18px

Lily Panther: Menggapai Matahari (Bagian 3)

Lily Panther: Menggapai Matahari (Bagian 3)

Sepandai-pandai tupai bersandiwara, akhirnya tercium juga. Rupanya Koh Wi mempunyai mata-mata di hotel yang melaporkan kepergianku setiap siang. Sebagai seorang laki-laki yang sudah berpengalaman, tentu dia bisa mencium ada ketidakberesan. Pada suatu hari dia memberiku hadiah — sebuah handphone, yang waktu itu masih barang langka, tak banyak yang punya. Aku senang sekali; dalam benakku, tentu aku lebih leluasa bisa menghubungi tamu-tamuku. Tapi aku tak menyadari bahwa justru dengan adanya HP, aku malah tidak bisa bergerak bebas, selalu termonitor ke mana pun aku pergi.

Dalam seminggu, nomor HP-ku sudah beredar di kalangan GM dan para tamu. Hampir tiap pagi tak pernah berhenti berdering; sengaja kumatikan kalau ada Koh Wi untuk menghindari kecurigaan. Sejauh ini aku merasa berhasil memainkan sandiwara, dan beberapa kali berhasil lolos dari lubang jarum perangkapnya. Meski dia curiga, tak pernah aku tertangkap basah — dia hanya menyindir tanpa bukti nyata.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku hidup bersama Koh Wi, dan hidup berselingkuh darinya. Sepertinya semua berjalan normal tanpa hambatan dengan permainan kucing-kucingan ini.

Suatu malam kami bertengkar hebat. Dia menemukan sekotak pil KB yang selalu rutin kuminum, berikut sekotak kondom yang lupa kusembunyikan. Dituduhnya aku tidak tahu terima kasih, wanita tak tahu diri, dasar pelacur — dan segudang perkataan lain yang menyakitkan hatiku. Bahkan karena kami sama-sama emosi, dia menyepakkan kakinya ke pahaku. Aku menangis mendapat perlakuan kasar semacam ini; belum pernah seumur hidupku disakiti secara fisik seperti itu, meskipun penyiksaan batin telah sering kuterima.

Dia memang menghendaki aku hamil, tapi dari sisiku aku belum siap karena dia tidak bisa memberikan kepastian tentang masa depan hubungan kami. Sekali, tanpa sepengetahuannya, kugugurkan kandungan yang baru berumur satu-dua bulan — ya Tuhan, ampunilah aku — karena aku sendiri tak tahu dari benih siapa itu. Akhirnya malam itu juga kuputuskan untuk pergi dari kamar itu. Kukemasi semua barangku dan bersiap meninggalkannya. Melihat keseriusanku, dia mulai melunak; dia menghiba minta maaf, berlutut di depanku, dan berjanji tak mengulangi lagi. Kembali dia mengungkit kebaikan-kebaikannya dahulu. Emosiku sudah turun, naluri kewanitaanku terusik ketika dia mengingatkan kebaikannya terhadapku. Akhirnya aku pun melemah; kemarahanku mencair, hilang sudah kebencian yang sempat hinggap.

Kubelai kepalanya yang tersandar di pahaku dengan penuh kasih sayang — tak tega aku membuatnya bersedih. Kumaafkan apa yang barusan dia perbuat, seolah tidak pernah terjadi. Malam itu kami kembali bercinta dengan begitu bergairah; biasa, kalau pasangan habis bertengkar lalu berdamai, percintaannya selalu lebih menggairahkan. Sebagai kesungguhan permintaan maafnya, dia tidak ke kantor keesokan harinya, menemaniku sepanjang hari — dan sepanjang hari pula kami bercumbu dan bercinta, lebih bergairah dan lebih liar dari sebelumnya.

Namun kedamaian itu hanya berlangsung seminggu. Kali ini memang kesalahanku — aku tertangkap basah di Hotel Tunjungan. Siang itu ada seorang GM yang meneleponku untuk datang ke sana. Sebenarnya aku sudah tidak mau karena sudah terlalu sore, sudah pukul tiga lebih; tentu tidak enak kalau terburu-buru. Tapi dia berhasil meyakinkanku bahwa ini tidak akan lama karena dia pun diburu penerbangan ke Jakarta. Setelah berpikir sejenak, meluncurlah Panther-ku ke HT yang jaraknya tak lebih dari sepuluh menit dari tempatku.

Sesampai di tempat parkir, GM itu telah menungguku dan langsung membawaku ke kamar. Aku tertegun sesaat melihat tamuku — orangnya tampan dan masih muda, mungkin tidak lebih dari tiga puluh tahun. Namanya Herman. Beberapa menit GM itu menemani kami sebelum akhirnya meninggalkanku berdua dengan Herman. Sepeninggal GM, Herman dengan lembut menarikku dalam pelukannya. Aroma parfumnya sungguh menggairahkan; kami berciuman, bibir kami saling melumat. Kurasakan kehangatan dan kelembutan sentuhan bibirnya. Aku hanya memeluk dan menggosok punggungnya, tak berani lebih jauh sebelum dia mulai lebih dulu — itulah prinsipku, agar tidak terlalu dianggap norak.

Ciuman kami belum terlepas ketika tangannya mulai diselipkan di balik kaosku, mengusap punggungku dengan lembut. Seiring dengan ciumannya di leherku, tangannya sudah bergeser ke depan, menggerayangi dadaku, mengusap lembut kedua bukitku. Aku menggelinjang, mulai mendesah. Herman merebahkanku di ranjang; kami kembali berciuman, masih berpakaian lengkap, bergulingan di atas ranjang. Saling bercumbu, satu per satu pakaianku dilucuti, meninggalkan bra hijau satin yang masih menutupi buah dadaku. Dijilatinya dan diremasnya kedua buah dadaku tanpa melepas penutupnya. Aku mendesah sambil meraih selangkangannya yang mengeras di balik celana, kuremas-remas kejantanannya yang masih terkurung rapat — begitu keras, seperti hendak terlepas dari sangkarnya.

Herman telentang; kini giliranku. Kubuka kancing kemejanya sambil menciumi dadanya yang bidang berbulu, terlihat begitu macho. Desahannya mulai keluar ketika kujilati putingnya; jilatanku turun ke perut bersamaan dengan tanganku membuka celananya. Kejantanannya yang panjang dan keras langsung menyembul saat kulorot celana dalamnya. Tidak terlalu besar, namun panjang dengan bentuk melengkung ke atas, begitu kerasnya hingga berdiri seperti tugu pahlawan yang tegak menantang. Sedetik aku terkesiap akan keindahan yang ada di depanku — kupegang dengan lembut, kuremas, kukocok, kubelai, kuusapkan ke wajahku, kuciumi dengan gemas, benar-benar gemas bukan dibuat-buat. Lidahku menyusuri kejantanan yang indah itu dari kepala hingga pangkal, menari-nari di ujungnya. Beberapa detik kemudian kejantanannya sudah meluncur keluar-masuk mulutku; tak bisa semua masuk, tapi desahannya makin keras kudengar. Buah dadaku diremas-remas saat aku mengulumnya.

"Benar kata orang, kamu memang pintar oral," komentarnya di sela desahan kenikmatan.

Tak kuperhatikan; kepalaku masih bermain di selangkangannya, kujilat habis daerah kenikmatan yang ada di sekitar situ.

"Oooh... sshh... Ayo, Ly, sekarang," pintanya sambil menarik tanganku.

Aku segera berbalik, kusapukan kejantanannya yang makin tegang ke vaginaku — sengaja tak langsung kumasukkan, kugesek dan kuusapkan dulu.

"Come on... please..." desahnya.

Aku tersenyum melihat ekspresi wajah tampannya yang terbakar birahi. Perlahan kuturunkan tubuhku; perlahan penisnya memasuki vaginaku yang sudah basah. Sebelum semua masuk, kutarik lagi lalu kuturunkan kembali — kugoda dia. Aku begitu menikmati wajah-wajah dalam birahi. Herman meraih buah dadaku dan menekan tubuhku turun; melesaklah semua penisnya dalam vaginaku.

"Ooouugghh... ss..." aku mendesah. Betapa nikmatnya penis itu mengisi vaginaku. Pelan-pelan tubuhku turun-naik mengocoknya; kurasakan kenikmatan demi kenikmatan setiap kali penisnya tertanam penuh di dalam. Desahku makin keras seiring goyangan Herman yang mengimbangi.

Kami saling mengocok mereguk nikmat. Dia mencegah ketika kubuka bra-ku — biar tampak seksi, katanya. Tubuhku ditarik dalam dekapannya; dia mengocokku dari bawah. Desahku makin keras di dekat telinganya, berkali-kali kuciumi wajahnya yang tampan. Tak segan aku melumat dan memainkan lidahku di mulutnya — begitu menikmatinya aku bersama tamu ini.

Aku kembali duduk di atas penisnya, kuputar pantatku; vaginaku seperti diaduk-aduk oleh penisnya, makin nikmat rasanya. Aku bertahan sekuat tenaga untuk tidak segera mencapai puncak kenikmatan — terlalu sayang bila dilakukan dengan cepat, masih banyak yang kuharapkan darinya. Keringatku sudah mulai menetes, keringat kenikmatan. Goyangan dan kocokanku makin liar tak beraturan; tak jarang tubuhku kuturunkan dengan keras menghentak. Kejantanannya terasa begitu keras menghantam liang rahimku — sakit, namun bercampur kenikmatan.

Herman menaikkan tubuhnya hingga posisinya duduk memangkuku; kami saling berpelukan, kepalanya disusupkan di antara kedua buah dadaku yang terbungkus bra. Lidahnya menyusuri dadaku seiring kocokanku padanya; kuluman di putingku membuatku semakin cepat melambung tinggi. Gerakanku sudah tidak beraturan. Kuremas kepalanya yang masih menempel di dadaku dengan gemas; kami bergulingan berganti posisi. Kakiku dinaikkan ke pundaknya, kejantanannya makin dalam mengisi rongga kenikmatanku. Jeritan kenikmatanku semakin tak terkontrol, liar, seliar penis yang mengaduk-adukku. Sodokannya begitu keras, dihempaskannya tubuhnya ke vaginaku.

"Aagghh... aagghh... aagghh," desahku setiap kali kurasakan hentakan demi hentakan. Sepertinya aku tak bisa bertahan lebih lama lagi menghadapi keganasan dan kenikmatan yang dia berikan — puncak kenikmatan sebentar lagi kuraih. Namun tiba-tiba dia menghentikan gerakannya, mencabut penisnya. Aku menjerit protes dengan mata melotot, tapi senyuman nakalnya mengalahkan protesku.

Dibaliknya tubuhku bersiap untuk posisi doggie. Tanpa aba-aba, dengan sekali dorong dia melesakkan penisnya ke vaginaku — keras dan cepat sekali dorongannya. Aku terdongak kaget; kutoleh dengan ekspresi marah, tapi dibalasnya dengan senyuman menggoda. Rambutku ditarik ke belakang berlawanan dengan gerakan kocokannya, membuatku kembali terbuai dalam nikmatnya gelombang birahi.

Entah berapa lama kami bercinta; sepertinya jarum jam bergerak begitu cepat, terlupakan sudah batasan waktu yang kuberikan. Kami mengarungi lautan kenikmatan, gelombang demi gelombang kami kayuh bersama hingga berdua mencapai puncak, dan kami pun terkulai lemas di atas ranjang. Kami melanjutkan satu babak lagi sebelum tersadar bahwa jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 — berarti Koh Wi sudah pulang. Sesaat aku panik, tapi Herman menghiburku dengan belaian mesranya sehingga aku kembali terlupa.

Kegugupan menyergapku ketika HP-ku berdering — dari Koh Wi. Dengan nada tinggi dia langsung mendampratku; kata-kata pedas kembali terdengar, kali ini begitu panas dan lebih menyakitkan, apalagi masih ada Herman di sampingku. Entah dia mendengar atau tidak, segera kututup HP dan dengan berjuta alasan kutinggalkan Herman di kamar. Aku tahu dia kecewa, tapi kuminta pengertiannya.

Sesampai di kamar, terjadilah perang besar. Kami saling beradu mulut dengan kencang, mungkin terdengar dari luar. Alasan kepergianku tadi ternyata dengan mudahnya dipatahkan karena dia sudah curiga dan menyuruh orang untuk memata-mataiku. Aku tak bisa berkutik berhadapan dengan pengacara ini. Tak lupa, untuk kesekian kalinya dia mengungkit-ungkit "jasa-jasanya" mengeluarkanku dari Hilton, supaya aku "sadar" dan hanya menjadi miliknya. Tapi kali ini tak kugubris — tekadku sudah bulat untuk keluar pula dari kamar ini; aku sudah tak tahan dalam cengkeramannya. Malam itu juga aku segera mengemas semua pakaian dan milikku, tak lupa kutinggalkan barang-barang pemberian Koh Wi. Panther-ku penuh dengan tas dan koper; diiringi hujan rintik-rintik, kutinggalkan Hotel Garden Palace yang telah menjadi tempatku bernaung selama hampir tiga bulan.

Terus terang, aku tak tahu hendak ke mana tujuanku selanjutnya. Di malam seperti ini, dengan kepergian yang mendadak, tentu aku tak punya rencana — hanya kuikuti emosi. Yang jelas, aku harus pergi dari Koh Wi. Tanpa arah yang pasti, kususuri jalanan kota Surabaya. Baru kusadari sudah banyak terjadi perubahan; mungkin aku yang terlalu terlena dalam kehidupanku hingga tak sempat mengikuti perkembangan kota tercintaku ini. Akhirnya kuparkir mobil di sebuah hotel di Jalan Arjuna — entah hotel apa, aku tak ingat karena memang masih baru — dan check in.

Sendirian di kamar hotel yang sempit, aku merenungi perjalanan hidupku yang begitu cepat berubah. Kuabaikan HP yang berbunyi tanpa kuterima; sengaja aku ingin sendiri mencari jawaban atas makna hidup yang kulalui. Kukenang kebaikan dan kejelekan Koh Wi. Dari dialah aku terbebas dari suatu belenggu, meskipun masuk ke belenggu lainnya. Dari dialah kukenal dunia malam yang penuh hiruk-pikuk semu, bertabur temaram lampu diskotik dan hingar-bingar house music. Dari dialah kumulai mengenal apa itu ganja, ekstasi, dan sejenisnya. Semua kejadian itu kembali seolah membayang di depan mataku, hingga akhirnya aku terlelap dalam buaian angin malam.

Keesokan paginya aku seperti terbangun dari mimpi. Kudapati diriku tergeletak di kamar yang sempit dan jelek; tak ada ciuman selamat pagi, tak ada belaian mesra di pagi hari — semuanya kosong dan hampa, sehampa hatiku. Kini aku benar-benar terlepas dari lindungan orang; aku harus bisa bertahan dan berdiri sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Tak ada lagi orang yang menghiburku kala gundah, tak ada lagi laki-laki pelindung kala susah. Sendirian harus kulanjutkan perjalananku yang aku sendiri tak tahu menuju ke mana. Namun terlepas dari semua itu, tekadku sudah bulat — aku harus bertahan dan tetap bertahan tanpa menggantungkan harapan pada orang lain. Semua tergantung pada diriku sendiri.

Babak ketiga dalam hidupku telah kumulai setelah babak pertama di Hilton dan babak kedua di Hotel Garden Palace. Kini aku menjadi tuan atas diriku sendiri. Aku bisa menentukan kapan saatnya beristirahat, kapan saatnya menerima tamu, dan dengan siapa aku harus melayani — semua adalah keputusanku sendiri. Inilah saatnya memulai hidup freelance, mengarungi hidup seorang diri tanpa bimbingan dari orang lain, kecuali kata hati ini.

Tamat

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya