18px

Permainan Menyenangkan (Bagian 6): Endless Game

Permainan Menyenangkan (Bagian 6): Endless Game

Edo menyingkir dari atas dadaku. Edward segera menggantikan penis Edo pada mulutku — hanya beberapa kocokan dan dia sudah menyemprotkan spermanya, memenuhi mulutku. Terasa gurih dan tajam aromanya. Dengan posisi seperti ini aku tidak bisa mengelak; aku hanya bisa menelan semua sperma yang sudah memenuhi mulutku.

Edward segera turun dan Edo kembali mengambil alih, memasukkan kembali penisnya ke dalam rongga mulutku. Raymon seperti tidak peduli apa yang sedang terjadi di atas — mengetahui temannya menyemprotkan sperma di mulutku, dia justru semakin bergairah dan mengocokku makin cepat.

"Do, tukar," perintah Raymon pada sahabatnya.

Edo yang mendapat giliran kembali bersiap menikmati hangat vaginaku, tapi dia tidak mau melanjutkan gaya permainan Raymon. Dia memintaku pada posisi di atas. Kupasang kondom ke penis Edo dengan mulutku, seperti yang kulakukan pada Raymon tadi. Entah kondom yang keberapa yang dia pakai; bentuknya pun lain dari sebelumnya. Dia mengagumi kemahiranku itu.

Edo langsung meremas-remas kedua buah dadaku ketika aku sudah berhasil memasukkan penisnya dan duduk di atasnya. Raymon tidak langsung bergabung — dia ke kamar mandi dulu, entah untuk apa. Sedangkan Edward masih duduk di sofa mengamati kami bercinta. Beberapa saat lamanya, Edo menyetubuhiku sendirian tanpa "gangguan" teman-temannya.

Aku yang sudah benar-benar lupa diri dan begitu bergairah bergerak liar di atasnya — antara naik-turun dan berputar pantat, mengocok penis Edo. Vaginaku serasa semakin diaduk-aduk dan semakin nikmat, apalagi penggeli pada kondom bekerja dengan semestinya, membuatku melayang tinggi ke awan. Kulumannya pada buah dadaku sudah tidak kuperhatikan lagi; puncak kenikmatan sudah di depan mata dan sebentar lagi akan kuraih. Orgasme kedua akan segera kugapai; gerakanku semakin cepat tak beraturan. Edo hanya diam menikmati kebinalanku — desah kenikmatan menimbulkan gairah tersendiri baginya.

Raymon naik dan berdiri di atas ranjang, menyodorkan penisnya ke mulutku. Untuk kesekian kalinya penis itu mengisi dan mengocok mulutku. Puncak kenikmatanku semakin bertambah dekat, dan meledaklah jeritan kenikmatan yang tiada henti. Kali ini tak kukeluarkan penis Raymon dari mulutku di kala orgasme — aku yakin bisa mengendalikan diri hingga tidak sampai menggigitnya. Tapi aku tidak sanggup melakukannya; terlalu sayang kalau ekspresi kenikmatan orgasme ditahan hanya karena ada penis di mulut. Kukeluarkan juga akhirnya penis Raymon, hingga jeritanku semakin menjadi-jadi.

Sendi-sendiku serasa mau copot, rasa capek yang hebat tiba-tiba melanda — namun kembali kocokan Edo membuatku segera melayang, perlahan tapi pasti. Dua kali sudah aku mendapat orgasme dari Edo, tapi aku tidak tahu apakah dia sudah orgasme atau belum. Sungguh konyol tidak memperhatikan laki-laki yang telah memberi dua kali kenikmatan. Konsentrasiku terlalu terpecah pada dua laki-laki lainnya hingga terkadang tidak kurasakan denyutan-denyutan kecil darinya.

Edo menarik tubuhku dalam dekapannya. Dengan posisi seperti ini, Raymon praktis tidak bisa mendapatkan bagian — hanya elusan di punggung dan belaian di rambut yang bisa dia perbuat. Dikocoknya vaginaku dari bawah dengan cepatnya. Kulumat bibir Edo meskipun beberapa kali dia menghindar — mungkin aroma sperma Edward masih tercium dari napasku — tapi akhirnya dia membalas juga lumatan bibirku itu. Tidak lebih dari lima menit setelah orgasme keduaku, Edo mengejang sambil berteriak nyaring, seiring denyutan kuat melanda vaginaku. Aku pun ikutan menjerit terkaget merasakan kuatnya denyutan itu. Didekapnya tubuhku erat-erat sambil wajahnya menatapku; hidung kami bersentuhan dan napas kami sama-sama menderu berat.

Kami berdiam sesaat menikmati indahnya orgasme. Namun Raymon tidak mau membiarkan suasana terlalu romantis. Dia duduk di samping kami dan menarik tubuhku ke pangkuannya. Sebelum aku sempat memasukkan penisnya, Edward memintanya — mengingat Edward belum mendapat giliran di vagina. Dengan tersenyum, Raymon mengalah dan merelakan vaginaku untuk temannya.

Kuturuti saja apa mau mereka. Aku beranjak dari pangkuan Raymon ke pangkuan Edward, kucium dan kulumat bibirnya sambil menyapukan penisnya ke vaginaku, dan amblas masuk ke dalam dengan mudahnya. Otot vaginaku belum berkontraksi sempurna setelah mendapat kocokan Edo, hingga penis Edward serasa berlari-lari di dalamnya. Dalam keadaan seperti ini, kondom unik sangat membantu menggelitik saraf-saraf sensitif di vaginaku.

Kudorong tubuh Edward hingga dia telentang di antara kedua temannya. Sembari bergoyang pinggul, kukocok kedua penis lainnya — kini tiga penis berada dalam kendaliku. Kubiarkan empat tangan berebut menjamah kedua buah dadaku; justru semakin menambah sensasi tersendiri. Aku menggeliat nikmat ketika tangan-tangan itu mempermainkan putingku. Kutatap mata mereka satu persatu — semua memancarkan sorot mata penuh nafsu namun terlihat begitu tak berdaya dalam genggaman dan kendaliku seorang. Dengan bebas aku menggerakkan tubuhku di atas Edward sambil membungkuk ke kanan dan ke kiri bergantian untuk mengulum kedua penis yang menunggu giliran.

Edo duduk lalu mengulum putingku, diikuti Raymon melakukan hal yang sama. Aku menjerit nikmat yang tak terhingga mendapatkan perlakuan seperti itu — dua laki-laki mengulum putingku bersamaan sementara satu lainnya mengocokku. Sungguh suatu kenikmatan yang sangat tinggi kurasakan. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, antara mengocok penis di genggaman atau meremas rambut mereka. Sungguh pengalaman yang tak terduga. Jeritan kenikmatanku membuat mereka semakin kuat menyedot kedua putingku.

"Sshh... gila... kalian gilaa!" teriakku meracu. Goyangan pantatku semakin tak karuan iramanya, tapi justru semakin menambah kenikmatan. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit aku bergoyang di atas Edward, dia sudah memuntahkan spermanya. Denyutan pelan nyaris tidak terperhatikan olehku, namun teriakan dan remasan kuat pada paha menyadarkanku bahwa dia sedang orgasme.

Aku segera turun dan kembali ke pangkuan Raymon. Vaginaku kembali terasa penuh sesak terisi penis Raymon yang lebih besar dari Edward. Belum sempat aku menggerakkan tubuhku, Edo sudah berada di depan menyodorkan penisnya ke mulut. Bersamaan dengan masuknya penis itu ke mulut, aku mulai bergoyang pantat di atas Raymon — dua penis besar mengocok kedua lubangku. Edo memegangi kepalaku dan sesuka hatinya menggerakkan penisnya pada mulutku. Beberapa menit berlalu dengan kocokan atas-bawah. Edward kembali bergabung, memeluk dan menciumi tengkukku dari belakang sambil meremas-remas buah dadaku. Aku menggelinjang geli dan nikmat yang tak terkira; goyangan tubuhku terbatasi pelukan Edward, namun tidak mengurangi gerakan pantatku pada Raymon.

Raymon praktis hanya berdiam menikmati kocokanku sekaligus menyaksikan bagaimana aku melakukan oral pada Edo. Begitu aku terbebas dari Edo dan Edward, segera tubuhku mengocok Raymon dengan gerakan liar — geliat penuh nafsu tak bisa dihindari. Tubuhku condong ke belakang, bertumpu pada kaki Raymon, ketika secara bersamaan Edo dan Edward mengulum kedua putingku. Aku menjerit histeris dalam nikmat birahi yang tidak terkatakan. Beberapa menit kemudian pertahananku pun bobol. Dengan mencengkeram kedua kepala yang ada di dada, aku menjerit keras, sekeras denyutan pada vaginaku. Mereka tidak menghentikan gerakan — justru semakin menjadi-jadi saat melihat aku tengah dilanda orgasme hebat.

Baru terasa kelelahan yang teramat sangat, rasa ngilu di sekujur tubuhku. Tiga orgasme berturut-turut dalam sekali permainan, tapi ketiga laki-laki itu masih belum beranjak dari tubuhku — bahkan semakin gila menyetubuhi dan mencumbu sekujur tubuhku.

Tetes demi tetes keringat sudah membasahi tubuh kami berempat, tapi tidak ada tanda-tanda permainan berakhir. Dan ketika Raymon mendapatkan orgasmenya, Edo langsung menggantikan posisinya tanpa memberiku istirahat. Aku benar-benar tereksploitasi dalam permainan seks yang tiada akhir, namun aku begitu menikmatinya — terutama saat pergantian antara satu penis dengan penis lainnya. Terasa sekali perbedaan sensasi yang kurasa.

Edward bersiap menyetubuhiku kembali saat Edo mencapai puncak. Begitu seterusnya — selalu bergantian menyetubuhiku setelah satu selesai. Entah kapan permainan ini berakhir. Antara kelelahan dan kenikmatan selalu datang susul-menyusul; tak terhitung sudah berapa kali aku orgasme, dan tak kutahu lagi siapa yang sedang mengisi vaginaku. Aku benar-benar habis. Ini permainan tanpa akhir — endless game.

Namun manusia ada batasannya, meskipun emosi selalu mengalahkan logika pada saat seperti ini.

Akhirnya aku menyerah, terkapar tak berdaya di tangan ketiga laki-laki itu. Benar-benar habis — bahkan untuk ke kamar mandi pun rasanya begitu berat.

Belum pernah kurasakan capek yang sehebat ini. Vaginaku terasa berdenyut nyeri. Sekitar dua jam mereka menyetubuhiku tanpa henti — tidak sedetik pun vaginaku "menganggur" selama itu. Aroma sperma tercium dari tubuhku, baik di dada, wajah, rambut, apalagi mulut. Entah berapa banyak sperma yang mengisi perutku; aku benar-benar berantakan. Tapi justru tambah seksi, kata mereka menghibur.

Setelah mandi air hangat, badan terasa segar kembali. Edward mengangsurkan Lipovitan ketika aku keluar dari kamar mandi. Ranjang yang masih berantakan dan ceceran sperma masih membekas di sana-sini, begitu pula kondom — lebih dari selusin kondom sisa yang tercecer di lantai.

"Beri aku istirahat dulu, ya," pintaku pada mereka sambil merebahkan tubuhku di atas hangatnya ranjang. Mereka hanya tertawa tanpa memberi jawaban.

Setengah jam mereka memberiku waktu istirahat sebelum Edo memulai babak berikutnya, dan endless game berputar kembali. Di atas ranjang kulayani ketiga laki-laki itu bersamaan. Kali ini aku benar-benar kewalahan melayani mereka yang seolah melampiaskan semua nafsu birahinya tanpa henti — tidak ada kata puas pada diri mereka. Aku hanya bisa bertahan sekitar satu jam sebelum menyerah kalah akan kebuasan mereka bertiga. Tak kuhitung lagi berapa kali aku mengalami orgasme, dan tak tahu lagi aku siapa yang sedang mengisi vaginaku. Aku benar-benar habis.

Kami berempat tergeletak lunglai di atas ranjang dalam kebisuan, hanya napas berat yang terdengar. Mataku serasa berat dan pandanganku mulai nanar. Tidak lebih dari sepuluh menit kemudian, aku pun terlelap dalam buaian malam yang penuh nafsu.

Bersambung...

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya