18px

Istri Gila — Bagian 4

Istri Gila — Bagian 4

Kali ini Helen kembali dengan tempat makanan si Remus, anjing kami. Lalu dengan santainya dia menaruh tempat makanan anjing itu di lantai dan dengan gaya yang sangat elegan dia menyalakan sebatang rokok. Perlahan dia berjongkok tepat di atas tempat makanan anjing tersebut. Dengan pandangan yang sinis sambil merokok dia menatapku dan berkata:

"Loe haus kan? Sebentar lagi loe bakal dapet minuman yang sangat enak."

Lalu perlahan aku melihat cairan yang agak kekuningan memancar dengan deras dari memeknya. Dia kencing di tempat makanan anjing itu dengan menatapku sambil merokok. Setelah selesai dia bangun, menjambak rambutku kembali, menuntunku, dan menekan mukaku ke tempat makanan anjing tersebut — kemudian disuruhnya aku meminumnya.

"Ayo minum!! Minum kayak anjing, cepet!!" perintahnya sambil terus menekan mukaku ke tempat makanan anjing itu. Dengan perlahan kujilati dan kuminum air kencingnya dari tempat tersebut sampai habis.

"Enak nggak juice gua?" tanyanya. Aku diam saja karena aku merasa mual setelah meminumnya. Tiba-tiba rambutku dijambak ke atas ke hadapannya, lalu dengan keras dia menampar pipiku — PLAKK!!

"Anjing, gua tanya enak nggak, loe diem aja. Sekarang gua tanya lagi, enak nggak?"

"Enak Nyonya, enak banget..."

"Shh... hmm, gila sekarang gua horny banget, tapi kontol loe terlalu jelek buat gua, tapi gimana lagi yah," katanya dengan sinis. "Udah, sekarang kamu tiduran, terus kocok kontol loe yang jelek — gua pengen liat, mau nggak gua pake kontol loe, cepet!!" katanya sambil mendorongku sampai aku terjengkang.

Dengan perlahan kukocok kontolku sendiri. Lalu tiba-tiba dia berjalan menuju sepatunya, mengambilnya, lalu melemparkannya kepadaku sambil berkata:

"Nih, ciumin dan jilatin sepatu gua sambil loe kocok kontol loe."

Dan aku mulai menciumi sepatunya dan menjilatinya sambil mengocok kontolku yang sudah mulai mengeras.

"Ooh enak Nyonya, sepatu Nyonya baunya, ahh iyah Nyonya," kataku tanpa kusadari, dan entah kenapa aku menjadi sangat horny.

Setelah kontolku menjadi sangat keras, dengan perlahan dia berjongkok dan tangannya menarik kontolku dengan sangat kasar sampai aku merasa kesakitan, lalu mengarahkannya ke memeknya. Ooh inilah yang kutunggu-tunggu, damn gua pengen banget ngerasain memeknya, pikirku. Dengan perlahan dia memasukkan kontolku ke dalam memeknya dan menggoyang-goyangkan pantatnya dengan gerakan yang berputar.

"Enak sekali Nyonya, terus Nyonya," kataku. Tapi dia hanya diam saja dan tiba-tiba berkata:

"Gila, kontol loe nggak enak nih," bentaknya sambil menatapku dengan sinis. "Tapi shit, apa boleh buat, nggak ada kontol lain. Dildo gua aja ketinggalan di rumah papa," katanya lagi sambil menggoyangkan pantatnya naik turun dengan gerakan memutar dan mata yang merem melek.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki dan ada yang berteriak:

"Nyonya? Pak?"

Ternyata satpamku masuk. Aku kaget sekali dibuatnya. Shit, mati gua, satpam gua ngeliat, pikirku. Tapi dengan tanpa ekspresi terkejut, Helen menjawab:

"Iyah, kenapa, Pak Bandi?" tanyanya sambil terus mengentot kontolku.

Dengan tiba-tiba Helen bangun dari kontolku yang sudah meloyo karena aku terkejut. Dia berdiri di hadapan satpam tersebut dalam keadaan telanjang.

"Pak, coba Pak, saya lihat kontol Bapak — kontol suami saya loyo," katanya sambil tangannya mengarah ke bagian celana Pak Bandi dan merogohnya.

"Nyah, jangan Nyah, wah nggak enak sama tuan," kata Pak Bandi.

"Udah, cepet turunin celana kamu, kamu mau yang enak nggak?" kata Helen istriku sambil tersenyum nakal. "Bapak kan pasti mau juga kan? Masa sih nggak mau? Kok kontolnya keras kalau nggak mau?" ujarnya sambil tangannya merogoh kontol si satpam yang beruntung itu.

Tak tahu kenapa, tapi saya menjadi sangat horny melihat adegan seperti itu hingga dengan tanpa sadar aku mengocok kontolku yang kembali tegang sambil melihat istriku yang sudah gila itu merayu si satpam untuk mengentotnya. Lalu dengan perlahan dia berjongkok di depan si satpam sambil memohon:

"Ayoo Pak, saya pengen lihat nih kontol Bapak," pintanya sambil membuka buckle ikat pinggang si satpam, menurunkan resleting celananya, dan mengeluarkan kontolnya.

Oh my God, ternyata si satpam mempunyai kontol yang panjang dan berdiameter besar. Si satpam yang masih malu-malu itu mencoba menghindar. Tetapi dengan tidak tahu malunya, istriku memaksa untuk memasukkan kontol si satpam yang besar itu ke dalam mulutnya.

"Ahh ini kontol gede sekali dan enak, macho sekali dengan warna yang agak kehitaman, besar dan penuh dengan urat-urat kejantanan, ahh enak sekali, nggak seperti kontol suami saya tuh yang kecil," katanya sambil mengulum dan menghisap kontol si satpam itu dan memandangku dengan hina.

Pak Bandi yang tadinya malu-malu sekarang menjambak rambut istriku dan menghunjam-hunjamkan kontolnya ke dalam mulut istriku sambil meracau:

"Ooh gila, mulut Nyonya enak nih... Arrgghh enak sekali, terus Nyonya, sepong terus kontol saya, Nyonya kan suka."

"Iiyyahh Pak, kontol Bapak enak juga... Pake Pak, mulut saya, entot mulut saya..." kata istriku yang sudah lupa daratan karena birahi.

Saya hanya bisa memandang dengan perasaan marah dan kesal, tapi di samping itu aku juga horny berat sampai-sampai kontolku menjadi tegang sekali. Dan aku pun mengocok kontolku sambil melihat pemandangan yang gila itu.

Gila Helen, cewe anggun begitu sampai kontol satpam saja dia suka — aku sendiri pun tak percaya melihatnya. Setelah puas mengulum dan menghisap kontol Pak Bandi satpamku yang sangat beruntung itu, dia duduk di sofa dan menyuruh Pak Bandi untuk memasukkan kontolnya ke dalam memeknya.

"Ooh Pak Bandi, saya sudah nggak tahan lagi, Bapak mau kan muasin saya?" tanya Helen.

Lalu dengan buasnya Pak Bandi memasukkan alatnya yang begitu besar ke dalam memek istriku dan mulai menggenjotnya. Kontan istriku mendelik dan berteriak:

"Aah gila nih kontol be-be-besar se-se-kali, ahh ooh yah, eenak sekali, tterus Pak, entotin saya!"

Kontan Pak Bandi si satpam menjadi sangat buas mengentot istriku, memompanya dengan sangat kuat.

"Oohh ooh ooh, Pak, saya mau keluar nih, saya hampir sampai!"

Dengan makin gila Pak Bandi memompa dengan kuat memek istriku sampai akhirnya:

"Aah gilaa, gua kkeluar!!" jerit Helen sambil tangannya meremas pantat Pak Bandi si satpam. Tapi rupanya si satpam masih kuat dan masih bernafsu untuk menikmati vagina istriku. Dia tetap memompa hingga istriku mendelik dan mendesah kenikmatan. Sambil memandangku, dia berkata:

"Nih lihat monyong, kontol tuh kayak gini, enak, nggak kayak punya loe," bentaknya padaku sambil terus menikmati kenikmatan yang Pak Bandi berikan. Tiba-tiba Pak Bandi sudah tidak tahan dan mulai berteriak:

"Ahh ahh ahh, Nyonya, saya mau keluar, Nyonya, ooh ooh!"

"Pak, keluarkan di mulut saya, saya ingin merasakan peju Bapak," katanya dengan penuh nafsu.

Lalu Pak Bandi mencabut kontolnya dan mengarahkannya ke muka istriku hingga memuntahkan air maninya ke situ. Dan dengan tanpa rasa jijik Helen istriku yang gila itu menelan dan mengulum air mani Pak Bandi di hadapanku. Akhirnya dengan tersenyum puas dia berkata:

"Terima kasih ya Pak, enak sekali peju dan kontol Bapak, saya dibikin puas olehnya. Untung ada Bapak, kalau tidak saya nggak akan bisa puas dengan kontol suami saya. Lain kali kalau Bapak lagi horny, masuk aja, OK?"

Katanya sambil mencium kontolnya lagi. Si satpam tersenyum dan berkata:

"Iyah Nyonya, memek Nyonya juga enak sekali. Belum pernah saya merasakan wanita secantik dan seseksi Nyonya."

Kemudian istriku berdiri dan merangkul si satpam sambil berkata:

"Temenin saya mandi yuuk, siapa tahu nanti di dalam alat Bapak berdiri lagi."

Dengan tanpa memperhatikanku sama sekali, Helen menarik tangan si satpam membawanya menuju kamar pengantin kami dan ke kamar mandi. Di sana aku dengan kontol yang masih sangat tegang hanya bisa memperhatikannya sambil mengocok kontolku. Ahh, betapa malangnya nasibku...

Tamat

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya