18px

Gairah di Persimpangan Jalan (Bagian 1)

Gairah di Persimpangan Jalan (Bagian 1)

Ari Rumaidi adalah salah satu mahasiswa Informatika di sebuah PTS swasta terkemuka di Jakarta. Tinggi badannya 170 cm dengan berat 58 kg, berkumis tipis, tidak begitu kekar memang, akan tetapi otaknya sangat brilian dalam hal mengotak-atik serta pemrograman komputer. Ia juga mempunyai bengkel servis handphone yang ia kelola sendiri bersama si Mamat, tukangnya. Biasanya liburan semester seperti ini Ari pulang ke rumah neneknya di Bandung atau pulang ke rumah orang tuanya di Semarang, akan tetapi liburan kali ini Ari sedikit malas dan ia pilih mengotak-atik elektronik di kios servis HP-nya di salah satu mal terkemuka di Jakarta.

"Selamat siang, Ari," sapa suara cewek lembut nan menawan.

"Yach, siang..." jawab Ari seraya mendongakkan kepalanya ke arah suara itu.

"Eh, Shinta! Tumben kemari, dari mana saja kamu?" tanya Ari.

Shinta adalah "kembang kampus" di tempat Ari kuliah dan Ari sudah mendengar selentingan bahwa Shinta juga sering gonta-ganti laki-laki, namun Shinta dan Ari beda fakultas. Kadang Shinta terlihat berjalan bareng dengan cowok muda cakep, kemudian ganti dengan om-om senang, lantas beberapa waktu lalu Shinta akrab dengan Sony, teman sefakultas Ari, dan baru beberapa minggu mereka tidak terlihat lagi bermesraan.

"Ini, Ar! HP-ku ngadat, tolong betulin ya!" seru Shinta seraya menyerahkan HP-nya kepada Ari.

"Tumben Ar, nggak liburan ke Bandung? Kan di sana banyak mojang-mojang nan menawan?" selidik Shinta.

"Nggak, males aja. Mendingan cari duit. Sini, coba aku periksa," kata Ari seraya berdiri meminta lalu memeriksa HP Shinta.

"Ar, emmhh... bisa ditunggu nggak?" tanya Shinta.

"Nggak usah deh. Entar malem aku anterin ke rumah kamu, kasih saja alamatnya," kata Ari dengan menyodorkan secarik kertas.

"Itung-itung main ke rumah kamu, aku kan belum pernah sama sekali," sambung Ari.

"Thanks, tapi gue punya kartu nama kok, nih," Shinta menyodorkannya kepada Ari.

"OK, tunggu entar malem ya, jam 19:30," sahut Ari.

"Jangan, Ar! Jam 21:00 saja, soalnya aku ada janji dengan keponakan gue," cegah Shinta.

"Ehem, keponakan apa kepenakan?" ledek Ari.

"Iiich, sebbel deh!" kata Shinta sambil mencubit lengan Ari. Ari hanya bisa meringis sambil melihat Shinta berlenggok ria dengan pinggulnya yang aduhai.

"Huuhh," keluh Ari.

Memang, siapa yang tidak kenal Shinta di kampus itu. Di samping dia anak pejabat, ia juga betul-betul cantik. Tubuhnya sekitar 167 cm, tinggi langsing, kulitnya kuning langsat bak pengantin, namun ia juga terkenal sombong dan materialistis di mata cowok maupun cewek. Payudaranya seksi ukuran 36 dan rambutnya tergerai indah. Bibirnya kelihatan kecil namun tebal dan bergigi indah, apalagi kalau tersenyum dengan lesung pipitnya. Ari sendiri orangnya liberal namun tidak pernah berpikiran buruk terhadap gadis mana pun; ia hanya berkonsentrasi pada bisnisnya.

Pukul 20:00 Ari mulai memacu Kijang hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari ayahnya dua tahun lalu, dan hampir 45 menit kemudian Ari sudah menemukan alamat Shinta. Ari sengaja berpakaian santai mengenakan celana pendek komprang dan T-shirt Dagadu bermotif kartun lucu, karena di samping ke rumah Shinta ia sebenarnya juga akan main ke rumah Sri, pacarnya, untuk menyerahkan HP teman sekost Sri. Ia lantas membelokkan Kijang kesayangannya itu ke arah gerbang, kemudian turun untuk memencet bel.

"Treett... Treett... Treett..." suara bel berbunyi.

Agak lama ia menunggu, kemudian datanglah pembantu Shinta untuk membukakan gerbang.

"Nggak usah dibuka, Bik. Aku cuman nitip ini buat Shinta," sergah Ari sambil menyerahkan HP Shinta kepada Bik Ijah.

"Ngg... tapi Mas, tadi Non Shinta pesen kalau ada Mas Ari disuruh masuk dul..." belum habis Bik Ijah berkata, Shinta menyahut dari kejauhan.

"Ari, masuk dulu! Sorry, aku habis mandi nih, aku tunggu di ruang tamu ya!" teriak Shinta.

Ari tidak menjawab. Segera setelah Bik Ijah membukakan gerbang ia memasukkan Kijangnya ke halaman, namun Ari sempat melirik ke gumpalan pantat Bik Ijah yang masih padat.

Rumah itu berhalaman luas, berhiaskan taman nan elok serta kolam ikan lengkap dengan air mancurnya.

"Mas Ari mau minum apa?" tanya Bik Ijah setelah Shinta menyilakan Ari duduk.

"Jahe hangat boleh?" jawab Ari singkat.

Sebelum Bik Ijah menghilang dari depan Ari, ia melihat Bik Ijah sempat memberikan senyuman genitnya kepadanya.

"Dasar genit, tapi bahenol juga itu Bibik," batin Ari sambil melirik ke arah Shinta. Shinta tersenyum penuh arti di mata Ari.

"Aku baru saja datang dari rumah Sony, kami pun bertengkar hebat karena Sony orangnya pencemburu berat," Shinta mencoba menjelaskan.

"Lagian dia juga..." Shinta menghentikan pembicaraannya sejenak dan matanya menerawang jauh.

"Dan akhirnya kami pun berpisah," imbuh Shinta datar. Shinta kemudian menyilangkan kedua pahanya yang bulat mulus, tungkainya kecil dan indah.

"Dilihat dari tungkainya, Shinta mempunyai nafsu seks besar dan tenaga si Sony rupanya tenaga ayam," batin Ari. Dalam hatinya sendiri pun Ari sudah mendengar kalau hasrat seksual Shinta meledak-ledak bak Merapi — hal itu ia dengar dari salah seorang sahabatnya yang pernah menjadi gacoan Shinta. Dari penjelasan Shinta, Ari tidak percaya 100% dilihat dari mimiknya yang tidak serius dan kata-kata Shinta yang tak sempat terucap tadi. Ari sendiri adalah cowok bertubuh langsing, bukan atletis, dan dilihat dari tinggi dan kepalan tangannya, penisnya pasti di atas rata-rata. Panjangnya sekitar 15 cm dengan diameter 3 cm. Ari sendiri pandai berolah gerak di ranjang, dan tanpa sepengetahuan teman-teman lainnya Ari sudah seringkali diajak kencan oleh tante-tante girang di Jakarta.

"Sorry, aku pakai ginian nggak apa-apa kan? Abis mandi kan biar segar," Shinta mencoba memohon karena ia hanya memakai sleeping jas tanpa BH. Kedua putingnya terlihat menggunung tegak ke depan sehingga tersembul merangsang di balik kainnya.

"Nggak apa-apa kok, santai saja. Malah... oh, nggak," kata Ari.

"Malah apa, Ar? Kamu senang kan?" tanya Shinta diikuti silangan kedua pahanya yang mulus.

"Iya, eh, nggak..." jawab Ari sekenanya.

"Nggak apa-apa, Ar, kita udah sama-sama besar kok," seru Shinta menetralkan suasana kaku yang tiba-tiba menyelimuti mereka.

"Silakan diminum jahenya, Ar," kata Shinta mempersilakan Ari.

"Terima kasih, Shint. Oh iya, nih HP-mu udah betul. Kalau ada komplain hubungi aku ya," jawab Ari seraya meneguk habis jahe bikinan Bik Ijah.

Entah dicampur dengan ramuan apa jahe itu sehingga tubuh Ari terasa lebih hangat dan darahnya berdesir kencang. Bik Ijah memang pembantu yang hebat; selain pintar memasak, dia juga pandai membuat minuman berkhasiat.

"Bik Ijah masih muda, sekitar 32 tahunan menurut taksiran Ari, dan ia bukan janda juga bukan gadis karena telah ditinggal entah ke mana oleh suaminya sekitar 3 tahun lalu," jelas Shinta. Shinta lantas mencoba HP-nya dan ia meminta Ari keluar ke halaman sebentar karena ia akan menghubungi HP Ari.

"Yach, Shin, suaranya bagus kok," jawab Ari singkat.

"Entar dulu, jangan ditutup dulu," sergah Shinta.

"Emang ada apa, Shint? Udah bagus kok suaranya aku terima," kata Ari sambil berjalan ke arah ruang tamu kembali.

"Emmh, kamu mau nggak tidur di sini entar malem?" pinta Shinta.

Ari kaget bukan kepalang karena hal ini tidak pernah ia bayangkan sama sekali. Ia tiba-tiba setengah gugup; sejenak ia terdiam namun batinnya bergejolak karena minuman jahe hangat dicampur telur bebek, merica, dan madu murni.

"Mmm, tapi..." kata Ari.

"Nggak apa-apa. Papiku lagi ke Surabaya, biasa ada proyek, dan Mamiku lagi ke Bandung karena ada acara keluarga," kata Shinta.

"Jangan ngeres dulu, ah," imbuh Shinta.

"Eh, siapa yang ngeres? Aku cuman bingung, kan ada Bik Ijah!" sergah Ari.

"Aaakh, nggak usah pakai alasan macem-macem, pokoknya mau kagak?" tanya Shinta.

"Boleh," sahut Ari singkat.

"Kalau gitu kita ke ruang tengah saja ya, sambil lihat televisi atau film bagus. Aku punya koleksi baru dari Papi saat dinas ke luar negeri," ajak Shinta.

Berdua mereka menuju ke ruang tengah nan luas itu, berhamparkan karpet hijau muda dan bantal-bantal dacron besar. Di sisi ruangan itu ada sebuah sofa panjang menghadap ke kolam renang. Ruangan itu terpisah dari ruang lain dan hanya terhubung dengan sebuah pintu, menghadap ke kolam renang di samping rumah. "Kolam renang itu sendiri terisolasi dari ruangan lainnya dan sangat privasi, apalagi berdua dengan dara cantik," Ari menghela nafasnya dalam-dalam. Sedetik tubuh Ari mulai nyaman di lingkungan baru tersebut; ia lantas mengambil sebatang kreteknya kemudian mengambil tempat duduk di karpet. Shinta lalu menceritakan tentang diri dan keluarganya yang sudah terancam hancur: papinya punya wanita idaman lain dan maminya juga sering berganti-ganti gigolo untuk melampiaskan hasratnya.

Malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30. Ari dan Shinta masih terpaku di hamparan karpet menyaksikan acara TV yang kelihatan membosankan. Berkali-kali Shinta memindah channel akan tetapi tidak ada yang menarik, kemudian setelah ngomong kepada Ari, Shinta menyalakan VCD semi XX.

"Mau nggak lihat BF daripada acaranya membosankan? Aku punya dua nih," tanya Shinta.

"Aku sih seneng saja," jawab Ari datar diiringi kepulan asap harum kretek kegemarannya.

"Ach sialan, emang lo yang nggak seneng apaan?" kata Shinta sambil menyalakan VCD-nya.

Kedua insan itu ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati anggur merah kesukaan Shinta dan sesekali saling cubit.

Meskipun bukan pacarnya, akan tetapi Shinta adalah teman akrab Ari untuk tempat belajar mata kuliah yang Shinta sendiri tidak mampu mengatasinya. Biasanya Shinta konsultasi mata kuliah dengan Ari di bengkel kerja Ari di mal, dan sehabis itu Shinta traktir makan siang. Tak lebih dari itu — memang hanya sebatas hubungan baik, dan Ari juga tidak berani bertindak lebih jauh lagi karena takut Shinta tersinggung ataupun karena Ari bukan tipe Shinta.

Pada adegan ranjang, wajah Shinta nampak mulai memerah tegang menahan hawa nafsunya. Kedua pahanya yang sejak tadi diam kini mulai kelihatan gelisah dan ia coba untuk digesek-gesekkan sendiri. Ari tahu memang apa yang sedang dialami Shinta — dan juga pernah dialami Sri, pacarnya. Shinta dengan sedikit kaku mendekatkan diri kepada Ari dan berbisik.

"Ar, mau nggak kamu puasin aku malam ini?" tanya Shinta mengharap.

Tanpa menjawab, Ari mendekatkan diri ke Shinta yang bersandar pada sofa. Lengannya dilingkarkan di pundak Shinta kemudian Ari membisikkan sesuatu ke telinga Shinta.

"Kamu horny malam ini, Shin?" tanya Ari.

"Akkh, pake nanya lagi? Mumpung lagi sepi!" kata Shinta sewot seraya mendaratkan french kiss di bibir Ari.

"Bik Ijah ke mana?" tanya Ari.

"Mau main berdua dengan Bik Ijah? Kata Sony sih mainnya Bik Ijah lembut menghanyutkan," imbuh Shinta.

"Tapi entar lo puasin gue dulu. Nanti kalau aku udah ngilu kita gantian," kata Shinta kemudian merebahkan dirinya di pangkuan Ari.

"Mmmpphh, aku ingin kehangatanmu malam ini, Ar, karena tak ada lagi yang aku dapat harapkan," pinta Shinta sambil meraba penis Ari yang sudah mulai setengah tegang.

"Mmpph, punyamu panjang dan besar. Benar dugaanku," bisik Shinta.

"Kamu pasti akan menggelinjang kegelian nikmat, Shin," sahut Ari seraya mendaratkan french kiss.

Berdua mereka sudah hanyut dalam buaian cumbuan penuh birahi. Ari sudah sibuk dengan pekerjaan tangannya di kedua bukit kenyal Shinta yang semakin kenyal saja. Tubuh Shinta menggeliat bak cacing kepanasan dan perlahan tangan Ari turun ke arah perut Shinta, melepas tali sleeping jasnya. Kini sleeping jas terbuka dan tubuh Shinta mulai kelihatan mulusnya. Di sudut selangkangannya tumbuh rambut-rambut halus terawat, dan tepat di bawahnya ada segumpal daging yang merekah berwarna pink.

Tangan Ari turun ke bawah lagi untuk menggapai vagina Shinta yang sudah mulai membasah. Dengan tetap mencumbui bibir Shinta, Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta yang tebal seksi itu. Kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ia buka membentuk huruf V. Tangan "V" Ari itu mulai menggosok lembut, mengapit, menjepit lembut, dan sesekali dibuka lebih lebar lagi. Sementara jempolnya menekan lembut klitoris Shinta untuk memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. Tubuh Shinta kini oleng diiringi desahannya; sleeping jasnya ia buka tergesa-gesa dan dihempaskan di sofa.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya