18px

Mistis Cinta di Pulau Terpencil - Bagian 1

Mistis Cinta di Pulau Terpencil - Bagian 1

Hembusan angin laut datang silih berganti meninggalkan bunyi mencicit pada ruas tali-temali dan tiang utama di atap kapal, yang di atasnya bertengger lampu berwarna merah dan hijau sebagai pemandu di waktu malam. Alun yang datang dalam gulungan besar, laksana permadani raksasa berwarna biru, menggulung, mengunung, dan seolah mau menelan kapal kayu yang sudah renta termakan asinnya air laut.

Bunyi mesinnya terdengar begitu ringkih, apalagi ketika haluan kapal mesti menyeruak menembus gulungan alun yang memutar tiada henti dan menyisakan buih putih ketika memecah. Di langit tak ada camar — awan hitam menggelantung menyisakan ujung runcing di kejauhan; badai sedang berputar tepat di jalur yang mesti kami lalui agar dapat mencapai pantai Padang.

Para penumpang kelihatannya berusaha agar tertidur dan dapat sejenak melupakan bayangan ombak serta gelombang maupun angin badai yang sedang bergolak dan menakutkan. Hanya bunyi ombak yang tak henti mendesis ketika pecah di lambung kapal dan bunyi deritan panjang yang keluar dari persendian kapal kayu yang sudah kering termakan umur. Bunyi deritan itu seperti sudah kukenal dengan baik.

"Di mana? Aku toh bukan pelaut?"

Aku membatin dalam hati sambil terus memusatkan perhatian, menyimak derit demi derit di setiap alun yang datang dan pergi. Oh Tuhan. Betul, betul sekali — bunyi deritan itu sangat mirip dengan bunyi deritnya ranjang kayu di Mentawai, yang kering tanpa pelicin.

Oh, bunyi itu. Bunyi yang selalu mengiringi setiap gerak dan geliat kami tatkala berpacu menikmati dan mereguk madu birahi yang terlarang.

"Upik, tolong lah. Aku sudah tak tahan lagi."

Pak Sitor menghiba sambil memegang pangkal kemaluannya yang panjang, hitam, dan berbentuk aneh. Kemaluannya sangat mirip ular kobra — kepalanya runcing mengkilat, makin ke tengah makin besar dan melebar, tetapi di bagian pangkalnya kembali mengecil, keras, hitam, dan kaku. Aku bergidik, merinding, membayangkan penis sebesar itu akan menusuk serta mengocok habis kemaluanku yang masih sempit karena belum pernah melahirkan dan masih dalam hitungan lima bulan sejak diperawani suamiku.

"Pak, saya takut. Jangan dulu dimasukin, Pak..."

Aku mencoba menghindar ketika Pak Sitor hampir berhasil menindihku. Saat itu kami sudah telanjang bulat. Aku sudah orgasme berkali-kali karena ternyata Pak Sitor, walaupun sudah berusia kepala empat, masih sangat lihai mempermainkan jari jemarinya serta menyedot dan memelintir kemaluanku dengan ujung lidahnya.

Di luar, hujan laknat masih menderu mencurahkan air dari langit — hujan inilah yang membuat Pak Sitor tidak bisa pulang ke rumahnya, setelah mengantarku dengan ojeknya tadi sore.

"Pak, sebaiknya bapak tidur di sini saja. Sangat bahaya kalau mesti naik motor dalam keadaan hujan dan gelap begini."

Memang akulah yang menawarkan hal itu kepada Pak Sitor. Aku berpikir toh dia sudah demikian akrab dan dekat denganku. Tiap pagi Pak Sitor menjemputku di rumah kayu ini dan mengantarkanku ke tempat kerja dengan ojeknya. Tidak pernah sekalipun dia terlambat menjemputku sehabis jam kantor — teng, jam empat dia sudah siap dengan motor bebeknya. Tidak ada pilihan lain selain mempergunakan ojek Pak Sitor sebagai sarana transportasi dari rumah ke kantorku. Ini adalah kepulauan yang masih terbelakang, masih serba terbatas, dan masih sarat dengan mistis.

"Iyalah, Pik. Tapi..." Dia kelihatan sedikit ragu-ragu.

"Jangan khawatir, Pak. Aku tidur di kamar dan bapak tidur di luar — nanti akan kubentangkan kasur."

Tiba-tiba listrik padam. Gelap menerpa di sekeliling kami.

"Wah, Upik, kau lihat tidak, tadi korek apiku kutaruh di mana ya?"

"Tidak, Pak. Saya nggak lihat. Waduh, gelap sekali, Pak."

"Oup!"

Tiba-tiba kami bertubrukan. Secara refleks Pak Sitor memelukku dan aku merasakan ujung payudaraku menempel erat di dadanya.

"Eeh, maaf, Upik. Aku kaget."

"Tak apa-apa, Pak."

Untunglah keadaan gelap gulita sehingga Pak Sitor tak tahu kalau wajahku memerah karena jengah bercampur gelisah. Tubrukan tadi telah membangkitkan rasa aneh di hatiku — rasa yang hanya pernah kualami ketika suamiku memeluk dan membelai payudaraku. Bulu-bulu halus di tengkukku tiba-tiba merinding, diikuti debaran jantung yang meninggi. Kerongkonganku seperti tersedak karena dadaku terasa menyesak serta napas jadi terengah-engah.

"Tidak. Tidak. Ini tidak boleh terjadi."

Aku bergumam meyakinkan diri sendiri. Pak Sitor adalah tukang ojek yang terlebih dahulu kenal dengan suamiku, ketika beberapa bulan lalu suamiku berada di sini sebelum berangkat ke Australia untuk tugas belajar.

"Dik, sini aku kenalkan dengan Pak Sitor. Yang kemaren motornya kupinjam dan kita pakai jalan-jalan."

Demikian suamiku memperkenalkan Pak Sitor kepadaku. Tidak ada yang istimewa dari penampilan Pak Sitor — kulitnya hitam terbakar matahari pulau yang selalu menyengat. Hanya saja badannya masih kelihatan kekar walaupun usianya hampir sebaya dengan ayahku. Pangkal lengannya padat berisi, dadanya bidang dan tegap, sementara wajahnya membayangkan watak keras dan pantang menyerah yang khas dimiliki orang-orang dari Sumatera Utara. Belakangan baru aku tahu kalau Pak Sitor dulunya adalah kuli angkat barang di Teluk Bayur — pantaslah tubuhnya kekar dan tegap.

"Upik..."

Aku menarik tanganku dari genggaman Pak Sitor yang agak kasar dan keras ketika kami bersalaman.

"Oh, ini ya istrimu, Uda!"

Pak Sitor selalu menyebut dan memanggil suamiku dengan sebutan uda. Aku tahu itu panggilan yang keliru karena uda sama dengan panggilan Mas kalau di Jawa, sedangkan Pak Sitor pantasnya malah kami panggil ayah.

"Bah, tak usah kau persoalkan masalah itu. Aku kalau ketemu orang Jawa selalu kupanggil Mas, tak ada yang protes."

Demikian sanggahan Pak Sitor ketika kami berusaha memberitahunya mengenai ketidaktepatan panggilan uda kepada suamiku.

"Waduh, kasian sekali kau, Upik — masih pengantin baru mau ditinggal pulak. Macam mana itu!"

"Itulah, Pak. Makanya aku titip istriku sama bapak. Tolong jaga dia, antar dan jemput dia ke kantornya setiap hari, dan untuk itu bapak akan dapat bayaran spesial dari kami. Tapi—"

Aku ingin membantah tetapi suamiku telah memotong kata-kataku dengan cepat sambil memeluk mesra bahuku.

"Sudahlah. Aku tahu Pak Sitor akan menjaga kamu dengan baik."

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku tidak setuju dengan keputusan suamiku. Aku sedikit takut melihat penampilan Pak Sitor yang terlalu macho untuk orang seusia dia.

"Tenang saja lah kau, Uda. Dia akan kujaga dengan baik. Akan kupastikan tak ada satu pun orang lain yang bakal mengganggunya di pulau ini."

"Terima kasih, Pak."

Suamiku menjawab sambil menggamit tanganku dan mengajakku memasuki rumah kami. Itu adalah hari terakhir suamiku berada di pulau bersamaku. Sebentar lagi aku mesti ke dermaga mengantar dia untuk kembali ke Padang dan terus ke Australia selama satu setengah tahun dalam rangka tugas belajar dari perusahaannya.

Tidak ada lagi air mata ketika aku melepasnya di pelabuhan — semua sudah tumpah ruah tatkala semalaman kami bercinta habis-habisan. Air mata dan air kemaluan kami mengalir menyatu dalam setiap pori kenikmatan yang kami pacu ronde demi ronde, seakan ingin menimbun stok orgasme untuk hari-hari penuh penantian selama kami berpisah.

Seiring perjalanan waktu, hubunganku dengan Pak Sitor semakin akrab dan kekakuanku sedikit demi sedikit mulai mencair. Sesuai tipikal orang dari utara, Pak Sitor bersifat terbuka, terus terang, dan pemberani. Beberapa kali aku diganggu lelaki iseng sewaktu mau ke pasar atau pulang jalan-jalan, tetapi semua mereka berubah hormat kepadaku begitu Pak Sitor menegur dan memarahi mereka.

"Eh, hati-hati kau. Jangan ganggu si uni itu, atau kau diberi ketupat Bangkahulu oleh lae Sitor."

Begitu yang pernah kudengar bisik-bisik mereka. Suatu pagi aku kaget ketika Pak Sitor datang tidak sebagaimana biasanya.

"Lho, Pak, kok motornya diganti?"

"Iyalah, ini berkat bayaran yang kau berikan tiap bulan itu."

"Tapi motor kemaren kan masih bagus, Pak."

"Betul, tapi kurang kuat. Apalagi jalanan kan tambah rusak sejak musim hujan ini."

Betul juga. Tidak jarang aku mesti turun dulu ketika motor memasuki lobang yang cukup besar karena motornya tidak sanggup membawa beban dua orang. Sekarang motor Pak Sitor adalah Yamaha RX King — memang lebih kuat dan lebih kencang walaupun hanya motor second.

Semenjak memakai motor baru, aku merasakan adanya kontak bodi yang lebih intens antara aku dan Pak Sitor, khususnya ketika kami berboncengan. Desain tempat duduk motor yang tinggi di bagian belakang serta posisi dudukku yang menghadap ke depan membuat tonjolan payudaraku sering menyentuh punggung Pak Sitor ketika motor direm mendadak atau memasuki lobang.

Pada awal-awalnya aku berusaha agar hal itu tidak terjadi dengan menempatkan tasku sebagai pembatas, tetapi hal tersebut membuatku hampir jatuh ketika motor masuk lobang dan tasku ikut bergeser seakan mau jatuh. Reflek aku memegangnya — akibatnya peganganku ke sadel motor terlepas dan aku hampir terpelanting.

"Bah, hati-hati kau, Upik! Bisa bahaya kalau kau lebih perlu sama tas daripada keselamatan diri kau!"

Pak Sitor memperingati aku dengan sedikit keras karena akibat pergerakan tubuhku tadi, motornya hampir masuk selokan.

"Maaf, Pak, aku nggak sengaja."

"Ya sudahlah. Sini, tasmu akan kutaruh di tangki bensin agar kau lebih leluasa berpegangan."

Akhirnya aku pun menyadari bahwa Pak Sitor sepertinya sengaja melarikan motornya dengan kencang dan tiba-tiba direm mendadak agar payudaraku bisa menempel ke punggungnya. Semula aku sempat marah, tetapi lama-lama ada suatu dorongan dari hatiku — kenapa tidak dinikmati saja, cuma nempel kok!

Terus terang, tiap kali payudaraku menempel di punggung Pak Sitor, biasanya dia akan meliukkan motornya ke kiri dan ke kanan sehingga punggungnya terasa bergesekan dengan putingku. Aku memejamkan mata menikmati sensasi liar itu. Aku tahu dengan pasti Pak Sitor juga menikmatinya, tetapi kami sama-sama diam dibawa angan masing-masing. Kadangkala ketika rumahku tinggal beberapa meter lagi, Pak Sitor sengaja membelokkan motornya.

"Upik, nanti aku akan langsung pulang ke rumah. Jadi aku tambah bensin dulu ya."

"Iya, Pak."

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya