18px

Pacarku Gadis Bule

Pacarku Gadis Bule

Namaku Har, aku berumur 34 tahun, dan statusku sudah punya istri dengan tiga anak laki-laki semua. Kata teman-teman kuliahku, aku memang jantan di ranjang โ€” hal ini terbukti dari ketiga anakku yang semuanya laki-laki. Menurut mereka, untuk mempunyai anak laki-laki sang suami harus "jantan" di ranjang, karena sperma calon anak laki-laki akan bertahan hidup bila kemaluan wanita sudah basah. Untuk membuat vagina tersebut basah dibutuhkan pemanasan dan permainan seks yang lama; kalau tidak, konon anaknya akan menjadi perempuan.

Maka dari itulah teman-temanku bilang aku jantan walaupun badanku tidak besar dan tinggi. Aku bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi tour and travel. Setiap summer season banyak wisatawan bule yang mengikuti program perusahaanku, rata-rata masih mahasiswa yang muda dan cantik yang mayoritas datang dari Inggris dan Amerika.

Pengalamanku ini terjadi pada tahun 2001 ketika musim panas perusahaanku mulai membuka program tour and travel. Banyak sekali turis mahasiswa yang datang dari mancanegara ke lokasi program kami di luar Pulau Jawa, di sebuah pulau terpencil yang memang khusus untuk turis tersebut. Pada saat program sedang berjalan aku pun berangkat ke lokasi untuk menjalankan tugasku.

Setelah beberapa minggu melaksanakan kegiatan bersama para turis yang kebanyakan wanita muda, cantik, dan seksi, aku berkenalan dengan salah seorang turis yang sangat cantik dan seksi dengan tubuh besar dan tinggi yang bernama Hildy. Sejak perkenalan itu kami sering bercengkerama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila tidak bertemu sehari, salah satu dari kami akan mencari yang lainnya, dan Hildy seringkali berkata, "I miss you."

Hingga pada malam Minggu ketika kami sedang berpesta, aku dan Hildy mengobrol sambil dia menenggak minuman keras dan bir. Aku sudah lama berhenti minum minuman keras dan malam itu hanya minum seteguk dua teguk saja. Ketika malam semakin larut aku berpisah dengan Hildy, dan dia bersama lelaki lain yang juga temanku. Sebetulnya aku sangat menginginkan menghabiskan malam itu dengannya dan ingin bermain seks dengannya, tapi aku masih takut kalau-kalau akan ditolak, jadi kubiarkan dia bersama temanku yang memang bule juga.

Karena suasana begitu ramai dan semua orang sedang bermabuk ria, aku melihat Hildy pun mabuk berat dan mulai berbuat tak senonoh โ€” membuka baju di pantai bersama lelaki tersebut. Tentu saja aku kaget dan langsung menghampiri sambil menegurnya.

"What are you doing with him? You're drunk, Hildy," tegurku dengan nada agak tinggi.

"What's wrong with me, Har? We are just having fun, don't worry," jawab Hildy dengan sedikit kekecewaan karena aku telah mengganggu kesenangannya.

"No, you can't do that, Hildy โ€” that is not good for us and for the local community. So please put on your dress now," kataku sedikit memerintah.

"No, Har, we are having fun now and you know, you are annoying me, Har."

"I don't care about that. I just want you to put on your dress now and go home. If you still do that, please tell him too."

"No!" dia menjawab agak keras, dan itu membuatku semakin marah karena dia tidak mau mengikuti saranku. Akhirnya dengan nada yang lebih keras dan kasar aku lontarkan kepada dia dan lelaki tersebut.

"If you wanna fuck with him, please! But not here โ€” take him to your hut and fuck in there."

"Why are you so rude, Har? I don't like you. Why are you doing this?" dia mulai marah dan menangis.

Aku tetap bersikeras menyuruhnya berhenti dengan mengancam akan melaporkan kepada ketua kami agar mereka mendapat sanksi. Akhirnya lelaki yang bersamanya takut dan pergi. Kemudian Hildy mengenakan kembali pakaiannya sambil duduk di tanah dengan masih hanya menggunakan celana dalam. Aku pun menasihatinya dan akhirnya dia memahami kenapa aku berbuat seperti itu.

"Tell me, Har, why are you doing this to me?" dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama, matanya agak sembab karena menangis.

"Because you are my friend and I don't want something to happen to you."

"But why?"

"Because I like you," aku spontan menjawab karena terus didesak.

"I like you too, Har." Aku senang dengan jawabannya, dan tanpa diduga Hildy langsung mencium bibirku.

Aku agak gelagapan karena tidak menyangka akan dicium, tapi naluri lelakiku langsung muncul dan aku pun membalas ciumannya. Ciuman kami semakin liar dan bernafsu, aku semakin tidak dapat menahan gejolak dalam diriku. Karena tidak tahan lagi, tanganku langsung bergerilya ke buah dadanya dan kemudian turun ke sela-sela selangkangannya. Aku mainkan lubang kemaluannya dari luar celana dalamnya dan dia membuka kakinya lebar-lebar. Kami masih tetap berciuman dan tanganku masih bermain di daerah selangkangannya. Kurasakan celana dalamnya semakin basah oleh cairan yang terus keluar dari dalam vaginanya โ€” kugesek-gesek terus selangkangannya dan dia semakin mengerang sambil menciumku dengan penuh nafsu.

Birahiku sudah memuncak dan penisku sudah berdiri tegak di balik celanaku. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan โ€” saat itu kami berciuman di pinggir pantai โ€” kami pun menghentikan permainan seks, takut ada orang yang melihat. Meski kami sama-sama berada di puncak birahi, kami tahan. Setelah mengobrol beberapa saat kami pun berpisah ke rumah masing-masing, dan dia berjanji akan menemuiku besok untuk membicarakan tentang kelakuannya.

Keesokan harinya kami pun bertemu dan aku ajak dia ke rumahku karena harus mempersiapkan keperluan untuk pergi ke pulau lain guna membantu temanku melaksanakan programnya. Di rumahku kami sempat berciuman tapi tidak sampai bermain seks. Aku dan dia pun berpisah untuk satu hari, dan aku merasakan betapa rindunya tidak bertemu dengannya bahkan hanya satu hari saja. Di lokasi baruku aku mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan hadiah dan aku temukan sebuah cinderamata yang indah sekali.

Setelah satu hari berpisah kami pun bertemu lagi, dan aku kaget sekali karena sikap Hildy berubah tidak seperti biasanya. Aku terus berpikir apa gerangan yang terjadi. Ternyata baru kutahu bahwa ada seseorang yang telah membocorkan statusku kepadanya, dan aku tidak dapat mengelak lagi ketika dia menanyakannya. Karena takut kehilangannya, aku pun berbohong bahwa aku dan istriku sedang pisah tapi belum bercerai โ€” dan dia agak lega walaupun sedikit kecewa karena aku tidak bilang sebelumnya.

Setelah keadaan tenang, aku sampaikan bahwa aku memiliki sebuah hadiah untuknya dan dia boleh mengambilnya kapan saja di rumahku. Ketika malam tiba, Hildy menghampiriku dan bilang ingin mengambil hadiahnya malam itu. Kami pun pulang bersama ke rumahku.

Hildy sangat senang sekali dengan hadiah yang aku berikan dan dia memberikan kecupan dan ciuman. Tentu saja aku langsung menyambut ciumannya dan kami pun bergumul sambil berciuman di atas ranjangku. Napas kami semakin memburu, diselingi erangan-erangannya yang membuatku semakin bernafsu. Kumainkan lidahku di dalam mulutnya dan dia pun memainkan lidahnya. Kami saling berpagut โ€” tanganku tidak tinggal diam, merayap ke balik bra-nya โ€” payudaranya yang putih mulus dan besar kuremas-remas sambil putingnya kupelintir-pelintir. Erangan Hildy semakin keras.

Aku buka bajuku dan Hildy pun membuka bajunya hingga kami telanjang bulat. Aku cium lagi bibirnya, lalu ke bagian leher dan terus ke dua gundukan susunya yang aduhai. Kuhisap pentilnya yang berwarna coklat muda agak kemerahan. Semakin kupercepat hisapan dan permainan lidahku di pentilnya, erangan Hildy semakin keras. Sambil masih mengisap pentilnya, tanganku bergerilya di sela-sela selangkangannya. Kurasakan rambut-rambut halus yang lebat di sekitar lubang kewanitaannya โ€” membuatku semakin bernafsu. Kuelus-elus rambut di vaginanya, lalu jari-jariku memainkan klitorisnya yang sudah basah sejak tadi. Mulutku masih terus bermain di kedua susunya secara bergantian, dan jari tengah tangan kanan terus memainkan klitorisnya sambil sekali-kali masuk ke dalam liang kenikmatan. Aku semakin dalam memasukkan jari tengahku ke lubang kenikmatan tersebut. Kulihat Hildy semakin liar, kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri menahan nikmat yang aku berikan.

"Oohh, Har... yes... oh God... yes, yes, good... keep going, Har," erangannya semakin menjadi-jadi di sela-sela kenikmatan yang aku berikan.

Kulihat cairan di dalam vaginanya semakin banyak. Lalu aku hentikan permainan jari dan mulutku di kedua susunya, kemudian berpindah ke bawah kakinya dan berjongkok. Tanpa aku perintah kakinya telah dibuka lebar-lebar sehingga belahan vaginanya dapat dengan jelas kulihat dengan bulu-bulunya yang agak pirang. Di bagian selangkangan sebelah kiri persis di atas vaginanya aku melihat sebuah tato bergambar burung dara berwarna-warni.

Kuperhatikan tato tersebut dan aku akui bahwa tato itu menambah gairahku dan mempertegas keseksian tubuhnya, terutama di daerah kewanitaannya. Kukecup tato itu lalu turun dan kucium setiap jengkal daerah sensitif tersebut โ€” bulu-bulunya kugesekkan di mukaku. Lalu ciumanku turun ke bawah lagi, kusingkapkan bulu-bulunya, dan lidahku mulai menelusuri daerah kewanitaannya dari atas hingga berhenti di klitorisnya. Sambil memperhatikan wajahnya yang cantik, kujilati dan kusedot klitorisnya yang berwarna kemerah-merahan karena kulitnya yang bule.

Napas Hildy semakin memburu, sesekali menjerit tak bisa menahan nikmat ketika klitorisnya kusedot. Matanya masih tertutup dengan mulut yang terbuka sambil mengeluarkan erangan. Kini lidahku turun lagi ke lubang vaginanya. Kubuka lubang surga tersebut dengan kedua tanganku sehingga aku semakin dapat melihat dengan jelas isi dalamnya. Setelah kuperhatikan, kumasukkan lidahku ke lubang tersebut dan jari tanganku yang lain memainkan klitorisnya. Kedua kaki Hildy menegang seakan-akan ingin merapatkan kakinya. Sambil kutahan dengan kedua tanganku agar tidak merapat, kuhisap dan kutusuk terus lubang vaginanya dengan lidahku.

"Oohh, Har... keep going... oohh, harder... faster, baby... oohh, keep going... ohh yes... I'm cumming... I'm cumming... oohh yes!"

Untuk pertama kalinya Hildy mengalami orgasme, dengan kakinya yang menegang dan lidahku masih terus menjilati lubang surganya. Kurasakan cairan terus keluar dari vaginanya โ€” aku menikmati harumnya cairan tersebut dan tak henti-hentinya kujilat.

Senjata rudalku sudah sangat tegang dan kurasakan lubang vagina Hildy sudah basah sekali oleh cairan dan air liurku. Tiba-tiba Hildy menarik badanku untuk berada di atas tubuhnya. Aku pun menuruti kemauannya, beranjak ke posisi di atasnya, kemudian mencium lagi bibirnya. Dengan bernafsunya Hildy membalas ciumanku, bahkan lidahnya mengambil alih kendali di dalam mulutku. Sambil masih berciuman, kuarahkan rudalku yang sudah mengenakan sarung kondom dengan tanganku untuk memasuki lubang surganya. Tanpa mengalami kesulitan rudalku dengan mudahnya memasuki lubang vaginanya karena vagina Hildy sudah basah sekali.

Kurasakan tulang panggul di dalam vaginanya menjepit penisku dan lubang vaginanya terasa agak sempit. Lalu kugenjot pantatku dengan irama naik turun โ€” setiap kali kumasukkan rudalku ke dalam vaginanya, kurasakan gesekan dinding vagina yang membuat batang penisku semakin menegang dan mengeras, dan sensasi yang kurasakannya pun semakin dahsyat. Napas Hildy semakin memburu dengan erangan yang halus. Kuperhatikan wajahnya yang memberikan ekspresi kenikmatan โ€” matanya terkadang ditutup dan dibuka, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan merasakan nikmatnya rudalku yang keluar-masuk vaginanya.

Mata Hildy terbuka dan menatapku tajam sambil mulutnya mengeluarkan erangan kecil. "Ohh yes... ohh, you bastard... you make me crazy, Har... ohh yes, keep going... harder... ohh..." Mata kami masih saling berpandangan dan tubuh Hildy menegang โ€” dia merasakan orgasme yang kedua.

Aku masih terus menusuk vaginanya yang sudah basah sekali oleh cairannya. Rudalku masih terus melakukan irama keluar-masuk. Lama kami bermain seks saat itu hingga Hildy merasakan orgasme empat kali ditambah satu kali sewaktu pemanasan. Hingga akhirnya pertahananku pun jebol juga di ronde ke empat. Kami pun berpelukan dan berciuman lagi sambil merasakan nikmatnya bersetubuh yang cukup lama dan memuaskan. Aku masih memeluk Hildy dalam keadaan kami masih telanjang ketika dia berkata:

"You know, Har, I've never met a guy as strong as you before. You are so strong and I'm really satisfied. It's crazy because I've never got five orgasms before โ€” it's really, really great."

Aku merasa bangga dan tersanjung dengan pujiannya. Ternyata walaupun badanku tidak tinggi besar dan dengan penis yang standar orang Indonesia, aku bisa memuaskan gadis bule yang badannya jauh lebih besar.

"Really? I'm glad to hear that, Hildy. I like to have sex with you as well โ€” it was so fucking great."

"Western men never give me as many cums as you did, Har. Mostly they are selfish and they don't care about us, whether we're satisfied or not. They just think about their own satisfaction. But with you I feel a new sensation because you are not selfish and you can make me satisfy with many cums. He he."

"Thanks, Hildy. I was satisfied as well. You have a great pussy and I like your boobs too โ€” but most of all, I like you because you're so pretty. And your tattoo, it's great โ€” it makes me passionate every time I look at it, he he."

Dengan bangga aku pun memberinya pujian. Kami sama-sama kecapaian, masih saling berpelukan dan terkadang berciuman, lalu kami pun tertidur dengan tubuh masih telanjang bulat. Hingga akhirnya pada tengah malam dan pagi harinya kami melakukannya lagi berulang-ulang. Malam itu aku bermain seks empat kali dengannya dan ronde yang kami lewati sampai lima hingga enam ronde.

Bersambung...

โ† Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya โ†’