalui telepon dan email, saya merasa sudah cukup nyaman untuk bertemu langsung dengannya.

Pertemuan kami atur di sebuah mal besar di Jakarta Barat yang terkenal dan ramai, pada hari dan jam kerja, di sebuah kedai kopi.

Saya sengaja datang 60 menit lebih awal untuk mempelajari situasi dan menyiapkan jalan keluar bila ternyata si Anwar tidak cocok dengan deskripsi yang dia berikan. Terus terang, saya sangat gugup waktu itu.

Sambil duduk minum cafe latte yang sudah dihidangkan, saya berharap-harap cemas menunggu. Jantung saya berdebar keras, dan efek kopi sepertinya membuatnya semakin parah. Tiba-tiba telepon saya berdering — rasanya jantung saya hampir copot. Kami sudah berjanji untuk saling menelepon bila sudah dekat di lokasi.

"Hello Mbak, saya Anwar..."
"Oh iya... Sudah di mana kamu?" desahku sambil gemetar.

Sambil menjawab saya melihat ke sekeliling kedai kopi. Saat itu saya melihat seorang cowok yang sedang berdiri dan celingukan sambil menelepon. Mata kami beradu dan dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Seketika saya langsung tahu bahwa cowok itu adalah Anwar — sepertinya sudah saya kenal walau hanya melalui telepon dan email. Dia berjalan menghampiri saya sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan.

Pertemuan yang mendebarkan itu ternyata cukup menyenangkan. Saya seketika merasa nyaman di dekat Anwar setelah mengobrol ngalor-ngidul tentang kehidupan kami. Orangnya sangat berpikiran terbuka, pintar, dan sedikit pemalu. Secara fisik cukup menarik: tingginya sekitar 180 cm, kulitnya putih kecoklatan, rambut pendek, badan cukup berisi — hanya sedikit gemuk di sekitar pinggang.

Tanpa terasa kami sudah mengobrol selama satu jam. Selama mengobrol, mata kami saling bertatapan dan saya melihat ketulusan di sorot matanya. Sesekali dia menundukkan mata bila saya bertanya hal yang sangat pribadi — saya merasa berada di atas angin dan mendominasi pembicaraan. Bahan pembicaraan kami sama sekali tidak menyinggung permainan seks yang kami gemari, melainkan lebih banyak ke keluarga, pekerjaan, dan hal-hal lainnya. Kami bisa saling terbuka tentang kehidupan masing-masing, dan kepercayaan saya kepada dia semakin meningkat.

Setelah pertemuan itu, kami berjanji untuk saling menghubungi melalui email dan telepon untuk pertemuan berikutnya. Mungkin kami malu untuk memulai pembicaraan tentang fantasi permainan yang kami sukai secara langsung — bagaimanapun ini adalah pertemuan pertama kami.

Setibanya di rumah, saya langsung menyalakan notebook dan mulai menulis email untuk Anwar. Isinya menyatakan bahwa saya ingin menjadikannya seorang budak seks yang mengabdikan badan dan jiwanya kepada saya sebagai Mistress-nya, tentunya dengan batas-batas tertentu yang dia miliki. Untuk itu saya menanyakan komitmennya dan batas-batas yang disanggupi.

Dalam email itu saya juga menulis semacam pernyataan atau perjanjian mengenai kerahasiaan dan kebersihan, yang harus dilengkapi dengan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai bukti bebasnya dia dari penyakit kelamin — sebagai syarat saya untuk menjadikannya budak seks saya.

Setelah kurang lebih satu minggu — yang terasa sangat lama — saya mendapatkan email balasan dari Anwar. Dengan berdebar-debar saya mulai membukanya. Dia menyanggupi segala syarat dan keinginan saya, bahkan melampirkan hasil scan pemeriksaan laboratorium yang meluluskannya dari penyakit-penyakit kelamin. Dia sangat ingin segera mengabdikan diri untuk saya, dan juga menuliskan batasan-batasan yang diinginkannya.

Batasan-batasan yang diberikannya cukup bisa dimengerti. Batasan utama adalah mengenai kerahasiaan: permainan hanya berlaku di tempat yang aman dan tertutup, dan di luar itu hubungan kami tetap hanya sebagai teman biasa — sehingga "public humiliation" tidak bisa diterapkan. Batasan lainnya menyangkut penyiksaan yang sampai menimbulkan luka permanen atau mengeluarkan darah, karena dapat meninggalkan bekas dan berbahaya. Ada pula batasan untuk permainan "force feminization", yakni mendandaninya dengan pakaian perempuan. Sebagai pengamanan, kami juga mempunyai kata kode: bila salah satu dari kami mengucapkannya, semua permainan langsung berakhir.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya