Pengaruh Hipnotis (Bagian 1): Perkenalan Maut di Department Store
Pengaruh Hipnotis (Bagian 1): Perkenalan Maut di Department Store
Saya sedang asyik memilih-milih dasi yang terpajang di display sebuah department store, ketika saya dikejutkan dengan tepukan tangan di pundak. Dengan refleks saya menoleh ke arah orang yang menepuk pundak saya itu. Betapa terkejutnya saya, sesosok laki-laki bertubuh besar dan tambun berdiri di hadapan saya. Orang ini pasti orang India atau sebangsanya. Kulitnya hitam gelap, berkumis tebal, dan berpenampilan dekil. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Boy.
"Apakah itu istrimu?" orang itu bertanya sambil tangannya menunjuk ke arah Wiwied yang sedang asyik berbicara di telepon selulernya.
Orang yang ditunjuk oleh laki-laki ini memang Wiwied, istri saya, dan saya hanya bisa mengiyakan saja. Entah mengapa saya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Sepertinya pikiran saya tertutup sesuatu. Terbukti dengan begitu mudahnya saya menuruti kemauan orang itu untuk diperkenalkan dengan istri saya. Dan sama seperti saya, Wiwied pun seperti terpengaruh dan menuruti apa saja yang diminta oleh laki-laki itu.
Orang ini ternyata memiliki beberapa teman. Saya masih sempat menghitung, ada lima orang lagi, masing-masing bernama Josh, Bram, Fai, Yan, dan Ali. Setelah mengobrol beberapa lama, dua orang di antaranya minta tolong kepada Wiwied untuk mengantarkan mereka mengambil barang. Sekali lagi, kami hanya bisa menurut. Aneh memang, untuk orang yang baru beberapa menit berkenalan, bahkan dengan penampilan lusuh seperti itu, kami mau saja menuruti permintaan mereka. Mereka bilang tidak perlu mengantar berduaan karena mereka juga membawa mobil, hingga akhirnya kami pun berpisah. Wiwied pergi bersama Josh dan Bram, sementara saya bersama keempat orang lainnya. Saya tidak ingat lagi persisnya saya dibawa ke mana; yang bisa saya ingat hanyalah saya diminta mengemudikan mobil berputar-putar kota sambil terus-menerus diajak ngobrol oleh mereka.
Sementara itu, ternyata Josh dan Bram membawa Wiwied ke sebuah motel di pinggiran kota. Josh yang mengemudikan mobil langsung memasukkan mobil ke dalam garasi, dan begitu mobil berada di dalam, pintu garasi langsung ditutup oleh penjaga motel. Bram tampak membereskan urusan administrasi dengan petugas motel sebelum ia pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.
Begitu petugas motel itu pergi, Bram langsung memeluk Wiwied dari belakang. Ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk Wiwied yang jenjang—tengkuk indah itu memang hari itu terpampang tanpa penghalang karena rambut Wiwied disanggul ke atas. Entah karena apa, Wiwied hanya manut saja membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Bahkan lebih dari itu—kini kedua laki-laki itu mulai melucuti pakaian Wiwied satu demi satu. Blazer, blouse, kemudian rok span mini yang dipakai Wiwied kini berceceran di lantai. Kini tinggal bra dan G-string transparan yang melekat di tubuhnya.
Kedua orang itu tertegun memandangi tubuh Wiwied yang setengah telanjang itu. Beberapa saat mereka membiarkan istri saya dalam keadaan seperti itu sebelum kemudian Bram memerintahkan Wiwied untuk membuka semua sisa penutup tubuhnya, hingga tak lama kemudian istri saya telah benar-benar telanjang bulat. Wiwied juga membuka ikatan sanggulnya hingga rambutnya tergerai bebas sampai sedikit di bawah bahunya. Ia hanya berdiri pasrah di hadapan kedua laki-laki itu. Sungguh sangat cantik dia dalam keadaan polos seperti itu—istri saya yang memiliki wajah baby face dengan kulit yang benar-benar putih bersih, dengan payudara yang boleh dibilang besar (bra size 34C, cukup besar untuk tinggi badan yang hanya sekitar 162 cm). Belahan bukit kembar dengan puting susu coklat kemerahan itu menggelantung bebas dan berguncang lembut mengikuti irama napasnya. Turun ke bawah terdapat perut yang rata, dengan rambut tipis di pangkal pahanya yang tidak begitu lebat hingga samar-samar terlihat belahan bibir bawahnya yang berwarna merah muda.
Kedua orang itu kini tidak sabar lagi, buru-buru mereka melucuti pakaian sendiri hingga ketiganya sama-sama telanjang bulat. Bram segera membimbing Wiwied ke arah ranjang dan merebahkan tubuh istri saya terlentang di kasur. Laki-laki itu segera berbaring di sebelah tubuh istri saya dan membenamkan wajahnya ke dalam belahan payudara Wiwied. Mulutnya dengan gemas menciumi kedua pucuk puting susu Wiwied bergantian. Lidahnya ikut mempermainkan kedua putingnya sementara kedua tangan Bram meremas-remas kedua bukit itu terus-menerus.
Sementara itu Josh dengan tak sabaran membuka kedua selangkangan Wiwied lebar-lebar, dan menemukan belahan bibir mungil yang ada di antaranya. Dengan jari-jari tangannya ia membuka belahan bibir itu hingga menganga dan segera menjulurkan lidahnya ke dalam untuk menjilati bagian dalam dinding vaginanya. Tubuh Wiwied menggelinjang dan dari mulutnya keluar suara serta desahan napas tertahan setiap kali lidah Josh menyapu setiap permukaan dinding yang kini mulai basah. Dan ketika lidah Josh menemukan sebongkah daging kecil di bagian atas liang itu dan menggelitiknya, tak tertahankan lagi tubuh Wiwied menggelinjang lebih hebat dan ia mengerang tertahan.
Hanya beberapa saat saja Josh membenamkan wajahnya di selangkangan Wiwied dan ia sudah merasakan bahwa istri saya ini sudah sangat basah. Maka ia tak membuang kesempatan. Ketika Bram sedang sibuk menciumi bibir Wiwied dan meremasi kedua payudaranya, Josh dengan tergesa-gesa merenggangkan kaki Wiwied lebar-lebar dan menekankan kejantanannya ke dalam liang senggama yang sudah sangat siap menerima penetrasi itu. Maka dengan mudah Josh mendorongkan miliknya sampai masuk semua ke dalam vagina Wiwied, disertai pekik tertahan yang keluar dari mulut Wiwied—tidak begitu jelas karena mulutnya tersumbat mulut Bram.
Dengan posisi berlutut kini Josh mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya maju mundur, menekan bagian bawah perut Wiwied. Ia dengan leluasa memompa tubuh Wiwied yang terlentang di hadapannya, sementara kedua kaki Wiwied diangkat dan diletakkan di atas pundak Josh hingga ia bisa menekan lebih dalam lagi.
Sementara Bram yang mulai merasa tidak leluasa mencumbui Wiwied—karena badan Wiwied yang selalu berguncang-guncang mengikuti gerakan pinggul Josh—mengalah dan duduk di sofa sambil menonton adegan itu, sesekali tangannya mempermainkan batang penisnya sendiri yang sudah sejak tadi berdiri tegang.
Hampir sepuluh menit berlalu dari saat Josh melakukan penetrasi pertamanya ketika ia makin mempercepat dan memperkeras goyangan pantatnya, hingga makin membuat Wiwied mengerang tak berkesudahan. Tiba-tiba tubuh lelaki itu mengejang di atas tubuh Wiwied dan ia menyemburkan air maninya ke dalam liang senggama Wiwied dengan derasnya. Beberapa saat kemudian, setelah napasnya mulai teratur kembali, Josh memisahkan diri dari tubuh Wiwied dan berjalan ke arah sofa, duduk di sisi Bram.
"Wah, luar biasa tuh cewek. Cantik lagi..!" katanya sambil menyalakan sebatang rokok.
"Giliranmu, Bram," katanya sambil menoleh ke arah rekannya.
Bram yang sejak tadi sudah tidak sabar segera berdiri dan berjalan ke arah Wiwied yang terlentang di atas kasur. Posisinya sampai sekarang belum berubah—kedua belah kakinya masih mengangkang lebar, hingga tampak terlihat jelas sebagian air mani meleleh keluar dari dalam bibir bawahnya yang masih membengkak dan menganga.
Bram menarik tubuh Wiwied hingga istri saya terduduk di pinggir tempat tidur, wajahnya persis menghadap ke selangkangan Bram yang berdiri di depannya. Dengan sekali rengkuh ia menarik kepala Wiwied dan menjejalkan batang penisnya ke dalam mulut Wiwied. Istri saya sekarang melakukan seks oral pada Bram. Wiwied yang memang jago dalam hal satu ini langsung membuat Bram merem melek keenakan. Ia sesekali mengerang, "Aahh.. jago sekali nih cewek nyepongnya, loe musti nyobain Josh!" Bram berkata sambil menoleh ke arah Josh yang sedang duduk terlentang mengumpulkan tenaga.
Wiwied yang berada di bawahnya terus memainkan bibir, mulut, dan lidahnya untuk mempermainkan batang penis Bram. Caranya menghisap kepala penis yang makin lama makin licin dan berubah warna menjadi merah tua keunguan itu pasti tidak pernah terlupakan oleh Bram. Belum lagi kepalanya yang ikut bergerak maju mundur mensimulasikan gerakan senggama kepada batang penis yang berada di dalam mulutnya.
Entah sudah berapa lama Wiwied mengulum penis Bram ketika akhirnya Bram melepaskan diri dan menarik tubuh Wiwied berdiri, lalu membawanya ke arah meja rias yang berada di ujung ranjang, menghadap cermin. Dari belakang, Bram memasukkan batang miliknya ke dalam vagina Wiwied dengan sekali sentakan halus hingga amblas seluruhnya ke dalam. Terasa benar liang itu sangat licin dan hangat. Bram kemudian mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sementara kedua tangannya memegang pinggul Wiwied untuk membantu menggoyangkannya berlawanan dengan arah gerakan pinggulnya.
Stamina Bram sungguh bagus. Hampir sepuluh menit ia menggerakkan pinggulnya dengan cepat disertai hentakan-hentakan kasar. Wiwied benar-benar mengerang-erang tak berkesudahan digagahi dengan cara seperti itu—nikmat, geli, dan kadang-kadang ngilu bercampur jadi satu. Apalagi batang kejantanan Bram termasuk besar hingga terasa sekali benda itu begitu penuh dan menguak lebar vaginanya.
Tiba-tiba Bram memisahkan diri dan menarik tubuh Wiwied, memaksanya berjongkok di hadapannya, lalu menjejalkan kembali batang penisnya ke dalam mulut Wiwied. Hampir bersamaan dengan itu Bram memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air maninya menyembur dengan deras sekali dan tidak tertampung oleh mulut Wiwied yang mungil hingga meluap keluar, meleleh ke dagu dan menetes ke bawah membasahi belahan payudaranya. Sebagian air mani itu pasti telah tertelan oleh Wiwied, dan ketika akhirnya Bram mengeluarkan penisnya dari dalam mulut Wiwied, muntahan air mani itu segera berhamburan keluar karena memang sangat banyak dan Wiwied tidak sanggup menelan semuanya. Kini wajah bagian bawah Wiwied berlepotan lendir lengket berwarna putih susu.
Sehabis itu, masih dalam keadaan telanjang, Josh dan Bram membimbing Wiwied ke dalam kamar mandi untuk memandikannya. Kedua laki-laki itu membersihkan semua lendir yang berada di selangkangan dan wajah Wiwied sambil memandikannya. Namun kemudian, kedua laki-laki itu sekali lagi menggagahi Wiwied di dalam kamar mandi secara bergantian. Sekali lagi Wiwied digilir di dalam bathtub dalam keadaan berdiri menghadap tembok kamar mandi—pertama oleh Josh, dan ketika Josh selesai mencabut batang penisnya ia langsung digantikan oleh Bram yang juga langsung memasukkan batang kejantanannya dari belakang tanpa pemanasan lagi. Baru sesudah Bram selesai, mereka benar-benar memandikan Wiwied sampai bersih sebelum kemudian mereka kembali berpakaian dan keluar meninggalkan motel itu untuk menemui rekan-rekan mereka yang sedang bersama saya.
Kami bertemu kembali di tempat di mana saya dan Wiwied pertama kali bertemu dengan mereka. Ketika bertemu Wiwied, saya sedikit heran—sanggul istri saya telah terlepas, dan jepitan rambut besar yang tadinya digunakan untuk menjepit sanggulnya kini hanya digunakan untuk menguncir rambut ke belakang. Dandanannya juga agak acak-acakan, tidak serapi waktu pergi. Namun ketika mata saya bertemu dengan mata Boy, entah mengapa kecurigaan saya itu langsung sirna.
Singkat kata, entah mengapa kami akhirnya sepakat membawa mereka pulang ke rumah. Sekali lagi aneh. Di rumah tidak ada siapa-siapa—bahkan pembantu pun tidak tampak batang hidungnya. Saya diajak duduk di ruang tengah oleh Josh dan Bram sementara yang lainnya masuk ke kamar tidur bersama Wiwied, sementara pintu kamar seperti sengaja dibiarkan terbuka lebar. Saya masih sempat mendengar suara Boy yang tanpa sungkan-sungkan meminta Wiwied menanggalkan pakaiannya serta membuka kunciran rambutnya hingga kini rambutnya tergerai bebas ke bawah. Mereka cukup terkejut ketika melihat Wiwied hanya mengenakan celana dalam G-string transparan warna putih plus bra berenda yang juga transparan dan sama warnanya—jelas kedua potong pakaian dalam itu menunjukkan kemontokan pantat serta payudaranya. Boy dan yang lainnya seperti terperangah dengan kemolekan tubuh Wiwied.
Bersambung...