Pengaruh Hipnotis (Bagian 2): Pesta Ranjang Sang Istri
Pengaruh Hipnotis (Bagian 2): Pesta Ranjang Sang Istri
Sesaat kemudian Boy mulai memeluk dan menciumi Wiwied dari belakang. Fai yang berjongkok memulai dengan menciumi paha kemudian ke pantat, sedangkan Bram meremas-remas payudara Wiwied sambil menciuminya, sementara Yan memilih duduk di kursi rias sambil menonton ketiga rekannya mengeroyok Wiwied. Tidak tahan melihat Wiwied hanya memakai baju dalam, Fai mulai menarik G-string Wiwied dari belakang dan perlahan-lahan menurunkannya, sehingga pantat istri saya yang montok kini terlihat jelas. Pada saat yang sama, Boy melepas bra Wiwied hingga kedua buah payudara istri saya itu menggelantung bebas tanpa penghalang lagi dan segera disambut oleh Bram yang menjilat-jilati puting susunya.
Sesaat kemudian Boy melepas semua bajunya dan kemudian mengangkat tubuh molek Wiwied ke atas tempat tidur. Fai menyambut tubuh istri saya di atas ranjang. Wiwied terlentang di tempat tidur dengan kaki terbuka lebar, kepalanya sekarang berada di pangkuan Fai. Ia merintih-rintih karena Boy menjilati dan menghisap klitorisnya. Tampaknya tubuh Wiwied tidak bisa menolak kenikmatan yang diberikan Boy—meskipun saya yakin dia sedang di bawah pengaruh hipnotis—hingga tak berapa lama kemudian vagina Wiwied yang sudah cukup basah dengan mudah menerima penis Boy. Kaki Wiwied diangkat dan dilingkarkan ke tubuh Boy saat dia menggoyang naik turun.
Kira-kira lima menit kemudian, Boy mempercepat goyangan dan tiba-tiba mencabut penisnya dari dalam vagina Wiwied. "Tunggu dulu, gue belum mau keluar. Loe terlalu cantik untuk dilewatkan sesaat, jadi harus dinikmati dengan waktu yang cukup lama."
Boy kemudian mengangkat tubuh istri saya dan memposisikannya doggy style dengan perut diganjal bantal dan pantat menghadap ke atas. Sekarang keindahan pantat Wiwied benar-benar terlihat—tidak satu orang pun yang tidak terangsang melihat Wiwied pada posisi tersebut. Tanpa menyia-nyiakan waktu, Boy membimbing penisnya masuk ke dalam vagina Wiwied yang masih basah dan tampak berwarna merah muda. Kedua tangan Boy memegang pantat Wiwied sementara pinggulnya bergoyang berirama. Sesekali tangan Boy mengelus-elus pantat Wiwied dan sesekali meremas payudara Wiwied dari belakang.
Beberapa menit kemudian, Boy kembali mempercepat goyangan pinggulnya, kemudian menarik kedua tangan Wiwied ke belakang. Persis seperti menunggangi kuda lumping—kedua tangan Wiwied dipegang dari belakang sedangkan pantatnya digoyang seirama. Akhirnya Boy tidak lagi bisa mempertahankan diri; ia melepaskan spermanya ke dalam vagina Wiwied disertai erangan kenikmatan. Tampak cairan putih kental keluar dari dalam vagina Wiwied seiring dengan dicabutnya penis Boy, cairan putih itu mengalir ke pahanya dan menetes di tempat tidur. Beberapa detik kemudian badan Boy didorong oleh Fai. "Gantian dong, sekarang giliran gue!"
Wiwied dibimbing masuk ke dalam kamar mandi yang sudah penuh dengan air hangat. Fai dengan bersemangat membersihkan tubuh Wiwied, terutama di bagian kemaluannya. Fai yang sudah telanjang bulat dengan penis tegang meminta Wiwied untuk melakukan seks oral. Wiwied menuruti saja kemauan Fai—bahkan dia memperlakukan Fai seperti suaminya sendiri, dengan menjilati bagian kepala penis dan dilanjutkan dengan deep throat. Saya sudah menceritakan bagaimana lihainya Wiwied dalam permainan ini, hingga tidak perlu dijelaskan lagi betapa nikmatnya yang dirasakan oleh Fai. Masih di dalam kamar mandi, Wiwied kemudian disetubuhi Fai dengan berdiri dari belakang. Kedua tangan Fai meremas-remas payudara Wiwied sementara pinggulnya bergoyang dengan cepat. Goyangan ini bertahan hampir sepuluh menit sebelum akhirnya dicabut. Pada saat bersamaan Wiwied diposisikan berlutut menghadap Fai. Sekali lagi Wiwied melakukan seks oral, tapi kali ini tidak lama. Hanya dengan beberapa hisapan, penis Fai menyemburkan isinya ke dalam mulut Wiwied serta ke wajahnya. Wiwied kembali menelan air mani, kali ini dari penis Fai. Sama seperti tadi, sebagian air mani juga meluap keluar dari dalam mulut dan berlepotan di wajahnya.
Fai kemudian meneruskan membersihkan badan Wiwied dan akhirnya membimbingnya keluar dari bathtub kembali ke ranjang. Boy yang rupanya telah membongkar lemari pakaian kami menemukan koleksi lingerie Wiwied yang memang sering dia pakai terutama menjelang kami berhubungan intim sebagai starter. Boy sudah mempersiapkan stoking, garter, G-string, dan bra yang serasi ditambah baju tidur. "Ayo, sekarang kamu pakai baju ini dan menunggu kedatangan teman-teman kita yang lain," perintah Boy pada Wiwied.
Boy, Bram, dan Josh sekarang duduk berhadapan dengan saya di meja kerja. Mereka mengajak saya ngobrol mengenai perusahaan dotcom disertai business case-nya. Saya sangat terkejut ketika melihat Wiwied dari celah-celah pintu kamar yang terbuka sedikit—dia memakai baju tidur transparan lengkap dengan stoking dan garter-nya. Dia tampak begitu seksi dan merangsang dengan rambut tergerai acak-acakan. Bram dan Yan berada di samping kiri dan kanan Wiwied sambil menciumi lengan dan meremas-remas payudaranya. Masih dari celah-celah pintu, saya bisa melihat ketiganya merebahkan diri di tempat tidur. Bram menciumi bibir istri saya sambil meremas payudara, sedangkan kepala Yan menghilang di bawah selangkangan Wiwied sambil kedua tangannya dari bawah meremas-remas pantat.
Saya terkejut ketika Boy mengajak saya masuk ke dalam kamar Wiwied untuk mengambil buku daftar PIN untuk diberikan kepada Boy. Saat masuk ke dalam kamar, saya dapat melihat dengan jelas Bram sedang melepas bra Wiwied dan Yan sedang menarik ke bawah G-string istri saya dengan giginya. Setelah selesai menelanjangi Wiwied, Bram langsung menghisap puting susu Wiwied yang sebelah kiri. Puting susu Wiwied sudah ereksi, menjadi bengkak dan meruncing. Tanpa rasa apa-apa saya terus saja berjalan melewati tempat tidur dan langsung membuka laci lemari di samping kiri—di mana Wiwied sedang terlentang dan dikerubuti dua orang laki-laki yang juga sudah sama-sama bugil. Dari dalam laci saya mengambil sebuah buku catatan yang berisi PIN kartu kredit saya dan Wiwied, lalu saya serahkan kepada Josh yang menunggu di belakang saya.
Ketika saya beranjak melewati tempat tidur lagi untuk keluar dari kamar, Bram menghisap-hisap serta meremas payudara Wiwied; Yan masih dengan beringas menciumi serta menyedot vagina istri saya. Anehnya Wiwied tampak biasa saja, bahkan seperti menikmatinya. Matanya tampak setengah terpejam sementara tangan kirinya meremas-remas kepala Bram yang sedang terbenam di dadanya, sementara tangan satunya lagi berada di atas kepala Yan. Sesekali dia merintih keenakan karena rangsangan pada klitoris dan payudaranya. Boy dengan sigap menarik saya keluar dari kamar Wiwied, mungkin karena dia tahu saya mulai curiga dengan perlakuan temannya pada istri saya. Sayup-sayup terdengar mobil meninggalkan rumah—ternyata Josh sedang menuju mesin ATM untuk menarik uang dari kartu kredit saya dan Wiwied.
Saya dan Boy kembali duduk berhadapan di samping kamar di mana Wiwied sedang disetubuhi. Masih dengan pintu kamar yang terbuka lebar, sehingga tampak dengan jelas bagaimana Wiwied dalam posisi doggy style sedang menghisap penis Bram sedangkan dari belakang Yan menggoyang-goyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya menepuk-nepuk pantat Wiwied. Suara mereka pun terdengar dengan jelas.
"Ooh gila.. vagina si Wiwied ini benar-benar basah dan menggigit. Belum pernah sebelumnya saya merasakan yang seenak ini. Mujur benar si Doni mempunyai istri seperti dia, tapi sayangnya saat ini kita yang menikmatinya.. ha ha ha.." desah Yan.
"Hisapannya pun cukup kuat, pandai sekali dia nyepongnya," balas Bram.
Selama lebih dari setengah jam mereka berdua secara bersama-sama menyetubuhi istri saya, berbagai macam posisi mereka coba—mulai dari doggy style, women on top, berdiri. Ketika Bram tidak bisa bertahan lagi dan menyemburkan maninya ke dalam vagina Wiwied, mereka bertukar posisi. Kembali dengan doggy style, kini Yan yang menggasak Wiwied dari belakang sementara Bram menjejalkan penisnya ke mulut Wiwied untuk dibersihkan, sampai akhirnya diakhiri dengan gaya Wiwied duduk membelakangi Bram yang sesaat kemudian kembali menyemprotkan air mani ke wajah Wiwied. Yan pun juga mengalami klimaks dengan mengeluarkan isinya ke dalam vagina Wiwied. Namun rupanya Yan belum puas—ia menarik kepala Wiwied untuk menghisap penisnya yang mulai loyo. Wiwied menuruti saja permintaan Yan tersebut. Dengan wajah yang masih penuh dengan sperma, Wiwied melakukan seks oral lagi beberapa saat sebelum kedua pria itu kemudian membimbing Wiwied masuk ke dalam kamar mandi—untuk yang kedua kalinya Wiwied dibersihkan tubuhnya dari ceceran sperma di vagina maupun di wajahnya.
Tampaknya Boy dan Ali yang juga menyaksikan aksi tersebut dari luar mulai terangsang kembali. Terbukti setelah saling memberi isyarat dengan mata, mereka sekarang menuju kamar mandi dan mengeringkan tubuh Wiwied yang sudah bersih dan segar dengan handuk. Bram dan Yan memakai baju kembali dan keluar menemui saya. Sayangnya sekarang pintu kamar tidur ditutup sehingga saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang jelas, Boy dan Ali pasti kembali menggauli istri saya untuk yang kedua kalinya. Dari pengakuan Wiwied kemudian, saya tahu bahwa pada saat itu Boy langsung mengangkat tubuhnya dan meletakkan di atas sofa yang terdapat di dalam kamar. Boy memposisikan Wiwied menungging dengan tangan berpegangan pada pundak Ali yang duduk di sofa, kemudian Boy memasukkan penisnya dari belakang. Sementara Ali yang duduk menghadap Wiwied menciumi wajah dan payudara Wiwied bergantian.
Tak berapa lama kemudian, tubuh Wiwied merosot ke bawah, kepalanya menangkup di selangkangan Ali sambil melakukan seks oral pada penisnya, sementara Boy tetap menggoyangkan pinggulnya maju mundur dari belakang. Ketika telah selesai menyemburkan air maninya kembali ke dalam vagina Wiwied, Ali langsung membopong tubuh istri saya dan memangkunya. Wiwied sekarang duduk di atas pangkuan Ali; dengan mudah batang penis Ali menyelusup ke dalam vagina Wiwied. Namun aneh—Wiwied malah dengan sukarela menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun di atas pangkuan Ali, dengan kedua belah tangan berpegangan pada pundak Ali. Beberapa lama kemudian Ali membopong tubuh Wiwied yang sudah keletihan itu dan meletakkannya di atas tempat tidur sebelum kemudian menindihnya dan mulai menggerakkan kembali tubuhnya naik turun.
Saat itu Josh melangkah masuk ke dalam kamar—rupanya ia telah pulang dari menguras ATM saya sampai batas limit. Ketika melihat Ali sedang menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh istri saya yang sekarang telungkup di atas tempat tidur, ia kembali terbangkit nafsunya. Maka ia pun kembali membuka seluruh pakaiannya dan mengocok penisnya hingga menegang. Ketika Ali selesai, tanpa basa-basi Josh pun segera naik di atas tubuh istri saya yang kini telah lemah lunglai. Wiwied hanya pasrah saja tubuhnya dibolak-balik sesuka hati oleh Josh sambil terus disetubuhi, sampai pada akhirnya Josh mencabut penisnya dari vagina Wiwied dan menjejalkan ke mulut istri saya, bertepatan dengan memuntahkan air maninya ke dalam mulut Wiwied. Air mani itu muncrat dan berlepotan ke seluruh wajah istri saya setelah sebagian tertelan. Baru sesudah Josh menyelesaikan hajatnya, kelihatannya mereka sudah cukup puas melampiaskan semua nafsu birahi mereka terhadap istri saya.
Setelah mengucapkan terima kasih, keempat sekawan itu meninggalkan rumah kami sambil membawa G-string dan bra Wiwied yang berwarna putih, perhiasan, dan uang tunai baik yang ada di rumah maupun dari ATM. Boy berkata bahwa dalam waktu satu jam semuanya akan kembali seperti biasa. Sekarang dia meminta saya meneruskan menulis proposal serta meminta Wiwied untuk tidur agar tidak kecapaian setelah melayani tamu.
Kira-kira satu jam kemudian, saya terbangun dari tidur di atas meja kerja. Saya merasa semua kejadian tadi seperti mimpi. Untuk membuktikan, saya masuk ke dalam kamar—ternyata di situ saya menyaksikan Wiwied sedang terlelap tanpa baju, hanya ditutupi selimut. Tampak juga gaun tidur, G-string hitam, stoking, serta garter tercecer di bawah tempat tidur. Makin penasaran, saya periksa tempat tidur Wiwied. Masih ada sisa-sisa sperma di mana-mana—bahkan banyak juga yang masih melekat di wajah, mulut, rambut, dan di selangkangannya. Saat Wiwied terbangun dari tidurnya, dia juga merasakan hal yang sama. Dapat mengingat semua kejadian dengan jelas, tetapi tidak bisa menolak untuk tidak melakukannya. Begitulah, kami kehilangan harta dan harga diri setelah dihipnotis.
TAMAT