Pacarku Gadis Bule (Bagian 2)
Pacarku Gadis Bule (Bagian 2)
Setelah menghabiskan empat kali permainan seks yang mengasyikkan malam itu, pagi harinya aku menyiapkan sarapan dan menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bercengkerama. Kami sama-sama tahu bahwa walaupun sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain, kami tetap menjaga kesehatan masing-masing. Bahkan sempat Hildy menanyakan apakah aku pernah berhubungan seks dengan PSK โ aku bilang belum. Mungkin dia khawatir kalau-kalau aku punya penyakit kelamin. Begitu pula sebaliknya, aku menanyakan pengalaman seksnya karena takut tertular penyakit. Hildy bilang dia juga berusaha menjaga kesehatannya.
Kami terus bercerita tentang masa kecil masing-masing, dan pembicaraan berlanjut ke soal keluarga. Dari sana kami jadi saling mengenal kebiasaan dan latar belakang satu sama lain. Kami masih berbaring di atas ranjang โ Hildy hanya mengenakan celana dalam dan BH, sedangkan aku celana pendek dan kaos oblong.
Menjelang siang, obrolan kami sudah melantur ke mana-mana. Masih dengan celana dalam dan BH-nya, Hildy berbaring di ranjang. Melihat kemulusan tubuh bulenya, aku tidak tahan. Kuhampiri dia dan kucium bibirnya. Hildy membalas ciumanku; kami saling memainkan lidah sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang montok. Kemudian ciumanku berpindah dari mulut ke kuping โ kusedot-sedot kuping Hildy hingga membuatnya menggelinjang menahan birahi. Dari sana ciumanku turun ke leher, lalu ke dua gundukan bukitnya. Dengan menyungkil kaitan BH di belakangnya, terbukalah dua bukit yang aduhai. Di cahaya siang yang lebih terang, kedua bukit itu tampak jelas sekali.
Kuperhatikan keduanya dengan seksama. Terlihat perbedaan warna yang nyata antara kulit badan dan daerah sekitar payudara โ karena Hildy sering berjemur di pantai, bekas BH memberikan warna putih pucat dengan puting berwarna cokelat muda. Justru warna putih itulah yang membuatku semakin tergoda. Tanpa pikir panjang kusedot putingnya sambil tangan yang satu memainkan puting yang lain.
Lama aku memainkan putingnya hingga akhirnya tanganku turun ke bawah, menyelinap ke balik celana dalam hitamnya. Kurasakan gundukan rambut halus di vagina Hildy, dan kuelus-elus rambut-rambut halus itu. Kemudian jari tengahku menyentuh klitorisnya, dan saat kutarik jari dari bawah ke atas โ dari lubang vaginanya hingga ke klitoris โ kurasakan vaginanya sudah basah. Ketika jari sampai di klitoris, Hildy menarik napas panjang sambil mengeluarkan suara lenguhan.
Jari-jemariku semakin basah oleh cairan dari vagina Hildy, sementara mulutku masih memainkan putingnya. Lenguhan Hildy semakin keras, dan akupun mempercepat permainan di klitorisnya. Setelah itu jari tengahku turun dan kumasukkan ke dalam lubang surganya. Napas Hildy semakin memburu, lenguhannya semakin keras โ apalagi saat jariku menyentuh dinding atas vaginanya, tempat G-spot berada. Hildy semakin tidak dapat menahan rangsangan yang kuberikan; hanya dengan jari saja rangsangan yang dia terima sudah begitu dahsyat, terlebih ketika kumasuk-keluarkan jariku dari lubang vaginanya.
Hildy tidak dapat menahan dirinya lagi. Dengan lenguhan yang semakin keras dan napas yang memburu serta tidak beraturan, Hildy menjerit merasakan orgasme pertamanya.
"Oohh Har... yes... I am cumming!"
Dalam hati aku bergumam ingin tahu berapa kali Hildy akan orgasme โ akan kuhitung kali ini.
Aku tidak puas hanya dengan jari, lalu beranjak dan melepaskan hisapanku dari payudaranya, kemudian membuka celana dalam Hildy. Ketika celananya merosot, sekali lagi aku melihat tato indahnya yang persis di atas vagina, di selangkangan. Kucium tato itu dan turun ke daerah kewanitaannya. Karena sinar siang yang lebih terang, kini aku dapat melihat jelas bentuk dan warna vaginanya yang merah dan menantang โ persis seperti yang ada di film biru. Saat itu aku sangat senang karena dapat merasakan vagina bule yang selama ini kuimpikan.
Kubuka belahan bibir vaginanya dan sebelum lidahku menjulur mencapai klitorisnya, masih sempat aku memandangi bagian dalam vaginanya yang begitu indah dan menggairahkan. Kucium aromanya โ wangi yang lain daripada yang lain. Kubayangkan bahwa wanita yang merawat vaginanya memiliki aroma yang sangat menggairahkan sehingga tidak bosan-bosannya kucium aroma itu. Lalu kucium dan kuhisap klitorisnya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Hildy semakin mengerang karena tarikan klitoris oleh mulutku membuatnya geli tak tertahankan. Lidahku pun turun ke bawah dan kumasukkan ke dalam lubang surganya, bermain di sana sambil sesekali ujung lidah kucondongkan ke bagian atas vagina, ke daerah sensitif itu.
Lama aku melakukan ciuman dan jilatan di daerah kewanitaannya hingga akhirnya kurasakan kaki Hildy mulai menegang. Melirik ke wajahnya yang semakin memerah dan menegang, aku tahu orgasme keduanya sebentar lagi datang. Kupercepat jilatanku di dalam dan di klitorisnya. Tiba saatnya dia mengerang keras sambil pantat dan badannya terangkat, ditopang kedua tangannya.
"Oohh God... I'm cumming, Harr... oohh yes... bastard!"
Orgasme keduanya tercapai. Aku sangat senang bisa membuatnya orgasme dua kali hanya di sesi pemanasan. Kini kubuka celana dan bajuku, lalu tiduran dan menyuruhnya mengambil posisi di atas. Sambil duduk di atasku, Hildy memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur. Dengan mata yang merem melek, Hildy terus mengikuti irama itu; kudengar erangannya yang lembut. Untuk membuat sensasi baru, tanganku memainkan klitorisnya sementara Hildy tetap melakukan gerakan maju mundur sambil duduk. Jari-jariku terus memainkan klitorisnya hingga Hildy mempercepat tempo. Semakin cepat gerakan Hildy, kupercepat pula jari di klitorisnya.
"Oohh... yes!"
Pertahanan Hildy jebol untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali dia orgasme, aku menghitungnya di depannya sehingga membuatnya tertawa dan sedikit malu-malu.
Keringat mengucur di tubuh kami berdua. Hildy sudah tampak sangat lemas dan sepertinya tidak dapat melakukan gerakan lagi di atasku, sementara aku masih belum apa-apa. Maka kuambil alih posisi dengan menyuruhnya nungging โ aku ingin doggy style. Dari belakang aku dapat melihat belahan vaginanya, lalu kubuka kakinya lebar-lebar. Kucoba memasukkan penisku sendiri tapi sulit; tanpa diperintah, tangan Hildy membimbing penisku masuk ke vaginanya, dan ambleslah penisku di dalam. Kugerakkan maju mundur dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Aku ubah posisiku seperti nungging pula, dan tanganku memainkan klitorisnya sambil kudorong penisku maju mundur, menyodok vaginanya. Hildy sudah tidak dapat menahan diri lagi โ dengan cepat orgasme keempat datang.
Setelah puas dengan doggy style, kusuruh Hildy tiduran. Dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. Karena penisku sudah sangat menegang, tanpa kuperlu arahkan dengan tangan pun penisku dapat dengan mudah amblas di lubang vagina Hildy. Aku semakin beringas menggerakkan maju mundur, dan terkadang kuputar-putar pantatku sehingga penisku menyentuh sekeliling dinding vaginanya. Semakin kuputar, erangan Hildy semakin keras, dan orgasme pun datang lagi. Aku merasa bangga dengan diriku karena bisa memuaskan seorang gadis bule โ dan aku terus menghitung setiap kali dia orgasme.
"You know, you've got 5 orgasms and I want to give you 8!"
"Oohh, Har, you are too strong for me and I think I cannot stand it anymore."
"I won't stop until you get more than 6 or 8 times." Sambil irama gerakanku tidak berubah, aku sempat mengobrol dengannya.
Lama sudah kami bersetubuh dengan keringat yang terus mengucur hingga Hildy sudah mencapai orgasme ketujuhnya. Kini akupun tidak dapat menahan pertahananku โ kurasakan orgasmeku akan segera tiba. Kupercepat gerakanku sambil memutar-mutar pantat.
"Hildy... are you cumming? Please cum with me... ooh, I am cumming."
"Yes, let's cum together... oohh I am cumming... ooh I'm crazy for you, Har!"
Kami sama-sama sudah tidak dapat menahan lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; kuucapkan kata-kata yang membuatnya semakin terangsang agar proses orgasmenya lebih cepat. Ketika puncakku akan datang, kutarik penisku dari dalam vaginanya dan kutumpahkan spermaku di atas perutnya, sementara tanganku masih memainkan klitorisnya dan mulutku menciumnya dengan buas agar orgasme kami berbarengan. Kami sama-sama mengeluarkan erangan yang keras, lalu sama-sama terkulai lemas.
"Har, I've never come 8 times before. This is the first time I got it... you are so strong!"
"Thanks, Hildy. But you see โ this is proof that even Indonesian men are small but strong. Do you agree?"
"Yes, I agree, he he..."
"So don't judge by size. I can satisfy you many times. And you know, the girl next door โ she was with a tall, big Western guy and she was never satisfied. So I'm better than him! Ha ha... sorry, I'm just teasing you."
"I know you're just teasing me, but anyway it's true, Har โ most of them don't care about our satisfaction."
Kami mengobrol tentang seks dan aku memberi komentar tentang keperkasaan orang Indonesia. Aku berbuat seperti itu karena walaupun kebanyakan orang Indonesia berbadan kecil, keperkasaan mereka terkadang lebih jantan daripada pria bule yang berbadan besar. Kini Hildy dapat menyadari bahwa tidak semua pria berbadan besar dengan penis besar mampu memuaskan perempuan.
Hingga siang hari berlalu, kami lupa makan siang karena keasyikan ngobrol. Kemudian aku mengantarnya pulang ke rumahnya. Di sana kami ngobrol lagi, dan teman-temannya melihat kami akrab lalu memberikan senyuman yang penuh arti. Hildy melirik mereka, menghampiri, dan tertawa. Aku sangat penasaran apa yang mereka bicarakan, dan mendapat jawaban saat kawannya yang bernama Natalie menghampiriku.
"Hildy said that you are so strong... he he... how big is your cock, Har?"
Aku tidak menjawab โ hanya tersenyum karena malu yang tidak ketulungan. Setelah mengobrol dengan topik lain, Natalie pun pamitan.
"Ok, strongman, see you in a bit!"
"See you, bye!"
Tak lama setelah Natalie pergi, Hildy menghampiriku lagi. Dia sudah bersiap-siap mandi dan mengajakku mandi bareng. Tentu saja aku senang sekali. Kami pun pergi ke kamar mandi bersama, saling mengguyur dan menyabuni badan masing-masing.
Malam harinya kami pergi bersama ke tempat pertemuan kami untuk makan malam. Itulah pengalamanku yang paling mengasyikkan. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi mengalami pengalaman serupa di tahun-tahun berikutnya โ hanya sebatas ciuman dan remasan dengan wanita bule lainnya, tidak sampai berhubungan seks. Bahkan ketika aku punya pacar bule lagi, kami hanya sebatas ciuman dan remasan di daerah sensitifnya, karena pacarku itu bilang dia masih perawan โ dan aku percaya, karena walaupun sudah tamat universitas, umurnya masih sangat muda.
E N D