Mistis Cinta di Pulau Terpencil - Bagian 2
Mistis Cinta di Pulau Terpencil - Bagian 2
Aku tahu itu hanya akal-akalan Pak Sitor agar aku lebih lama duduk di boncengannya, dan dia pun dengan sengaja menempuh jalan memutar menuju ke kedai bensin. Sampailah pada suatu sore di mana di kantorku begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari itu juga, karena laporannya mesti dikirim dengan kapal besok pagi ke kota Padang.
"Pak, aku pulang habis maghrib. Jadi bapak ke sini aja nanti ya."
Aku memberi tahu Pak Sitor ketika jam empat tadi dia sudah standby di depan kantorku.
"Oh, iyalah. Kalau begitu bisalah awak narik satu dua tarikan lagi ya."
Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum dan Pak Sitor segera berlalu dengan cepat. Pak Sitor datang tepat waktu — pas habis maghrib dia sudah membunyikan klakson motornya di depan kantorku yang gelap karena tidak pernah ada lampu penerangan.
"Iya, Pak. Sebentar aku rapikan kertas dulu."
Aku menyahuti panggilan klakson Pak Sitor yang sudah ber-tit-tit-tit berkali-kali. Dalam hati aku ngedumel. Nggak sabar amat sih jadi orang!
"Bah, lama kali kau! Aku khawatir nanti kehujanan — kau lihat lah langit itu. Sudah mau runtuh dia."
"Oh, maaf Pak. Saya kira gelap karena sudah malam aja."
"Habis kau dari pagi sampai malam begini cuma melotot melihat kertas — mana kau tahu mau hujan apa tidak!"
Aku segera melompat menaiki sadel motornya. Kulihat langit memang sudah hitam pekat dan angin bertiup dengan kencang seperti mau mematahkan barisan pohon nyiur yang berderet di pinggir pantai.
"Kau pegang yang kuat ya. Aku mau kencang dikit biar kita tak kehujanan."
Belum sempat habis omongannya, motor sudah berjalan dengan kencang. Mau tidak mau aku harus memeluk tubuh Pak Sitor dari belakang. Napasku mulai terasa sesak begitu merasakan sentuhan punggung Pak Sitor pada payudaraku. Sentuhan itu mengirimkan rangsangan melalui puting susu dan menjalar ke sekujur tubuh serta membuat bulu-bulu halus di kudukku jadi meremang.
Pandanganku nanar, tubuhku terasa lunglai. Apalagi aroma rambut Pak Sitor yang asli dan alami telah mempercepat degup jantungku. Akhirnya kurebahkan tubuhku sepenuhnya memeluk erat punggung Pak Sitor. Aku tak peduli lagi motor itu mau kencang atau tidak, aku tak peduli hari mau hujan atau tidak. Yang ada di hati dan otakku adalah rasa senang bisa menikmati duduk berdempetan dengan laki-laki.
Ingin rasanya tanganku kuturunkan dari pinggang ke selangkangan Pak Sitor, tetapi rasa malu masih tersisa jauh di lubuk hatiku. Niat itu aku urungkan — hanya pipiku yang kutempelkan tepat di bawah ujung rambut Pak Sitor. Melalui telingaku dapat kurasakan getaran hebat sedang terjadi di tubuh Pak Sitor; jantungnya berdebar kencang dan motor pun jadi melambat. Tubuh Pak Sitor yang biasanya membungkuk memegang stang motor sekarang berdiri tegak dan duduknya pun seperti sengaja digeser lebih ke belakang.
Tanpa kusadari posisi dudukku sekarang sudah semakin mengangkang. Apalagi jalanan sepi serta gelap gulita — maklum daerah terpencil, ditambah lagi dengan keadaan hujan yang akan segera turun. Aku memakai celana panjang dengan bahan yang cukup tipis sehingga aku dapat merasakan bagian alat vitalku menempel ketat ke pinggang Pak Sitor. Pelukanku semakin rapat dan denyut jantung serta denyut vaginaku berpacu di pinggang dan punggung Pak Sitor.
"Upik, kita sudah sampai."
"Oh!"
Aku terperanjat dan kaget karena konsentrasiku saat itu hanya sebatas payudara dan vaginaku yang terasa mulai basah. Setelah lebih sembilan bulan ditinggal suamiku ke Australia, tuntutan kebutuhan batin itu semakin hari semakin menggila. Tak heran, sedikit saja tersentuh, alat vitalku segera bereaksi.
Begitulah awal mula dari malam laknat tersebut terjadi antara aku dan Pak Sitor.
"Bah, lama kali lampu ini padam. Biasanya setengah jam sudah nyala lagi."
"Iya, Pak. Mungkin ada pohon tumbang dan memutus kabel listrik — maklum angin dan hujan kencang begini."
Aku harus berteriak memberikan jawaban karena suaraku hilang di sela-sela gemuruh air hujan yang mengguyur atap rumah yang terbuat dari seng.
"Upik, sudah jam berapa ini?"
"Hampir jam sepuluh, Pak," jawabku.
"Aku harus pulang. Hujan begini bisa-bisa besok pagi baru berhenti."
Pak Sitor berkata sambil berdiri dan menggulung kaki celananya. Saat itulah, tanpa kusadari, ada sesuatu yang mendorong mulutku untuk bicara. Aku sudah berusaha menolak bisikan itu tapi aku tak kuasa. Dia seperti datang dari jauh, membisikkan kata dengan penuh gema dan kekuatan gaib.
"Upik, jangan biarkan dia pulang. Hanya dia satu-satunya manusia yang dapat menemanimu dalam gelap seperti ini."
Aku seperti mencium bau wangi yang aneh yang datang entah dari mana. Ya, itu bau kemenyan putih yang dibakar.
"Hai, Upik, kenapa kau melotot seperti itu? Apa yang kaulihat?"
Pak Sitor menghampiriku dalam keremangan lampu dinding. Aku masih terkesima oleh bisikan dan wanginya bau kemenyan itu.
"E... eh, nggak, Pak, nggak apa... maksud sa... ya..." Tidak, aku tidak boleh mengatakan itu. Aku coba melawan bisikan gaib itu.
"Eh, macam mana kau ini! Ada apa, Upik? Kok kau seperti melihat hantu? Tak perlu takut, Upik — dalam hujan lebat begini, jangankan orang, hantu saja sudah segan jalan keluar. Jangan khawatir."
Pak Sitor seperti sengaja memberikan intonasi yang berat ketika mengucapkan kata hantu. Apakah dia tahu kalau aku memang sangat takut dengan hantu, walaupun aku belum pernah melihat hantu itu seperti apa.
"Kalau dia pergi, kau akan tinggal sendiri dalam gelap dan sunyinya malam!"
Bisikan itu kembali datang mendera. Sementara bau kemenyan semakin semerbak membuat kepalaku mulai pusing. Ketakutan tiba-tiba menyelimuti segenap jiwa dan ragaku; aku mulai kehilangan kontrol atas pikiran warasku.
"Pak... jangan pulang."
Kata-kata itu terlempar keluar dari mulutku begitu saja. Aku tak menghendaki perkataan itu tapi aku juga tak kuasa mencegah bibirku untuk mengucapkannya.
"Di luar gelap, Pak, dan hujan masih deras. Nggak usah pulang."
Aku semakin kehilangan orientasi. Tubuh dan jiwaku seperti dikuasai sesuatu — aku tak berdaya untuk bertindak dan berpikir sesuai keinginanku. Oh Tuhan, kekuatan apa yang telah merasuk ke jiwaku.
"Baiklah, aku temanin kau malam ini. Tapi tolong panaskan air, aku ingin minum kopi."
Seperti robot aku mengikuti permintaan Pak Sitor. Aku ingin membantah dan bicara, tapi lidahku kelu dan sama sekali tak bergerak ketika otakku memberikan perintah.
"Wah, sedapnya kopi buatanmu ini, Upik — sama seperti orangnya, manis."
Pak Sitor tiba-tiba sudah merangkul bahuku dan kepalaku jatuh dalam pelukannya. Aku hanya diam. Kemana kekuatan dan keberanianku selama ini? Dia bukan suamiku — dia hanya tukang ojek, tua dan hitam! Tapi aku tak kuasa menolaknya. Tepat di ubun-ubun kepalaku, panasnya napas Pak Sitor menyengat tersembur keluar dari hidungnya yang pesek. Seketika tubuhku terasa kaku, dan panas itu semakin menjalar dari kepala terus ke bawah.
Ketika panas itu melewati payudaraku, terasa bagaikan jari-jari kekar menggelitik dan menjentik halus kedua putingnya. Payudaraku meregang keras dan memadat, kedua putingnya bagai berlomba mencuat lurus dan kaku — siap menerima remasan dan hisapan. Rasa panas yang diiringi bau kemenyan nan makin menyengat terus menelusuri permukaan tubuhku. Aku tidak lagi duduk di pangkuan Pak Sitor, tapi sudah terbujur kaku di depannya.
Rasa panas itu sekarang menggelinding dari pusar turun ke arah kemaluanku. Bulu-bulu halus kemaluanku serentak berdiri bagai dikomando. Perasaan aneh menyelimuti pikiranku — aku bagaikan terbang dan melayang. Vaginaku bagai tersengat aliran listrik, berdenyut, mengembang dan menguncup sendiri tanpa bisa kutahan. Aku begitu terangsang oleh harumnya bau kemenyan dan aliran udara hangat itu.
Aku dapat merasakan denyutan vaginaku semakin kencang, dan dari dinding bagian dalamnya aku dapat merasakan aliran cairan hangat menyeruak ke permukaan. Celana dalamku mulai basah dialiri cairan itu. Pinggulku tak kuasa kutahan untuk tidak bergerak naik turun.
Tiba-tiba secercah cahaya datang menimpa wajahku. Aku kaget dan seperti terbangun dari mimpi. Persis di hadapanku bola pijar 40 watt sudah menyala — listrik kembali hidup.
"Pak, aku kenapa?"
"Wah, tak apa-apa, Upik. Kau hanya tertidur dan menggigau. Mungkin kau kecapean."
Sepintas aku melihat Pak Sitor memegang sejumput daun-daunan di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk mengipas perapian kecil yang entah datang dari mana. Di atas bara kelapa, onggokan kemenyan mengeluarkan asap dan bau yang beraroma kemistisan.
"Upik, kau sedang capek. Sekarang pejamkan matamu — biar kupijat kau."
Aku ingin berontak. Aku ingin lari. Aku ingin berteriak. Tetapi kemana tenagaku? Kemana suaraku? Aku hanya bisa terkapar diam dan pasrah. Aku tak kuasa mengangkat kedua tanganku — semua persendianku seperti terkunci dan berat. Hanya mataku yang masih terbuka sambil menatap apa yang akan diperbuat Pak Sitor terhadap tubuhku.
Pak Sitor mencelupkan daun-daunan ke air kembang di dalam baskom plastik hijau yang biasa kugunakan untuk menaruh kain cucian.
"Wah, tubuhmu panas sekali, Upik. Biar kucipratkan dulu air ini agar kau merasa segar kembali."
Tetes demi tetes air itu jatuh menerpa mukaku. Setiap tetesnya kurasakan bagaikan bongkahan air es — dingin dan sangat menyejukkan.
"Sekarang santai saja dan pejamkan matamu."
Kurasakan kedua jempol Pak Sitor menekan halus kedua alis mataku, gerakannya lembut dan teratur. Mulai dari bagian mata sebelah dalam, terus ke ujung mengikuti garis alisku yang tipis dan tersusun rapi. Tiba-tiba kedamaian dan kesejukan seperti dihembuskan ke setiap pori-pori kulit, menjalari seluruh hati dan jiwaku.
Pijatan Pak Sitor mulai turun ke arah bahuku. Aku sekarang bisa menikmatinya tanpa perlawanan sama sekali. Pijatan itu sedikit demi sedikit terus turun, turun mili demi mili, dan jari-jarinya mulai menelusup ke bawah bajuku.
"Upik, sekarang kau duduk. Biar kupijat bagian punggungmu."
Tak kuasa aku menolak. Pak Sitor persis duduk berhadap-hadapan denganku — hembusan napasnya panas menerpa hidungku. Kedua telapak tangannya diletakkan di bahuku. Jemarinya meremas lembut batang leherku dan sedikit menyentuh pangkal telingaku.
Oh, aku merasakan tubuhku melemas dan syahwat mulai terbangun kembali. Tangan itu masih terus menelusup ke punggungku — meraba, membelai, sekaligus mengirimkan sinyal rangsangan yang begitu kuatnya. Tangan itu tidak hanya diam di situ. Dia terus bergerak dan dengan sentakan halus pengait BH-ku terlepas sudah.
"Upik, bajumu kubuka ya. Biar lebih leluasa aku memijatnya."
Aku hanya diam dan terpejam. Sekarang aku duduk tanpa baju, sementara BH masih menggantung tertahan di kedua lenganku. Pangkal payudaraku sudah tak tertutup dengan sempurna — putih kulitnya memancarkan cahaya kenikmatan di mata Pak Sitor. Matanya tak pernah lepas dari situ.
"Oh, Upik, ini buah paling ranum yang pernah aku lihat. Biarkan aku memegangnya."
Aku tidak mengerti kenapa dia mesti minta izin, karena belum lagi habis ucapannya aku sudah merasakan remasan kasar di kedua payudaraku. Remasan itu keras dan memutar — mula-mula di pangkal payudara, terus merambat naik menuju putingnya.
Bersambung...