Lily Panther: Menggapai Matahari (Bagian 2)
Lily Panther: Menggapai Matahari (Bagian 2)
Posisi doggie yang dia minta tak menurunkan hasrat birahiku—sodokan demi sodokan menghantam rahimku, terasa sakit dan nikmat. Sesekali ditariknya rambutku ke belakang sambil menyodok keras; desahan bebas lepas memenuhi kamar ini. Aku benar-benar bebas mengekspresikan kenikmatan yang kuraih, tanpa beban, tanpa malu—semua kulakukan dengan penuh perasaan, seakan tak ada lagi hari esok.
Setelah beberapa lama mengocokku, akhirnya kurasakan semprotan keras menghantam dinding vaginaku seiring dengan cairan hangat yang membasahi dan memenuhi relung-relung kenikmatanku. Aku menjerit kaget dan nikmat bersamaan dengan jeritan orgasmenya; dicabutnya penis itu dan diusap-usapkan ke pantatku. Kurasakan spermanya meleleh keluar membasahi pahaku, dan akupun telungkup dalam kelelahan nan nikmat. Napas kami menderu seperti habis berlari-lari; dia mengusap punggungku dengan mesranya.
"Kita ke Tretes yuk," ajaknya setelah napas kami normal kembali tak lama kemudian.
"Kapan? Udah lama aku tak ke sana," dengan girang kusambut ajakannya.
"Sabtu lusa deh kita berangkat, nginap semalam, Minggu sore baru balik—gimana?"
"Asal tidak keduluan tamu bulanan yang satu itu," jawabku. Dia hanya tersenyum; kucium keningnya dan kunaiki perut buncitnya. Kubiarkan spermanya menetes keluar mengenai perutnya, lalu kutinggalkan ke kamar mandi.
Layaknya pasangan yang sedang berbulan madu, kami habiskan malam itu dengan penuh gairah—tiada waktu yang terbuang sia-sia, seperti orang yang kehausan di padang pasir. Tak malu aku membangunkannya di tengah malam hanya karena ingin bercinta; tentu saja dia menuruti permintaanku dengan senang hati, dan tak perlu terburu-buru karena yang kami punya saat ini adalah waktu yang panjang. Tak kuhiraukan lagi kenyataan bahwa aku melakukan ini tanpa dibayar—justru itu yang membuatku terbebas dari beban.
Ketika kubuka mataku keesokan paginya, sejenak agak asing rasanya melihat sosok laki-laki masih berada di ranjangku, masih tertidur. Biasanya setiap bangun di pagi hari—agak siang sih—selalu kutemui kesendirian dan kesunyian di kamar; kali ini terasa lain, ada Koh Wi di sampingku. Selama di Hilton, belum pernah aku "keluar kandang" dan menginap sampai pagi begini. Biasanya sebelum pukul 06.00 aku sudah meninggalkan tamuku kembali ke Hilton, karena memang tak pernah sempat tidur pulas—selalu "diganggu" dikala tertidur—baru kulanjutkan tidurku sesampai di kamarku sendiri di Hotel Hilton.
Pukul 09.00, Koh Wi berangkat ke kantor, meninggalkanku sendirian di kamar. Kuantar dia sampai di pintu kamar, masih mengenakan piyama tanpa pakaian dalam; dikecupnya keningku sebelum pergi. Kembali kurasakan kesepian sepeninggalnya. Terus terang aku tak tahu dari mana harus memulai untuk melanjutkan perjalananku—tak seorang pun yang kukenal di duniaku kecuali Om Lok. Entahlah, kupikir nanti saja setelah renang dan sarapan.
Kuhabiskan waktu pagi di hari Jumat itu di kolam renang; bahkan makan pagi kulakukan di pinggir kolam. Kusadari beberapa pasang mata memandangku penuh, tapi tak kupedulikan. Waktu makan siang, Koh Wi datang untuk makan siang bersama dilanjutkan dengan percintaan kembali hingga pukul 14.00, lalu dia kembali ke kantornya. Besok paginya kami tidak jadi berangkat karena keduluan datangnya tamu bulanan—tapi bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa; justru kerjaku lebih berat karena harus melakukan oral untuk membuatnya orgasme, meskipun begitu aku melakukannya dengan senang hati tanpa keterpaksaan.
Kami lewati hari-hari yang menyenangkan; tiap jam istirahat Koh Wi menjengukku untuk makan siang atau sekadar quickie. Di samping itu, aku sudah mulai melakukan kontak dengan tamu yang sudah memberi nomor teleponnya. Beberapa tamu bahkan telah menghubungi lewat pager, hanya berselang dua hari setelah kepindahanku, tapi dengan berbagai alasan aku sementara menghindar.
Ternyata lepasnya aku dari genggaman Om Lok sudah menyebar di kalangan GM kelas atas—entah dari mana mereka mendapat informasi itu, padahal aku tidak mengenal mereka. Beberapa GM menghubungi via pager ingin membicarakan "bisnis"; tentu kusambut dengan tangan terbuka—semakin banyak semakin bagus, pikirku. Diam-diam tanpa setahu Koh Wi, aku menemui mereka sambil makan pagi atau sambil menemani berenang di hotel, tentu saja membicarakan tarifnya. Dari sini aku mulai melihat jalan ke depan sudah terbuka. Selama masa haid, kulakukan kontak untuk memastikan bahwa aku masih eksis; bahkan beberapa sudah melakukan appointment. Tentu saja saat ini tak bisa kulakukan di jam istirahat—paling tidak setelah pukul 14.00 dan selesai sebelum pukul 17.00. Meskipun Koh Wi tahu profesiku memang itu, tapi sementara aku harus menjaga perasaannya, walaupun dia tidak pernah mengucapkan larangan atau izin—entahlah nanti.
Part 2
Hari itu hari Senin, tepat sehari setelah masa haid berakhir. Setelah melayani Koh Wi di siang itu dengan penuh gairah—karena sudah menahan hasrat birahi selama haid—aku segera menghubungi tamuku di kamarnya di lantai 8. Sengaja kuarahkan dan kubantu tamuku untuk check-in di hotel itu supaya tidak terlalu lama di perjalanan, tentu saja menggunakan nama asliku; tak seorang pun tahu. Di samping itu aku juga merasa lebih aman kalau melakukannya masih di hotel. Kukenakan celana jeans dan kaos yang ketat sehingga terkesan seksi, apalagi ditambah bra push-up yang makin menonjolkan lekuk-lekuk tubuhku. Dengan tinggi 167 cm ditambah sepatu hak 7 cm, aku yakin akan membuat laki-laki normal menelan ludah.
Pak David—atau lebih akrab kupanggil David—adalah tamu pertamaku sebagai wanita panggilan; dia adalah salah satu tamu yang datang di hari-hari terakhirku di Hilton. Di usia yang relatif muda, mungkin 40 tahunan, dia mempunyai beberapa toko aksesori mobil, salah satunya di daerah Kedungdoro. Pada mulanya dia menolak ketika kuajak, tapi dengan bujuk rayu dan tarif "perkenalan" untuk orang dan servis yang sama, akhirnya dia setuju tertarik.
Sesaat David terpesona melihat penampilanku yang lain dari sebelumnya—sekarang jauh lebih modis, rambut model shaggy dan disemir agak kemerahan menambah pesonaku.
"Kamu makin cantik dan seksi," pujinya ketika kami sudah berada di kamar, dan langsung mencium kedua pipiku.
"Udah makan?" tanyanya sambil mulai melucuti pakaianku.
"Nggak, lagi diet," jawabku bohong, membalas melucuti pakaiannya.
"Mandi dulu yuk, biar segar," ajakku setelah kami sama-sama telanjang. Kutuntun dia ke kamar mandi dan kumandikan; tangannya tak pernah berhenti menjamah seluruh tubuhku selama kumandikan. Kini kubiasakan untuk mengajak tamuku mandi sebelum bercinta—selain biar bersih dan segar, juga untuk menghilangkan bau keringat, terutama di daerah selangkangan.
Akhirnya kami berpelukan telanjang dan saling melumat bibir di atas ranjang; ciuman penuh nafsu menyusuri leher dan dadaku, diremas-remas dengan gemas sambil mengulum kedua puncak bukitku. Kurasakan kenikmatan mulai menjalar di sekujur tubuhku; aku menggeliat. Sejenak pandangannya terpaku ketika melihat selangkanganku yang gundul—dia menatapku tersenyum, lalu mulai menjilati klitorisku. Aku mulai mendesah, dan desahanku makin keras saat lidahnya mulai bermain di bibir vaginaku. Tak kupedulikan bahwa belum sejam yang lalu vagina itu telah diobok-obok penis Koh Wi dan dibanjiri spermanya—aku yakin tak ada lagi sisanya karena sudah kucuci bersih. Begitu bergairah David menjilati vagina gundulku sambil jari tangannya ikutan mengocok.
Kami berganti posisi—dia telentang menikmati jilatan dan kulumanku pada penisnya yang tidak sebesar punya Koh Wi, tangannya meremas-remas rambutku. Kuminta dia mengangkat kakinya; kujilati penisnya hingga ke pangkal, terus turun sampai ke lubang anusnya. Belum pernah kulakukan hal itu pada tamuku sebelumnya, tapi sudah sering terhadap Koh Wi. Banyak improvisasi bercinta yang kulakukan—sebagai "kelinci percobaan" kulakukan terhadap Koh Wi; kalau dia menyukainya berarti laki-laki lain aku yakin pasti suka. Kucoba memberikan kesan dan kepuasan tersendiri pada tamuku kini.
Desahan David makin keras ketika lidahku dengan lincah bermain di sekitar lubang anusnya; kepalanya diangkat, menatapku yang masih di selangkangannya, seakan tak percaya aku melakukannya. Kami ber-69—vaginaku tepat di atas wajahnya, dia langsung menjilat dengan rakus, begitu juga aku terhadap penisnya.
Puas bermain oral dan vaginaku sudah basah terangsang, aku berbalik menghadapnya. Dengan posisiku di atas, kuusapkan penisnya yang menegang ke vaginaku; perlahan kuturunkan tubuhku dan melesaklah penis itu ke vaginaku—penis kedua yang kurasakan setelah seminggu hanya merasakan penis Koh Wi.
Ooohh, sungguh nikmat merasakan penis yang lain. Padahal dulu aku biasa merasakan lebih dari tiga penis dalam sehari—lebih dari tiga penis yang berbeda bentuk dan ukurannya selalu mengobok-obok vaginaku setiap harinya—tapi kini lain rasanya, begitu kunikmati perbedaannya. Baru kusadari nikmatnya perbedaan setelah hanya kurasakan satu macam. Mungkin itu yang membuat orang sering selingkuh, untuk mencari nikmatnya perbedaan dari satu wanita ke wanita lainnya di luar yang sudah ada di rumah.
Kudiamkan sejenak setelah semua penis itu melesak di vaginaku; kupandang wajah David yang penuh nafsu. Ditariknya tubuhku dalam pelukannya dan dilumatnya bibirku sambil mulai mengocokku dari bawah. Aku mendesah dekat telinganya; kocokannya makin cepat dan pelukannya makin erat. Kami sama-sama mendesah nikmat, memacu nafsu menuju puncak kenikmatan.
Kulepaskan pelukannya; aku mulai mengocok, tubuhku turun-naik di atasnya sambil mengelus-elus paha dan kantong bolanya. Aku menggeliat nikmat ketika tiba-tiba dia menyodokku dari bawah; kedua tanganku bertumpu di pahanya, kugoyang pantatku. Dia mendesah, mencengkeram buah dadaku, membalas goyanganku dengan kocokan.
Ditariknya kembali tubuhku dalam pelukannya; kami bergulingan. Kini posisiku di bawah—menindih tubuhku, dada dan napas kami menyatu dalam irama kenikmatan birahi. Penisnya makin cepat keluar-masuk vaginaku; kakiku kujepitkan di pinggangnya untuk mengimbangi, makin dalam kejantanannya menembus masuk liang vaginaku. Aku mendesah nikmat tak tertahankan.
Sebelum kugapai puncak kenikmatan, dia sudah terlebih dahulu menyemprotkan spermanya di vaginaku—cairan hangat terasa memenuhi rongga kenikmatanku disertai denyutan-denyutan kuat menghantam dinding-dindingnya. Aku menjerit melambung; dia terdiam menikmati saat-saat orgasmenya. Kugoyangkan pinggulku sambil memeras habis sperma yang masih tersisa; kudengar jeritan kaget tapi tak kuhiraukan—orgasmeku tinggal selangkah lagi dan aku tak mau kehilangan momen. Goyangan pinggulku makin kuat hingga akhirnya kugapai kenikmatan tertinggi; jeritan keras mengiringi orgasmeku sambil meremas rambut David.
Akhirnya kami berdua terkulai lemas tak bertenaga; tubuhnya masih di atasku. Detak jantung dan napas kami saling mengisi; diciumnya bibir dan keningku sebelum turun dari tubuhku. Kami telentang di atas ranjang dalam kelelahan.
"Kamu lebih hebat daripada sebelumnya," komentarnya tanpa memandangku. Cairan spermanya masih terasa menetes keluar dari vaginaku, dan kubiarkan saja.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.20—cukup lama juga kami tadi bercinta. Masih ada waktu lebih dari satu jam; cukup untuk satu babak panjang sekali lagi. Setelah beberapa lama kami telentang saling peluk, kutinggalkan dia dan kubersihkan tubuhku di kamar mandi, kucuci vaginaku dari spermanya. Kami bercinta sekali lagi dengan penuh gairah dan nafsu di sofa dan kamar mandi—tak sedetik pun waktu kami biarkan berlalu tanpa desahan penuh nafsu hingga kami sama-sama terkulai tak bertenaga.
Pukul 16.45 aku sudah kembali ke kamarku. Inilah "perselingkuhan" pertamaku sejak bersama Koh Wi. Memang tidak ada ikatan atau perjanjian di antara kami, tapi dari nada bicaranya dia keberatan kalau aku bekerja kembali. Sebagai konsekuensinya dia memenuhi segala kebutuhanku termasuk uang jajan, meski nilainya jauh tidak sebanding dengan pendapatanku sewaktu di Hotel Hilton—namun ada kepuasan tersendiri dalam hal ini. Ketika Koh Wi datang, aku bersikap sewajarnya seperti tidak terjadi sesuatu, seperti hari-hari lainnya, dan kami pun bercinta di malam harinya.
Sejak saat itu aku lakukan "perselingkuhan" dengan tamu. Pada mulanya kulakukan di hotel yang sama, namun makin lama aku semakin berani untuk "keluar kandang" ke hotel lainnya asal masih di seputaran daerah itu. Meski demikian, aku tak pernah "melalaikan tugas" untuk melayani nafsunya tiap jam istirahat dan malam harinya—hampir setiap hari. Banyak alasan kalau dia menanyakan kepergianku: lagi ke rumah saudara, lagi shopping, lagi mencoba mobil baru, dan sebagainya.
Bersambung...