Budak Pemuasku (Bagian 2): Permainan Dimulai
Budak Pemuasku (Bagian 2): Permainan Dimulai
Setelah semua formalitas dibicarakan dan disepakati, tibalah saatnya saya menikmati budak seks baru yang saya rekrut. Kami berjanji bertemu di sebuah hotel di Jakarta pada jam kerja, setelah makan siang hingga sore hari. Instruksi-instruksi persiapan saya kirimkan melalui SMS dan email.
Saya menginstruksikan dia untuk menyediakan sebuah rantai anjing berkulit beserta penuntunnya, jepitan baju, lilin putih besar, sebatang penggaris kayu, beberapa dasi tua, borgol besi satu pasang, sarung tangan lateks, dan KY Jelly. Saat menuliskan itu, jantung saya berdebar-debar dan muka saya terasa panas karena sudah membayangkan hal-hal yang akan saya lakukan padanya. Imajinasi saya berlari ke mana-mana, dan gambaran siksaan-siksaan yang akan saya ciptakan membuat saya sangat bergairah.
Pada hari yang sudah disepakati, pagi-pagi sekali saya menelepon kantor untuk meminta izin tidak masuk, dan sudah mengalihkan semua jadwal hari itu ke keesokan harinya. Asisten pribadi saya sudah saya beritahu bahwa hari ini ada keperluan mendesak di luar kantor, sehingga semua urusan saya delegasikan kepadanya.
Empat jam sebelum waktu yang disepakati, saya mengirim SMS ke Anwar berisi detail persiapan yang harus dia lakukan, agar saat saya tiba di kamar hotel dia sudah siap melayani saya. Saya memintanya untuk mandi bersih — kalau perlu luluran — lalu berdiri menunggu di depan pintu dalam kamar hotel dalam keadaan telanjang bulat, mengenakan rantai anjing di lehernya, dengan mata tertutup rapat oleh sebuah dasi hitam. Saya juga meminta rantai anjing itu dililitkan di sekeliling lehernya, dengan kulit penuntunnya digigit di mulutnya.
Sekitar pukul 12 siang saya menerima SMS dari Anwar: "Saya sudah siap dan sedang menunggu di kamar 1811 untuk digunakan oleh kamu." Membaca kata-kata itu, darah saya terkesiap dan bulu tengkuk saya merinding membayangkan kenikmatan yang akan saya peroleh.
Saya bergegas mengenakan pakaian dalam renda berwarna hitam, dibalut blus putih tipis serta satu stel blazer dan rok abu-abu tua. Saya juga menyemprotkan wewangian ke seluruh tubuh sehingga meninggalkan aroma yang semerbak menggoda setiap kali melangkah. Setelah berdandan, dengan tergesa-gesa saya mengambil kunci mobil dan menyetir ke hotel — jarak yang hanya ditempuh sekitar 15 menit.
Permainan Dimulai
Tibalah saya di depan pintu kamar hotel. Saya menekan bel. Seketika pintu dibuka — ini menandakan budak saya sudah dengan tepat mengikuti instruksi saya. Segera saya masuk, menutup pintu, dan mengunci rantai pintu dari dalam.
Di depan saya berdiri seorang pria — budak pemuas saya — dengan posisi tegap, tangan silang di belakang punggung dan kaki sedikit terbuka. Kelihatannya dia sangat menghayati perannya sebagai budak. Penisnya sudah setengah ereksi, mungkin karena antisipasi yang menumpuk menunggu kedatangan saya. Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Selama kurang lebih dua menit saya mempelajari tubuh yang akan saya gunakan dalam empat hingga lima jam ke depan.
Saya sengaja menginstruksikan Anwar mengenakan penutup mata agar dia tidak bisa melihat ekspresi wajah saya yang mungkin sedikit gugup atau tersenyum geli melihatnya menggunakan rantai anjing dan menggigit kulit penuntun berwarna merah itu. Saya tidak mau wibawa saya hilang karenanya. Lagipula, saya pikir bagi dia sensasinya justru lebih besar bila dia tidak bisa melihat siapa yang datang menggunakan tubuhnya.
Perlahan-lahan saya ambil kulit penuntun rantai anjing yang digigitnya dan melepaskan beberapa lilitan rantai besi dari lehernya, kemudian menuntunnya ke tengah ruangan, di depan tempat tidur. Dengan posisi berdiri yang sama dan kepala menunduk, dia diam menurut.
Saya berjalan perlahan mengelilinginya sambil memeriksa dan menginspeksi tubuhnya yang putih kecoklatan dan bersih itu. Sesekali saya membelai-belai tubuhnya untuk memastikan dia sudah luluran dan mandi bersih. Dengan lembut dan perlahan saya juga meremas penis dan kantungnya untuk merasakan kejantanannya, dan menciumi dadanya dengan lembut untuk merasakan aroma tubuh yang sebentar lagi akan saya nikmati seenak-enaknya.
Anwar pasrah dan diam saja. Saya bisa merasakan bahwa dia sangat bersemangat dengan perlakuan saya itu; sesekali dia melenguh keenakan saat saya menyentuh bagian-bagian sensitif tubuhnya. Setelah kurang lebih 10 menit melakukan inspeksi dan puas dengan hasilnya, saya duduk di depannya di pinggiran ranjang.
"Sekarang kamu berlutut!" perintahku.
Dengan patuh dia menjatuhkan lututnya di atas karpet, mata masih tertutup dan kepala menunduk.
Kemudian dengan lembut namun tegas saya berkata di depan mukanya:
"Mulai detik ini, kamu adalah budak saya. Badan dan jiwa kamu menjadi milik saya sampai sesi ini selesai. Kamu tidak berhak lagi atas badanmu — penis kamu, lidah kamu, muka kamu, tangan kamu, kaki kamu, semuanya untuk memuaskan saya. Kamu mengerti?"
"Saya mengerti. Silakan Ibu memakai badan saya untuk kesenangan dan kepuasan Ibu dengan seenak-enaknya dan seegois-egoisnya tanpa memikirkan saya sama sekali. Semoga saya dapat memberikan kenikmatan buat Ibu. Bila tidak, silakan saya dihukum dan disiksa," jawabnya dengan gemetar.
"Oke. Bagus."
"Mulut kamu juga tidak boleh bicara tanpa izin, kecuali bila saya mengajukan pertanyaan. Kalau tidak, badanmu akan saya siksa," lanjutku.
Dia menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Saya beranjak berdiri sambil melepas blazer agar lebih nyaman. Saya mengacuhkan keadaan budak saya yang masih berlutut telanjang di kamar hotel — seakan dia hanyalah sebuah benda bernapas yang berfungsi untuk saya nikmati kapan saja saya mau. Saya berjalan-jalan di kamar, melihat-lihat pemandangan di luar jendela, menyalakan TV dan memilih-milih saluran yang bagus sambil tiduran. Kemudian perhatian saya tertuju pada sebuah tas gym berwarna hitam yang tergeletak di sudut kamar.
Satu per satu saya keluarkan barang-barang dari dalam tas itu dan saya susun di atas ranjang. Salah satunya adalah borgol besi. Saya ambil dan saya kenakan borgol itu ke kedua tangannya di belakang punggung budakku yang masih berlutut.
Sambil memasang borgol, saya berkata:
"Saya suka melihat budak kesayangan saya menderita kesakitan dan tidak berdaya. Jadi sekarang kamu akan saya siksa meskipun kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Penderitaanmu membuat saya terangsang. Kamu senang kan diperlakukan begini?"
"Silakan, Bu. Saya senang sekali."
Saya ambil beberapa penjepit pakaian, lalu saya cubit putingnya dan saya jepitkan masing-masing satu penjepit di setiap puting. Belum puas melihat ringisan di mukanya, saya ambil lagi beberapa jepitan dan saya jepitkan di kantung tempat dua biji penisnya berada. Reaksinya sungguh luar biasa: setiap kali saya menjepitkan satu jepitan, dia melenguh kesakitan dan kakinya bergerak-gerak, sehingga ada beberapa jepitan yang jatuh dengan bunyi "snap".
"Jangan bergerak-gerak! Atau nanti penis kamu saya jepit juga!" tegurku sambil menjambak rambutnya.
Dengan patuh dia berusaha diam dan menahan sakit. Terlihat dia mulai menggigit bibir bawahnya dan tubuhnya gemetar; peluh mulai membasahi tubuhnya yang seksi.
Saya duduk di depannya, tersenyum menikmati hasil kreasi saya. Jepitan baju berwarna-warni memenuhi area sekitar penisnya, dan sepasang jepitan menggantung di putingnya.
Kemudian saya memerintahkan dia melakukan jongkok-berdiri sebanyak 20 kali dengan badan tegak lurus, sambil menghitung keras-keras.
"Satu... Dua... Tiga..." dan seterusnya.
Napasnya mulai terengah-engah dan keringat mulai membanjiri tubuhnya, menimbulkan kilap pada otot-ototnya yang seksi itu. Sesekali karena gerakan jongkok-berdiri itu beberapa jepitan lepas, dan setiap jepitan lepas budak saya menggumam menahan rasa sakit. Oh, rasanya nikmat sekali melihatnya seperti itu. Saya mulai bergairah dan basah karenanya.
Setelah selesai, saya suruh dia berdiri. Saya berjalan mengitarinya sambil membelai-belai tubuhnya yang basah oleh keringat, sesekali menyuruhnya menjilati jari-jari saya yang ikut basah saat meraba tubuhnya.
Saya mengambil handuk kecil dari kamar mandi, lalu melepaskan borgol dan penutup matanya. Saya serahkan handuk itu sambil berkata:
"Bersihkan keringat di badanmu. Sekarang kamu harus puaskan saya. Ayo, kalau sudah selesai mengeringkan keringatmu, buka bajuku satu per satu dan gantung dengan rapi — jangan sampai ada yang lecek."
Dengan patuh dia mulai mengelap tubuhnya yang berkeringat, kemudian dengan kepala menunduk dia menghampiri saya.
"Ayo, sekarang buka bajuku."
"Baik, Bu... Maaf, permisi, Bu..."
Bersambung...