Permainan Menyenangkan (Bagian 1)
Permainan Menyenangkan (Bagian 1)
Sore itu kuketuk pintu kamar 812 Hotel Shangri-La. Edward membuka pintu dengan senyum ramah dan mempersilakanku masuk.
"Udah lama nunggu?" tanyaku basa-basi.
"Ah, enggak, barusan aja mandi."
Edward adalah seorang chinese, tamu langgananku. Entah sudah berapa kali aku melayaninya, hampir tak terhitung. Kutemani dia setiap kali datang ke Surabaya. Sebenarnya tak ada yang istimewa darinya kecuali pembawaannya yang santai dan cenderung lucu — aku menyukai pembawaannya itu. Di usianya pertengahan tiga puluhan, dia seorang pebisnis sukses; kalau tidak salah dia menyuplai suku cadang ke Pertamina. Seringkali aku diminta melayani kliennya dari Pertamina, tentu saja setelah puas dia menikmati hangatnya tubuhku.
"Kamu itu bawa rezeki. Setiap kali kukasih kamu, pasti proyeknya gol," ujarnya suatu hari ketika kucoba menawarkan gadis lain saat aku sudah fully booked.
Hampir jadi kebiasaan: setelah menikmatiku semalaman, besoknya aku diberikan ke rekanannya untuk servis. Bahkan ketika harus melayani dua atau tiga tamu sekaligus, aku dan gadis lain ditidurinya dulu bersamaan — tentu saja tanpa sepengetahuan mereka. Bagiku sendiri tidak masalah dengan siapa aku harus tidur, yang penting negosiasinya jelas dan menguntungkan.
"Ly, malam ini kamu menginap ya, dan besoknya dengan Pak Sastro. Nggak apa-apa kan?" katanya sambil menghembus asap rokoknya.
Ini bukan pertama kali hal seperti itu terjadi. Tentu saja aku tidak keberatan — toh tidak ada bedanya antara dia maupun Pak Sastro yang belum kukenal. Tak lama kemudian kami sudah berpelukan telanjang di atas ranjang, saling berciuman dan meraba. Tangannya menjamah seluruh tubuh dan dadaku; kubalas pada selangkangannya.
Tubuhku ditelentangkan. Dengan bebasnya dia menggumuli sekujur tubuhku, dari telinga, leher, dada — dikulumnya penuh gairah kedua putingku — lalu turun ke selangkangan. Tapi dia tidak langsung menjilati vaginaku; justru memutari dan menjilati paha hingga lutut. Aku menggeliat, antara geli dan nikmat, desahan sudah keluar dari mulutku.
Kubuka kakiku makin lebar saat kepalanya berada di depan liang kenikmatanku. Desahan berubah menjadi jeritan nikmat ketika lidahnya menyentuh perlahan klitoris dan bibir vagina. Kuremas kepalanya yang berada di antara kedua kakiku, tubuhku menggelinjang merasakan nikmatnya jilatan demi jilatan menyapu vagina, apalagi diselingi kocokan jari tangannya.
Napas sudah terengah-engah menerima permainan oralnya. Aku terpejam sambil meremas-remas kedua buah dadaku. Melihat aku sudah terbakar birahi, Edward mulai menyapukan kejantanannya ke bibir vagina. Dengan dorongan pelan, penis itu menerobos masuk celah sempit yang sudah lembab. Terasa begitu nikmat setelah sehari tadi melayani dua tamu yang sudah tua, yang hanya mengandalkan nafsu tanpa tenaga.
Tarikan pertama yang perlahan kurasakan begitu indah. Begitu pula sodokan-sodokan berikutnya — aku benar-benar melayang dengan penis yang tidak terlalu besar itu, mungkin karena perlakuan dua tamu sebelumnya yang tidak bisa memuaskanku.
Kulihat wajah Edward yang penuh nafsu; wajah putihnya memerah terbakar birahi. Beberapa menit sudah dia mengocokku dari atas, kenikmatan demi kenikmatan kami reguk bersama. Tubuh kami rapat menyatu dalam ayunan irama birahi, desah dan dengus napas penuh gelora memenuhi kamar ini. Kujepit pinggangnya dengan kedua kakiku hingga penisnya semakin dalam mengisi rongga kewanitaanku, semakin nikmat rasanya.
Namun tak lebih tiga menit kami memacu birahi ketika kurasakan tubuhnya menegang, disusul teriakan bersamaan dengan semprotan kuat pada vaginaku. Aku pun ikutan teriak merasakan denyutan hebat darinya — 6, 7, 8 denyutan kurasakan. Cairan hangat memenuhi liang vagina hingga serasa penuh dan meluber. Tubuhnya telungkup menindihku; napas dan denyut jantungnya begitu kencang terdengar. Kupeluk dan kuelus punggungnya untuk meredakan ketegangannya.
Aku yang sudah sering bercinta dengannya tidak terlalu kecewa karena sudah tahu perilakunya — dia memang cepat selesai, tapi cepat juga recover. Dalam waktu singkat kami kadang bisa bercinta hingga tiga-empat kali. Kalau menginap, sudah tak bisa terhitung lagi; bahkan seringkali tidak sempat tidur karena terus melampiaskan nafsu. Edward turun dari tubuhku; kami diam telentang berdampingan. Kupeluk kembali dia dan kusandarkan kepalaku di dadanya, dibalasnya dengan elusan lembut pada rambutku.
"Ly, kamu marah nggak kalau kita tambah satu orang lagi — bertiga gitu?" katanya memecah kesunyian. Entah kenapa suaranya sedikit bergetar.
"Kenapa harus marah? Kan kita pernah melakukannya, waktu itu di Sheraton kalau nggak salah," jawabku agak heran. Tidak biasanya dia minta izin seperti itu. Aku memang tidak pernah menolak untuk main bertiga karena kerjanya lebih ringan tapi bayarannya sama atau bahkan lebih besar, karena sensasinya bisa berlipat-lipat.
"Bukan yang itu maksudku, tapi orang ketiganya itu laki," jawabnya pelan, hampir tak terdengar.
Aku agak kaget. Kutatap matanya tapi dia menghindari tatapanku. Aku diam saja. Meski pernah melayani dua laki-laki sekaligus, tentu saja aku tidak mau terlalu vulgar menerima ajakannya — tetap harus menjaga image supaya tidak terlalu terkesan murahan. Teringat kembali bagaimana aku pernah melayani dua tamuku bersamaan di Tretes, atau saat bergantian melayani tamuku dan seorang gigolo. Entah model mana yang dia mau.
"Kamu marah ya? Ya sudah, nggak usah dipikirin. Anggap saja omongan orang bingung," kata Edward melihat aku terdiam.
Aku beranjak dari tidurku dan duduk di atas tubuhnya, kutatap matanya dalam-dalam.
"Emang kamu ingin melakukannya?" tanyaku. Dia diam; hanya anggukan kepala yang menjawab. Kami sama-sama diam.
"Kalau kamu maunya gitu, ya terserah saja. Toh tamu adalah raja," jawabku sambil memeluknya.
"Benar? Nggak marah?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Tapi aku belum pernah melakukannya," jawabku bohong, pura-pura lugu.
"Aku juga belum pernah. Justru kita perlu coba — kata teman-teman sih lebih asyik." Suaranya masih bergetar.
"Ntar jangan salahkan aku kalau nggak bisa memuaskan kamu," kataku lagi.
"Ah nggak, namanya juga nyoba." Aku terdiam, begitu juga dia.
"Lalu bagaimana dengan..."
"Masalah uangnya kamu nggak usah khawatir, aku ngerti kok," dia memotong pertanyaanku seakan tahu apa yang ingin kutanyakan.
"Terus satunya lagi siapa?" tanyaku. Sesaat dia terdiam.
"Ada temanku yang sering melakukan hal seperti itu. Dari dia aku ingin mencoba. Tapi kalau kamu keberatan, bisa juga orang lain kalau kamu punya kenalan," katanya.
Aku teringat si Hengki, tamuku yang senang main bertiga dan aku sangat menikmati bercinta dengannya baik sendirian maupun bertiga. Tapi kalau kupanggil dia, pasti kedokku terbongkar bahwa aku pernah main bertiga.
"Terserah kamu sajalah," jawabku pelan. Toh dengan siapa saja bukanlah masalah bagiku.
Edward turun dari ranjang, diambilnya HP yang tergeletak di meja, dan dia menghubungi temannya menawari permainan itu. Aku menyusulnya ke sofa tapi duduk di antara kakinya, kubiarkan dia bicara dengan temannya. Tak kuperhatikan bagaimana cara mengajaknya karena aku sudah asyik memasukkan penisnya ke mulutku — sesekali terdengar desahan di sela-sela pembicaraannya.
"Oke, dia menuju ke sini. Paling lima belas menit sudah sampai," katanya ketika aku berdiri di depannya. Tak kuperhatikan pembicaraannya; aku langsung duduk di pangkuannya. Namun dia menolak saat kucoba memasukkan penisnya yang sudah menegang.
"Kita tunggu Raymon dulu," katanya sambil mendorong tubuhku turun dari pangkuannya.
Aku yang sedari tadi sedang tergantung dalam birahi tinggi, dengan muka masam meninggalkannya di sofa.
"Sambil nunggu kan bisa pemanasan dulu," kataku seraya menghempaskan tubuhku ke ranjang. Dengan sedikit demonstratif kubuka kakiku lebar sambil mempermainkan klitorisku; aku pun mendesis, tidak dibuat-buat. Pancinganku berhasil — Edward berdiri menyusulku ke ranjang.
"Kamu memang wanita penggoda," katanya, disusul kulumannya pada putingku. Tanpa menunggu lebih lama, kutarik tubuhnya ke atas tubuhku dan kami pun berpelukan, bergulingan di atas ranjang.
Tubuh telanjang kami bergantian di atas dan di bawah, saling menindih. Kali ini Edward diam saja saat kusapukan penisnya ke bibir vaginaku. Kami saling bertatapan penuh nafsu; dengan sekali dorong, amblaslah penisnya mengisi liang kewanitaanku. Untuk kesekian kalinya aku menjerit nikmat merasakan kocokan demi kocokan darinya. Kuraih kepalanya, kudekatkan ke wajahku dan kulumat bibirnya — kami saling memagut dengan gairah. Terlupakan sudah Raymon yang sebentar lagi akan datang bergabung dengan kami.
Meskipun kami bercinta dengan penuh nafsu, namun tanpa kata, seolah sama-sama menjaga supaya tidak orgasme. Ini terlihat dari beberapa kali dia menahan gerakan, atau bahkan mengeluarkan penisnya sejenak lalu memasukkan kembali tak lama kemudian. Aku pun melakukan hal yang sama. Edward mulai mengocokku dari belakang dengan posisi doggie — bak berkuda liar, kami naik-turun bukit birahi tanpa niat menggapai puncaknya.
...DING ...DONG, bunyi bel pintu membuyarkan konsentrasi kami. Tanpa aba-aba Edward langsung mencabut keluar penisnya dan turun dari ranjang. Dia memintaku mengikutinya menuju pintu. Edward membuka pintu menyambut temannya; aku memeluknya dari belakang sambil menyembunyikan tubuh telanjangku di punggungnya.
"Wah, rupanya kalian sudah pemanasan," sapanya ketika melihat tubuh telanjang kami yang berdiri menyambutnya.
"Habis kamu kelamaan sih. Eh, kenalin, ini Lily," kata Edward setelah menutup pintu. Masih bersembunyi di balik punggung Edward, kusalami Raymon.
"Oh, ini toh yang namanya Lily. Sudah lama aku dengar nama kamu tapi belum ada kesempatan mencobanya — habis katanya kamu susah sih," kata Raymon sambil menyalamiku.
"Ah, nggak juga. Mungkin belum jodoh kali," balasku.
"Begitu ketemu langsung berpesta nih," lanjut Raymon seraya menarik tubuhku dari punggung Edward.
"Wow, perfect body," komentarnya ketika tubuh telanjangku sudah terpampang jelas di hadapannya. Sorot matanya seakan hendak menelanku bulat-bulat, tapi dia tidak bertindak lebih jauh.
"Ed, rupanya kesampaian juga fantasimu ngeroyok seorang cewek," lanjut Raymon seraya duduk di sofa.
"Gara-gara kamu juga sih, makanya kupanggil kamu kemari," jawab Edward.
Edward dan Raymon duduk di sofa, sedangkan aku dengan tubuh masih telanjang duduk di pinggiran ranjang, melihat kedua laki-laki itu saling meledek — terutama mengenai pengalaman seks mereka. Tampak bahwa Raymon mempunyai jam terbang yang jauh melampaui Edward. Entah permainannya — masih perlu dibuktikan apakah sehebat omongannya.
Bersambung...