Budak Pemuasku (Bagian 3): Penutup
Budak Pemuasku (Bagian 3): Penutup
Tangannya satu per satu dengan lembut membuka kancing blus saya. Kelihatannya dia sangat menyukai tubuh saya yang mulus dan wangi — terlihat penisnya mulai berdiri dan mengangguk-angguk kesenangan.
Setelah saya telanjang bulat dan semua pakaian saya tergantung rapi di lemari, saya menyuruhnya nungging di atas ranjang dengan kaki terbuka dan tangan ke belakang. Kemudian saya kenakan kembali borgol besi ke tangannya di belakang punggung. Lalu saya sendiri tiduran setengah duduk di sampingnya sambil memegang-megang tubuhnya yang dalam posisi pasrah itu. Penisnya saya tarik-tarik, betot-betot, dan kocok-kocok — seakan memerah sapi.
"Eh, budak. Saya mau lidah kamu jilatin seluruh badan saya, mulai dari pundak sampai ke ujung kaki. Jangan sampai ada satu sentimeter pun yang ketinggalan — semuanya saya minta dijilat sampai kering. Oh ya, hampir lupa, saya pakaikan rantai kamu dulu."
Saya pasang rantai anjing di lehernya.
"Ayo, mulai jilat-jilat seperti anjing. Kalau rantai ini saya tarik sekali, berarti kamu pindah ke tempat lain. Kalau saya diam, berarti kamu terus jilatin tempat yang sedang kamu jilat. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
Nikmat sekali rasanya dijilati oleh budak saya yang satu ini. Sekujur badan saya dijilati dengan telaten. Kalau sudah bosan dijilat di satu tempat, saya hentakkan rantainya dan dia langsung pindah. Yang membuat saya semakin bergairah adalah melihat dia kesusahan saat menjilat karena tangannya terikat ke belakang — terkadang kepalanya nempel di badan saya karena otot perutnya pegal menahan bebannya sendiri. Biasanya kalau dia sudah kecapaian, saya pukul pantatnya dengan penggaris kayu yang ada di samping saya.
Dengan seenaknya saya berguling-guling di atas tempat tidur sementara budak saya terus berusaha menjilati badan saya. Sesekali saya menaikkan kaki saya ke atas tubuhnya, membuat dia semakin menderita karena beban yang ditambahkan.
Saat dia menjilati telapak kaki, jari-jari kaki saya yang satu lagi aktif membelai-belai mukanya dan menjambak-jambak rambutnya. Sensasi di jari kaki saya saat dijilati dan dihisap satu per satu sungguh luar biasa. Dengan rajin budak saya mengulum dan menjilati jari kaki saya sampai saya hentakkan rantai, baru dia pindah ke jari berikutnya.
Saya menikmati pelayanan budak saya ini sambil merokok dan menonton TV. Kalau haus, saya suruh dia berhenti dan mengambilkan minuman kaleng dari minibar — tentunya dengan tangan masih terikat — sehingga dia kesusahan melakukannya. Dengan geli saya tersenyum melihat kesulitan yang dia hadapi. Rasanya enak sekali; selama hampir dua jam saya seperti ratu yang dimanjakan dan digelitik oleh lidahnya yang nikmat.
Setelah puas dimanjakan, sekujur badan saya menjadi sangat sensitif. Ditambah rasa puas yang sudah menumpuk, saya ingin sekali mencapai klimaks. Saya bentangkan kaki saya lebar-lebar dan membuka anus saya dengan kedua tangan, kemudian menyuruh budak saya menjilati dan memasukkan lidahnya ke dalam anus saya. Lidahnya berputar-putar di dalam dan di sekelilingnya — rasanya nikmat luar biasa.
Setelah itu saya hentakkan rantai anjingnya, bertanda ingin dia pindah ke tempat lain. Sepertinya dia sudah mengerti bahwa klitoris saya sudah mengeras dan ingin dijilati. Saya buka bibir vagina saya dan saya benamkan kepala budak saya ke situ, dengan posisi lidahnya tepat di klitoris saya.
Tidak lama kemudian saya mencapai klimaks. Rambutnya saya jambak dengan keras selama beberapa menit sementara saya masih menikmati kegelian yang tersisa, lalu saya tendang dia ke lantai dan saya suruh dia menghisap-hisap ibu jari kaki saya sementara saya mengatur napas dan menikmati sisa-sisa klimaks itu.
Tanpa terasa selama kurang lebih 20 menit saya terlelap dengan nikmat, dan terbangun oleh rasa ingin kencing dan kuluman lidah budak saya yang masih setia menghisapi ibu jari kaki saya. Saya pun duduk dan membuka ikatan borgol di tangannya.
"Kamu pintar sekali memuaskan saya. Pasti kamu sekarang haus, ya?"
"Terima kasih, Bu. Iya, Bu. Saya haus."
"OK. Kalau begitu ikut saya, kamu saya beri hadiah."
Saya tuntun dia ke kamar mandi dan menyuruhnya berbaring telentang di dalam bathtub.
"Buka mulut kamu yang lebar, ya, Sayang!"
Kemudian saya jongkok di atas mukanya dan mulai mengencingi mukanya sambil mengarahkan aliran air kencing saya ke mulutnya.
"Ayo, diminum semuanya. Buka mulutnya yang lebih lebar lagi. Dongakkan kepalanya biar tidak tumpah. Sayang..."
Dengan patuh budakku meminum air kencing saya dengan lahap. Terlihat jakun-nya bergerak naik-turun meneguk air kencing yang masuk ke mulutnya yang terbuka lebar.
Setelah selesai, saya menyuruhnya membersihkan vagina saya dengan mulutnya. Karena air kencingku tercecer ke mana-mana, saya berdiri dan menyalakan pancuran shower sementara budak saya masih terbaring di dalam bathtub. Saya membersihkan badan saya di pancuran yang berada tepat di atas bathtub, sambil meletakkan satu kaki di atas muka budak saya. Setelah selesai saya keluar dari bathtub dan mengeringkan badan dengan handuk, lalu handuk itu saya taruh di lantai dan saya suruh budak saya bersih-bersih menggunakan handuk tersebut.
"Ayo bersih-bersih. Jangan lupa pakai sabun, biar tidak bau. Saya tunggu di kamar. Kalau lama atau tidak bersih nanti saya hukum, lho..." ujarku dengan manja.
Selang beberapa menit budak saya selesai bersih-bersih. Sementara itu saya duduk di atas kursi di belakang sebuah meja belajar.
Di atas meja sudah saya siapkan sebuah lilin yang sudah saya nyalakan, gelas kosong, sepasang sarung tangan karet, dan KY Jelly.
"Ayo merangkak ke sini, Sayang. Saya belum selesai sama kamu."
Dengan patuh dia merangkak ke arah saya. Sesampainya di samping saya, saya elus-elus rambut kepalanya, dan sesekali jari tangan saya memainkan bibirnya yang kemudian dia jilati seperti seekor anjing yang patuh.
Saya menyuruhnya naik ke atas meja belajar dengan posisi nungging dan kaki terbuka, sehingga lubang anus dan penisnya terlihat jelas.
Sambil duduk di belakang meja, saya memakai sarung tangan karet dan melumasi permukaannya dengan KY Jelly. Saya juga memberikan pelumas itu ke sekitar selangkangan, penis, dan terutama ke dalam lubang anusnya. Dengan perlahan saya memasukkan jari tengah saya ke dalam anusnya yang sudah terlumuri banyak jelly, sementara tangan yang satu lagi meremas dan mengurut-urut dengan lembut alat kelaminnya yang sudah licin.
Remasan dan urutan saya membuat penisnya menjadi sangat keras dan tegang. Setiap kali itu terjadi, saya menyodok-nyodok lubang anusnya dengan kasar sehingga dia kesakitan dan lemas kembali. Setelah lemas, saya urut lagi dengan lembut sampai tegang kembali — begitu berulang-ulang.
Dia sangat menyukai perlakuan ini, meskipun mungkin sedikit frustrasi karena terus digoda tanpa mencapai klimaks. Penis dan area antara lubang anus dengan kantung bijinya saya urut, sementara penisnya saya kocok perlahan dengan irama yang menggoda. Sampai suatu saat dia hampir ejakulasi, namun saya tekan pangkal penisnya dan saya tetesi lilin panas di sekujur punggung dan lubang pantatnya yang sensitif.
Dia menjerit kesakitan dan meminta ampun saat lilin itu menetes. Setelah itu dia mengerang-ngerang keenakan saat saya kembali menstimulasi alat kelaminnya. Setelah saya pikir dia sudah cukup menderita, akhirnya saya urut penisnya dengan tempo yang lambat namun mantap, makin lama makin cepat, sambil berkata:
"Kamu tidak boleh keluar dulu, ya. Awas lho. Kalau kamu mau keluar, harus minta izin dulu sama Ibu."
"Ibu, saya minta izin mau keluar... Ampun, sudah tidak tahan lagi," rintihnya tidak lama kemudian.
"OK. Ayo keluarkan, budakku Sayang," jawab saya seraya mengambil gelas kosong di atas meja.
Saya arahkan mulut gelas ke lubang penis tempat spermanya akan keluar. Selang beberapa detik penisnya menggelembung dan memuntahkan cairan sperma yang sangat banyak. Saya terus menggenggam dan mengurut-urut penisnya sampai tetes sperma terakhir tertampung di dalam gelas. Terlihat kepuasan di wajah budak saya — sekujur tubuhnya gemetar keenakan, kepalanya lunglai dengan dahi bersandar di atas meja.
Kemudian saya mengambil sendok kecil yang biasanya disediakan di tempat pembuatan kopi atau teh di dalam kamar. Saya aduk-aduk gelas yang berisi spermanya itu, lalu saya suapi dia sendok demi sendok sampai habis bersih.
"Enak, Sayang?" tanyaku.
"Iya, Bu. Enak sekali. Terima kasih, Ibu."
"Pintar sekali budak saya. Ayo, jilatin sendoknya sampai bersih!"
Demikianlah, para pembaca — sebagian dari cerita permainan saya dengan budak saya, Anwar. Permainan ini selalu kami lakukan kira-kira sekali seminggu, tentunya dengan variasi yang berbeda-beda. Setelah permainan selesai, kami kembali ke dunia nyata kami masing-masing.
Biasanya setelah permainan usai, sekitar pukul 7 malam kami mengobrol sambil makan dari pesanan room service. Kami tidak kesulitan berkomunikasi; bahan pembicaraan kami bisa apa saja, seperti dua teman karib yang lama tidak bertemu.
Kami mempunyai komitmen untuk tidak saling jatuh cinta karena dia sudah mempunyai keluarga, dan saya pun tidak mau mencari masalah. Yang penting fantasi saya ini dapat tersalurkan tanpa komplikasi yang tidak diinginkan.
Bahkan sebagai bukti penyerahan dirinya kepada saya, dan sekaligus bukti bahwa kami tidak akan saling jatuh cinta, kami berencana untuk meminjamkan budak saya kepada wanita lain yang mungkin berminat menggunakannya sebagai budak untuk sementara waktu.
Apakah di antara pembaca ada yang berminat?
Tamat