Gairah di Persimpangan Jalan
Gairah di Persimpangan Jalan
Tubuh mulus putih itu kini menggelinjang-gelinjang di pangkuan Ari. Sentuhan tangan Ari tidak hanya terbatas itu saja, dan pada suatu kesempatan telunjuknya masuk ke lubang vagina Shinta dan ditusuk-tusukannya dengan lembut.
"Uuugghh... oogghh... oogghh... Arr... aaghh... tusuk terus... sshh... Arr..." pinta Shinta terbata-bata memelas.
Matanya merem melek, kedua bibirnya terbuka mendesis dan mendesah, kedua pahanya dibuka lebar-lebar menikmati sensasi yang ada. Tangannya mencoba menggapai karpet untuk diremas karena ia menahan rasa ngilu, geli, dan nikmat yang bercampur jadi satu akibat permainan dua jari Ari. Kepalanya sesekali terangkat, tak kuat menahan sensasi tersebut. Shinta lalu melipat lututnya dan membuka lebar-lebar agar tangan Ari mampu membuatnya menggapai orgasme yang dirindukannya. Tubuhnya semakin bergejolak hebat, dan kini tangan Shinta mulai merangsek celana pendek Ari — kemudian dilemparkannya sembarangan, lalu tangannya menelusup ke dalam celana dalam Ari. Ari tampaknya terengah juga mendapat perlakuan seperti itu; apalagi dalam sekejap Shinta sudah melepas celana dalam Ari dan melumat batang pejal nan hangat itu.
"Aaakkhh..." pekik Ari saat Shinta mulai mengulum kepala penisnya.
Sensasi yang ditimbulkan akibat lingkaran kepala penis itu membuat Ari tegang, dan sejenak ia melepaskan kuluman di puting Shinta.
"Sesshh... ookhh... Arr..." Shinta hanya bisa merintih saat Ari mulai merebahkan dirinya dan mengatur posisi Shinta di atas. Shinta berdiri merangkak dengan lutut kirinya sementara lutut kanannya tetap tegak seperti orang jongkok. Posisi demikian adalah posisi bagus untuk melakukan seks 69 karena dengan begitu selangkangan Shinta mengangkang maksimal dan vaginanya terlihat merekah merah muda. Dengan lahap Ari mulai mematukkan ujung lidahnya tepat di klitoris Shinta sehingga membuat Shinta kelonjotan, sementara kedua jari telunjuk dan tengahnya membuka dan sesekali menggosok lembut bibir luar vagina Shinta. Si pemilik lubang hanya mampu mendesah saat lendirnya mulai melumasi lubang kenikmatan miliknya dan memberikan rasa geli yang amat nikmat.
"Aaaoogghh... emmpphh... sedot terus, Arr..." desah Shinta ketika Ari mulai menghisap lembut bibir dalamnya.
Di lain bagian, tangan Shinta juga mulai melakukan pekerjaannya — mengocok, kadang membelai lembut batang hangat milik Ari. Ari hanya bisa merasakan sedikit asin saat mani Shinta mulai meleleh sedikit demi sedikit dan dihisapnya hingga terasa kesat bagi Shinta. Rupanya Shinta dendam dengan orgasme karena si Sony ternyata hanya ayam sayur di matanya.
Kocokan Shinta di penis Ari sebaliknya tidak terasa nikmat bagi Ari karena kocokannya tak karuan alias ngawur — Shinta hanya berkonsentrasi menggapai nikmatnya orgasme lewat mulut Ari dengan gelitik kumisnya. Gelitik kumis Ari di lembah antara bibir luar dan bibir dalam membuat Shinta semakin erat mencengkeram penis Ari dan karpet.
"Ooouugghh... aakkhh... aakkhh... Arr... oogghh... kumismu... geli... aaghh... aahh... aahh... aku... keluar..." ceracau Shinta tak karuan.
Pinggulnya dihempaskan ke belakang menekan wajah Ari, tubuhnya mendongak melepas cengkeraman tangannya di penis Ari. Wajahnya mendongak ekspresif, matanya merem melek, kedua tangannya terlihat meremas rambutnya sendiri, kedua bibirnya terbuka lebar mendesis kenikmatan. Lidahnya menjilat bergantian di kedua lapis bibirnya, menjulur tak peduli suaranya memekik memenuhi ruang itu.
Ari masih terlihat menjilat sisa-sisa lelehan mani Shinta yang masih terlihat di bibir luar lubang vaginanya hingga kesat, dan ia telah mempersiapkan jurus kedua bagi Shinta. Ari kelihatan puas membuat Shinta kelonjotan.
"Oogghh... ooghh... makasih, Arr... emmpphh..." Shinta masih terengah kelelahan.
Perlahan Ari membalikkan tubuh langsing Shinta dan kemudian menggotongnya.
"Mau ke mana, Yang?" tanya Shinta manja, masih terlihat sisa-sisa orgasme pertamanya, namun Shinta tidak protes sebagai tanda tidak keberatan.
Dalam gendongannya, Shinta mencoba meraih bibir Ari dan mengulumnya.
"Heemmhh... Yang... aku pasti akan kau buat puas malam ini," bisik Shinta.
Kedua tangannya tetap dililitkan di leher Ari saat Ari mulai menyandarkan tubuh indah kebanggaannya di sofa panjang. Shinta hanya terlihat pasrah pada apa yang diperbuat Ari yang kini beringsut mengambil bantal kecil dan menyelipkannya di bawah pantat Shinta. Shinta sadar bahwa ia hanya ingin menjadi objek untuk beberapa tempo foreplay ini, maka dari itu ia hanya pasrah pada apa yang akan diperbuat Ari padanya.
Ari berlutut dan sejenak memandangi vagina Shinta yang terlihat tambah mencuat dan merekah karena pengaruh ganjalan bantal kecil di pantatnya. Klitorisnya semakin kelihatan menonjol kenyal karena terangsang hebat. Ari melipat kedua lutut Shinta dan meletakkan kakinya bertumpu pada sofa sehingga kelihatan seperti jongkok, lalu mengisyaratkan Shinta untuk membuka lebar-lebar. Shinta hanya terpejam dan mendesis lembut saat Ari mulai mencumbui lubang vaginanya.
"Hemmhh... vaginamu harum, Shin... dan... emmhh..." puji Ari yang masih terlihat sibuk dengan hisapan dan kuluman di selangkangan Shinta.
"Oookhh... hisapanmu... aakhh... Ari, Sayang..." rengek Shinta panjang saat Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta dan menghisap bibir dalamnya.
"Aduuhh... aahhgghh... aahhkk... aakkhh... uughghh... ngg... emmpphh..." Shinta mulai menggigil lagi.
"Ooohhkkhh... aakkhh..." pekik Shinta tertahan saat tiba-tiba Ari merebahkan tubuhnya dan kembali mengangkatnya ke tepi sofa. Pantat seksi Shinta diletakkan di sandaran tangan sisi sofa tersebut, dan kedua lututnya tetap terlipat dengan paha mengangkang lebar.
"Uuugghh... Arr... mau diapain aku..." tanya Shinta lemah.
Tubuhnya tergolek indah dan pinggulnya terangkat tinggi di sandaran tangan sisi sofa. Ari tergopoh-gopoh ke sisi pinggul Shinta dan berlutut di sana, tangan kirinya mulai meremas lembut dada Shinta yang kenyal.
"Oookhhk... Yaangg... aakhh... ookhh... nikmatnya... aahhgghh..." desah Shinta merasakan kecupan bibir Ari di labia minoranya.
Sensasi akibat gelitikan kumis Ari dan pilinan tangan kirinya di puting kanan membuat Shinta terengah-engah. Terlihat Shinta mulai meremas sendiri payudara kirinya, wajahnya tegang memerah menahan birahi yang amat sangat mendesak untuk disemburkan.
"Aaakhh... aahhgg... oohhgg... oohh... Arr... aku mau keluar... nikmat..." pekik Shinta saat kecupan bibir Ari mulai menggesek lembut vaginanya.
Bibir dalam vaginanya terhisap lembut namun terasa kuat dan dahsyat, lubang vaginanya juga terasa penuh gerigi lembut lidah Ari yang menyusup ke sana. Vagina Shinta seperti menetek ke lidah Ari, sementara lidah Ari mulai menjulur keluar masuk di vagina Shinta.
"Aku... keluar... Arr... aaggh... sshh... aaghh... aaghh... uugghh... sshh... ooh my god... nikmat banget..." Shinta terpekik keras saat Ari menghisap dalam dan mengapit kedua bibir dalam vagina Shinta dengan kedua bibirnya, sementara lidah Ari dijulurkan maksimal ke dalam lubang rahimnya dan mengaduk-aduk G-spot Shinta.
"Arr... aku nggak tahan... nngghh... aakgghh... oohh... Ari... mmpphh..." ruangan itu kini penuh dengan desahan histeris Shinta. Shinta sudah tidak mempedulikan Ari lagi — ia hanya ingin segera dapat menyemburkan maninya banyak-banyak agar tubuhnya terasa ringan dan lega.
"Aaahh... Arr... aku keluar... ooghh... lagi... aawww... aaghh..." pekik Shinta mengakhiri orgasmenya yang entah keberapa.
Tubuhnya kelonjotan, bergejolak kenikmatan. Ari sendiri sebenarnya sudah merasakan orgasme saat Shinta menikmati permainan oralnya — lubang penisnya terlihat meleleh cairan bening. Ari masih mengulang-ulang permainan mulutnya di vagina Shinta; kali ini ia berdiri merangkak mengangkangi Shinta.
"Arr... udah dong... ayo masukkan..." rengek Shinta.
"Mmmpphh... semakin harum saja lubangmu, Shin, apalagi cairanmu ini..." kata Ari seraya membenamkan kembali wajahnya di lubang Shinta.
"Sluurrphh... sluurrphh..." suara lidah Ari kenikmatan.
"Aaawww... aawww... uugghh... aa... Arr... please... masukkan... cepat..." rengek Shinta lagi.
Rupanya Shinta sudah tidak kuat menahan geli yang amat sangat dari permainan lidah Ari — apalagi kalau dihisap, bibir dalamnya terasa seolah ubun-ubunnya ikut terhisap. Shinta sudah hampir tak punya tenaga lagi, terasa terkuras bersama semburan maninya berkali-kali.
Ari kemudian membimbing Shinta bersandar di sofa, lalu memberikan ciuman lembut dalam posisi berlutut. Cukup lama kedua insan itu bercumbu. Ada sensasi lain yang ia rasakan selain nafsu, dan kini hatinya sedikit gundah.
"Ar, makasih ya, permainanmu memang hebat..." puji Shinta.
"Maukah kamu..." imbuh Shinta.
"Sstt... nggak perlu dilanjutin. Aku tahu kok apa yang akan kamu ucapkan, lagian permainanku kan belum sampai puncak," sergah Ari sambil menempelkan telunjuk kanannya di bibir Shinta.
Kedua insan itu lantas terdiam, kemudian saling membisu.
"Shin, maukah kamu menjadi kekasihku, lebih dari apa yang kita lakukan sekarang...?" tanya Ari sembari melepas kecupan di kening Shinta, memecah kesunyian.
Rupanya diam-diam Ari terpesona dengan ekspresi Shinta, demikian pula Shinta takluk di lutut Ari. Ari kemudian teringat Sri, pacarnya yang ia pacari hampir satu tahun, di mana Sri hampir tidak pernah mau dengan permainan oral Ari. Sri sendiri tidak begitu antusias dengan seks, dan hal ini tidak seimbang dengan hasrat Ari.
"Ar, kamu sudah tahu semua tentangku kan? Dan aku tidak mau mengecewakan kamu," kata Shinta.
"Apa pun itu, Shin, aku menerimanya. Aku juga bukan orang yang suci," balas Ari datar.
"Lagian kamu orangnya hebat, nafsunya hot, dan yang paling aku suka adalah keenam bibirmu," puji Ari.
"Enam...?" Shinta penasaran.
"Iya, memang kamu nggak merasa?" tanya Ari sambil meneguk jahe ginsengnya yang kini sudah mulai dingin.
Shinta masih tampak kebingungan dengan maksud Ari. Kemudian Ari mengambil tempat duduk di sebelah kiri Shinta, lalu mengambil kedua paha Shinta dan ditempatkan di pahanya. Tangan kanannya merengkuh tengkuk Shinta yang kini tergolek di pelukannya.
"Aku suka tubuhmu yang indah, Shin... tinggi, pinggulmu panjang, bibirmu yang tebal ini mengingatkanku seperti milik Titi DJ, pantatmu padat berisi, apalagi ini..." puji Ari seraya mengulum puting Shinta.
"Emmpphh..." kenyal bukan main.
"Ditambah dengan ini... keempat bibir bawahmu yang tebal, lembut, dan harum terawat," puji Ari tak henti-hentinya.
Shinta semakin melambung ke awan dengan pujian dan rayuan Ari; kini aliran darahnya mulai mengalir deras kembali dan terasa hangat di bagian bawah. Tubuhnya terasa haus pelukan lagi, menandakan gairahnya terbakar kembali. Ari masih terlihat menjilat dan mengulum seluruh bagian kepala Shinta; penisnya terlihat sedikit mengendur. Ari tahu bahwa Shinta mulai bergairah lagi, dan kini ia meningkatkan tempo pemanasannya.
"Uuugghh... aagghh... aagghh... Arr... aku mau lagi, Yang!" rengek Shinta lagi.
"Kita ke kolam renang yuk," ajak Ari.
Dalam sekejap Shinta sudah dalam gendongan Ari. Keduanya terlihat mencebur ke kolam bersamaan. Ari dan Shinta berenang telanjang bersama dan sesekali bercumbu mesra. Lima belas menit kemudian mereka naik ke tepi dan berjalan ke arah tembusan pintu dapur.
"Bik Ijah... temenin aku dong... pakai tuh baju renangku di kamar mandi..." teriak Shinta sambil mengetok pintu.
"Tapi, Shin..." sergah Ari.
"Ar, rasanya aku nggak kuat meladeni nafsu kamu yang..." Shinta mencoba menghentikan perkataannya seraya mendekat ke Ari.
"Iya, Neng Shinta..." sahut Bik Ijah dari dalam.
Setengah menit kemudian Ijah keluar dan sudah mengenakan pakaian renang milik Shinta dengan handuk dililitkan di pinggulnya.
"Wow, kalau begini ini bukan pembantu, tapi pantas jadi nyonya rumah," gumam Ari.
"Tubuhnya sintal, dadanya menggunung 36B, kulitnya kuning mulus, pantatnya... wow, sungguh pemandangan indah..." Ari masih terkagum pada penampilan Bik Ijah.
"Hush, jangan bengong! Aku duluan," protes Shinta memecah lamunan Ari.
Kemudian Bik Ijah menceburkan diri ke kolam renang lalu berenang sepuas hatinya. Di sisi kolam, Ari dan Shinta mulai bercumbu — Shinta mengapitkan kedua pahanya di pinggul Ari karena kurang tinggi. Ari bersandar di tepian kolam dan mencumbui leher serta bibir Shinta bergantian.
"Emmhh... oogghh... aagghh... Arr... shhss..." desah Shinta memulai permainannya.
Ijah mendekat ke arah Ari dan Shinta dan mengambil tempat di belakang Shinta. Ia membantu mengikat rambut Shinta. Kemudian Ijah perlahan melepas pakaian renangnya dan menempelkan dada montoknya di punggung Shinta.
"Ooohh... hangat... tetekmu, Bik... oohh, nikmat, Ar..." Shinta terbata.
Ijah kemudian menggosok dan sesekali menekan sambil diputar, menekan payudaranya di punggung Shinta secara teratur.
"Emmphh... aakhh... aagghh... sshh... nngghh... Ohh, Arii... lidahmu... geli... oogghgh... Ijah... Ijahh... oogghh... tetekmu... ooghh, putingmu geli..." ceracau Shinta tak karuan.
Ari melepaskan satu tangannya dari bokong Shinta dan melesak ke selangkangan Shinta.
"Aawww... uughh... pelan-pelan, Arr..." Shinta kesakitan karena Ari sedikit kasar tadi.
"Ar, penismu sudah tegang... masukkan ya," rajuk Shinta lalu merapatkan kedua dadanya ke dada Ari dan menggeser pinggulnya ke belakang.
Sedetik kemudian...
"Slerrpphh..." dan, "Aaagghh... aagghh... oohh... penismu panjang, Yang..." desah Shinta yang kemudian menggoyang pinggulnya pelan.
"Emmpphh... oohh... Arr... nikmat, Sayang..." Shinta merem melek.
Sensasi yang ia rasakan adalah kehangatan di antara dua tubuh dan pijatan air akibat gerakan maju mundurnya. Shinta masih bergelayut di pundak Ari, wajahnya ekspresif miring ke kiri, sementara Ari melingkarkan lengannya di tubuh kedua wanita itu. Ari memainkan lidahnya di rongga mulut Ijah untuk mencumbui wanita bahenol itu, dan tampaknya Ijah sudah sangat terangsang. Permainan mulutnya sangat lembut dan penuh birahi; wajahnya memerah menahan birahinya.
"Mmmpphh... Mas Arii... ookhh..." desah Ijah.
"Bik, puter lagi putingmu... cepat... aaughh... aku... akk... tak... kuwww..." Ijah tidak menjawab namun kedua putingnya ditekan keras lalu diputarnya; kedua tangannya memilin dan meremas payudara Shinta. Ari sendiri melepaskan kedua tumpuan tangannya di pantat Shinta karena Shinta sudah mempererat himpitan kedua pahanya di pinggangnya. Tangan Ari lalu menjelajahi pantat Ijah kemudian membukanya dan mulai bermain dengan kedua telunjuknya di area antara vagina dan pantat Ijah. Telunjuknya digosokkan pelan dari arah belakang.
"Ssshh... oohh... Mas... sshh... Arii... tusuk lebih dalam, Mas..." Ijah mulai menggigil.
"Arr... aawww... aawww... eengghh... oogghh... aku keluar... aahh... aahh... aahh... oogghh... ouughh... sshh... Arii... aku geli..." Shinta lalu mencabut gigitan vaginanya karena geli menahan orgasmenya kali ini. Ia mendorong kuat-kuat kedua kakinya ke dinding kolam sampai Ijah terhempas ke belakang dan gelagapan.
Kemudian Shinta berenang ke tepi, berjalan mengambil handuk, lalu duduk di kursi menenggak jamu buatan Ijah.
"Maaf, Bik, tadi aku ngilu banget... sekarang milikmu," kata Shinta.
Ari sejak tadi hanya terdiam karena spermanya sebetulnya tadi ingin segera ia semprotkan ke rahim Shinta, dan kini tertunda. Akan tetapi kekecewaannya terobati setelah Ijah mendekatinya lalu mengajaknya ke tepi kolam. Ijah memposisikan dirinya dalam gaya doggy style kesukaannya, dan dari sisi kolam yang dangkal Ari menghujamkan 16 cm penisnya keras-keras ke vagina Ijah. Ijah sendiri sebetulnya suka seks gaya sedikit keras, dan tampaknya ia menikmati kocokan Ari.
Kocokan demi kocokan, Ijah terus melenguh, mendesah, kadang menghempaskan tubuhnya menahan geli. Akan tetapi Ari kali ini tidak mau melepaskan mangsanya begitu saja — ia mencengkeram pinggul Ijah erat sehingga membuat Ijah semakin kelonjotan berteriak-teriak kegelian bercampur nikmat yang amat sangat.
"Mas Arii... aku... aaghh... aaghh... aaghh... oohh... mau... lagi..." teriak Ijah panjang.
Ari makin keras menghujamkan penisnya ke dalam rahim Ijah, dan semenit kemudian Ari dan Ijah berteriak keras bersamaan melepas semua beban birahinya. Shinta hanya tersenyum kelelahan di kursi sana, lalu menawarkan minuman penghangat bagi Ari dan Ijah. Malam bergulir seiring dengan desahan manusia yang haus seks di rumah itu, mengiringi datangnya sang fajar.
Seminggu setelah kejadian itu, Ari putus dengan Sri dan resmi menjadi pacar Shinta. Rasanya mereka cocok dalam hal seks — beribu macam gaya telah mereka lakukan untuk meraih kepuasan birahinya. Ijah sendiri kemudian menjadi wanita panggilan papan atas, atas saran Shinta, daripada hanya sebagai pembantu.
TAMAT