Permainan Menyenangkan (Bagian 2)
Permainan Menyenangkan (Bagian 2)
Edward memintaku duduk di antara mereka. Raymond masih mengenakan pakaian lengkap — sepertinya dia tidak terlalu terburu-buru, atau mungkin hendak melihat aku dan Edward bercinta duluan. Entahlah. Bagiku, Edward dan Raymon tidaklah jauh beda, baik fisik maupun penampilan. Sama-sama Chinese dan seusia, tapi Raymon tampak lebih langsing. Aku tidak duduk di antara mereka; aku langsung duduk di pangkuan Edward, kami saling berhadapan. Tak kupedulikan si Raymon yang duduk di samping. Kucium dan kulumat bibir Edward, yang rupanya tidak menyangka kenekatanku itu.
"Wow, ternyata benar yang kudengar selama ini — yang namanya Lily sangat agresif dan eksplosif dalam bercinta. Aku ingin membuktikan permainan oralnya yang sudah lama kudengar itu," komentar Raymon melihat ke-cuek-anku.
Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya. Bibir dan lidah Edward sudah menempel, asyik mempermainkan kedua putingku. Tanpa melepas baju, Raymon berdiri di belakangku, mengelus-elus punggungku dengan elusan menggoda sambil menciumi tengkukku. Aku menggeliat geli diciumi dari depan dan belakang.
"Sshh... ih, nakal deh," desahku sambil mencari pegangan di selangkangan Raymon, tapi dia menepis halus tanganku. Tentu ini membuatku penasaran.
Tak tahan dipermainkan kedua laki-laki tanpa bisa berbuat banyak, aku pun turun dari pangkuan Edward dan jongkok di depannya. Kusambar dan kumasukkan penis Edward ke mulutku. Dia mendesis menikmati kulumanku; sengaja kubuat se-atraktif mungkin supaya Raymon segera tergoda. Tak kupedulikan celotehan pujiannya. Tanganku meremas-remas selangkangannya — kali ini dia diam saja. Bahkan ketika kubuka resleting celananya, dia pun masih diam, namun perlahan mendesis. Saat tanganku masuk ke celananya dan mengeluarkan kejantanannya, aku sedikit terkaget. Meski panjangnya tidak melebihi punya Edward, mungkin bahkan lebih kecil, diameternya sungguh besar — hampir tak muat jari tanganku melingkarinya.
Raymon mendekatkan kejantanannya ke mukaku; dua penis ada di genggamanku. Aku beralih ke Raymon, kusapukan penisnya ke wajahku, lalu kujilati sekujur batang hingga ke ujung, bahkan kantong bolanya. Dia mulai mendesis, dan desisannya bertambah keras saat penisnya memasuki mulutku dan langsung keluar-masuk dengan cepat. Dipegangnya kepalaku dan dikocoknya mulutku seperti memompa ban sepeda. Meski agak susah karena penisnya cukup besar, kucoba mempermainkan lidah saat penis itu berada di dalam, sekaligus menyedotnya. Desahan bercampur celotehan semakin keras.
Edward yang sejenak terlupakan ikutan berdiri di depanku. Dua penis yang menegang terpampang begitu dekat di wajah. Kuhentikan kulumanku pada Raymon; kukocok kedua penis yang ada di kedua tanganku.
Aku sama sekali tidak menyangka mendapat dua penis sekaligus seperti ini begitu menggiurkan. Meski bukan pertama kali melakukannya, ini direncanakan sejak awal untuk main bertiga, hingga sensasinya begitu berbeda. Aku merasa bak ratu yang sedang dilayani kedua pelayannya. Pantesan banyak tamu yang menyukai dilayani dua wanita sekaligus — mungkin perasaan mereka sama dengan perasaanku saat ini: be like a queen.
Bergantian aku mengulum penis Edward dan Raymon. Sesekali kedua penis itu bersentuhan di bibirku, bahkan sengaja kuadu kepalanya. Perbedaan ukuran diameter kedua penis itu menambah sensasi tersendiri bagiku, baik saat kuremas maupun saat memasuki mulutku. Pasti akan bertambah saat bergantian memasuki vaginaku, pikirku.
Beberapa menit aku melakukan oral pada mereka. Kini giliranku untuk menjadi the real queen. Tanpa melepas kedua penis dari genggamanku, aku berdiri di antara mereka. Raymon segera meraih kepalaku dan mencium bibirku; kami saling melumat dan bermain lidah. Kulepas pakaian Raymon hingga telanjang. Baru sekarang kulihat jelas postur tubuhnya yang cukup atletis, meski masih tampak sedikit timbunan lemak di perut — namun tidak sebanyak Edward. Dan penisnya yang putih kemerahan tampak tegar kokoh, begitu menggoda.
Kutuntun mereka menuju ranjang dengan menarik penisnya. Aku rebah pasrah di atas ranjang, menunggu mereka bersamaan menggumuliku — suatu sensasi yang luar biasa, dicumbu dua laki-laki bersamaan. Raymon kembali menciumi bibirku, menyusuri pipi dan leher, dan berhenti di kedua buah dadaku, sementara Edward mendapat bagian pada paha dan vaginaku. Namun saat Raymon mengulum putingku, Edward bergeser naik dan mengulum puting satunya. Aku menjerit kaget dan nikmat mendapat kuluman pada kedua putingku bersamaan.
Meski ini bukan pertama kali, entahlah, kenikmatan selalu berbeda pada setiap saat. Kuremas-remas kedua kepala yang ada di dadaku sambil mendesah lepas. Dan desahanku semakin tak terkendali ketika kedua tangan mereka bersamaan ikut bermain di daerah vagina — antara bermain di klitoris dan mengocok dengan jari tangan. Aku benar-benar serasa melayang; hanya geliat dan desah napas panjang yang bisa kulakukan.
Bibir Edward mulai menjalar turun menyusuri perut, tapi segera kutarik ke atas dan kucium bibirnya. Raymon ikutan melepaskan putingku dan menciumiku; bergantian kulumat kedua bibir itu. Kembali mereka berbagi tugas: Raymon mengulum kedua putingku bergantian, tak dipedulikannya sisa ludah temannya yang masih basah di putingku. Edward dengan lincahnya menyapukan lidah dan bibirnya di vaginaku.
Untuk kesekian kalinya aku menggeliat dan menjerit nikmat diperlakukan begitu bernafsu oleh kedua tamuku ini. Sulit dibayangkan kenikmatannya ketika dua lidah secara bersamaan menari-nari di puting dan vagina. Aku berharap pertahananku mampu bertahan dari gempuran birahi yang begitu hebat — kalau sampai kebobolan lebih awal, berarti perjalanan panjang yang masih terbentang akan terasa semakin terjal.
"Ed, aku mau berduaan dulu sama Lily sebelum kita keroyok dia. Tadi kamu kan sudah, oke?" pinta Raymond.
"No problem, you are my guest," jawab Edward di sela-sela jilatannya.
Bersamaan dengan itu, Raymon sudah menggeser posisinya di samping temannya, bersiap memulai babak pendahuluan. Aku hanya pasrah mengikuti permainan mereka sambil membayangkan penis Raymon yang besar itu segera memenuhi vaginaku — tentu akan lebih nikmat dibanding punya Edward.
"Wait... wait... wait, sebelum kamu acak-acak dia, aku mau 69 dulu," kata Edward seraya mengatur posisinya di atasku.
"Lily yang di atas dong," atur Raymon. Edward hanya menuruti perintah temannya tanpa banyak komentar.
Untuk kesekian kalinya penis Edward mengisi mulutku. Ternyata Raymon tidak mau jadi penonton — dia menyodorkan penisnya saat aku masih mengulum temannya. Aku pun menurutinya; bergantian penis-penis itu keluar-masuk mengocok mulutku, bersamaan sapuan lidah Edward yang tak kalah nikmatnya menyusur vaginaku. Entah sampai berapa lama kami ber-69 kalau saja Raymon tidak menghentikan kami.
Aku telentang bersiap untuk Raymon. Dia membuka kondom tapi segera kurebutnya. "Sini aku pasangkan," kataku. Dengan mulut aku memasukkan kondom itu ke penisnya; dia memuji ketrampilan ini. Raymon menindih tubuhku, kami berciuman sambil menyapukan penis besar itu ke bibir vaginaku. Kupejamkan mata saat penisnya mulai menyeruak masuk — terasa penuh sesak. Meski bukan yang terbesar yang pernah kurasakan, dalam sehari ini rasanya penis itu begitu besar seolah tidak muat vaginaku menerimanya, apalagi dibandingkan penis Edward yang beberapa saat lalu kurasakan.
Kubuka kakiku selebar mungkin saat dia memulai gerakan mengocok. Hanya beberapa kali kocokan pelan, setelah itu berubah menjadi cepat dan keras sambil ditekankan ke pinggulku. Aku mendesah semakin keras; sesekali kulirik Edward yang menonton kami sambil memegangi kejantanannya — terlihat kecil dibanding penis yang sedang berada di vaginaku.
Kocokan Raymon semakin liar. Aku tidak sempat lagi memperhatikan Edward. Sorot mata Raymon begitu menyala penuh nafsu, tubuhnya menindihku, semakin rapat aku dalam dekapannya — seolah tubuh telanjang kami menyatu dalam ikatan emosi yang sama, saling memberi kenikmatan. Meski terasa begitu nikmat, aku tidak mau orgasme duluan. Perjalanan masih sangat panjang, apalagi masih ada penis lain yang menunggu — tentu cukup memalukan kalau harus minta istirahat hanya pada putaran pertama.
Kakiku sudah bergantian naik-turun di pundak Raymon, tapi belum juga dia menurunkan temponya.
Mau tidak mau, kocokan nikmat dari Raymon membawaku perlahan mendaki puncak kenikmatan, meski aku berusaha menahannya lebih lama. Sebelum terlanjur terlalu jauh, aku mengambil inisiatif: kudorong tubuh Raymon menjauh hingga dia rebah telentang, lalu kunaiki tubuhnya. Dengan posisi di atas, aku bisa pegang kendali permainan. Tak lama kemudian tubuhku sudah turun-naik bergoyang di atas Raymon. Penis besar itu serasa mengaduk-aduk isi vaginaku, namun justru semakin nikmat.
Sambil tetap bergoyang dan mendesah, kupanggil Edward mendekat — sudah saatnya dia bergabung, sudah cukup Raymon sendirian menikmatiku. Edward berdiri mendekati kami; kuminta dia naik ke ranjang. Sepertinya dia tidak tahu harus berbuat apa atau harus mulai dari mana.
"Tuh, atasnya masih kosong," teriak Raymon pada temannya yang tampak kebingungan.
Edward berdiri di atas ranjang. Kuraih penisnya dan kumasukkan ke mulutku. Dua penis mengisi lubang tubuhku bersamaan, atas dan bawah. Kembali kurasakan sensasi yang luar biasa menghadapi keadaan ini — suatu sensasi yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, meskipun sering kulihat di film porno. Tapi kini aku mengalaminya sendiri: bercinta dengan dua orang secara bersamaan, orang bilang threesome, atau 2 in 1, atau MMF, atau gangbang.
Mulanya agak kerepotan mengatur gerakanku menangani dua penis sekaligus, apalagi keduanya bergerak cukup liar di lubang masing-masing. Kenikmatan yang kurasakan sungguh jauh melampaui apa yang kubayangkan; aku kewalahan dibuatnya. Seringkali aku hanya terdiam menerima kocokan nikmat dari mereka, di atas dan di bawah.
Perlahan aku bisa menguasai gejolak emosiku dan gerakanku mulai bisa kukendalikan, mengimbangi kocokan-kocokan itu. Bahkan aku semakin berani aktif bergoyang pantat dan kepala. Kami semua saling bergoyang dengan irama permainan yang sama, tiga gerakan berpadu menjadi satu sensasi dan kenikmatan yang sangat tinggi.
Tak ada desahan dari mulutku kecuali dengus napas kenikmatan yang keluar dari hidung; hanya desisan mereka berdua yang terdengar bersahutan. Remasan-remasan Raymon pada buah dadaku semakin membawaku terbang tinggi.
"Ganti," perintah Raymon setelah kami bertiga bercinta lebih dari sepuluh menit.
Edward memintaku doggie, melanjutkan yang tadi sebelum temannya datang. Aku merasa ada yang kurang ketika penis Edward memasuki liang vaginaku — begitu berbeda dengan penis Raymon yang besar. Pergantian penis yang begitu cepat, hanya dalam hitungan detik, tentu belum membuat vaginaku berkontraksi menyesuaikan besarnya penis Edward. Serasa begitu longgar saat dia mulai mengocok. Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama, tapi aku tidak berani menanyakannya.
Bersambung...