18px

Permainan Menyenangkan (Bagian 4): Rumah Kedua

Permainan Menyenangkan (Bagian 4): Rumah Kedua

Sesampai di lobby hotel, ternyata mereka tidak mau langsung ke kamar, tapi justru ingin nongkrong di lobby lounge yang nyaman itu sambil mendengarkan musik. Meskipun sudah begitu bergairah, aku terpaksa mengikuti saja. Aku memang menyukai pakaian ketat tanpa pakaian dalam ini, tapi merasa kurang nyaman duduk di lobby seperti itu — salah duduk sedikit saja, bisa-bisa vaginaku terlihat dari kejauhan. Di samping itu, inilah hotel tempat aku paling banyak menghabiskan malam-malam bersama tamu-tamuku. Boleh dibilang, inilah rumah keduaku.

Sambil menemani mereka berdua, aku berharap tidak ada yang mengenaliku. Rasanya mustahil karena tempat duduk kami berada di tengah ruangan. Kami bertiga menikmati alunan musik live yang berkumandang. Kusapukan pandanganku ke arah lobby, sekadar memastikan tak ada wajah yang kukenal — beruntunglah, hanya wajah-wajah asing yang terlihat. Para tamu asyik berbicara dengan rekan di sebelah atau di hadapannya, seolah tak memperhatikan alunan musik yang mengalun indah. Mungkin pembicaraan bisnis.

Tiba-tiba pandanganku terpaku pada seseorang yang sedang duduk berdua di bawah pohon besar di tengah lobby. Aku mengenalnya — dia Pak Pram, salah satu orang kepercayaan Cendana. Lebih dari tiga kali aku menemaninya, bahkan sekali kami berduaan di Bali selama dua malam saat dia ada Turnamen Golf. Pak Pram tersenyum ke arahku, pertanda dia melihat kehadiranku. Aku pun tersenyum sembunyi-sembunyi, takut ketahuan Edward maupun Raymon. Sepertinya dia tahu aku sedang menemani tamu, sehingga tidak menghampiriku, tapi memberi isyarat bahwa ingin bicara. Sehabis memberi isyarat, dia langsung berjalan melintasi tempat dudukku. Aku permisi ke toilet sebentar. Edward dan Raymon langsung mengajak ke kamar, tapi dengan alasan masih ingin menikmati musik, kuminta mereka menunggu sebentar. Pak Pram sudah menunggu di depan lift.

"Malam, Bapak. Tumben ke Surabaya, nggak kontak-kontak," sapaku.

"Kontak apaan? HP kamu mati sedari sore tadi," jawabnya.

"Lagi ada orderan nih," godanya. Aku hanya tersenyum.

"Temanin aku ke atas sebentar yuk, aku ada hadiah untuk kamu," ajaknya. Dengan halus aku menolak — tidak mungkin meninggalkan tamuku terlalu lama.

"Please... sebentar saja," pintanya memelas. Aku tidak enak kalau harus bersitegang di depan lift — nanti dilihat orang. Akhirnya aku mengalah.

"Tapi nggak macam-macam kan?"

"Janji deh... paling cuma satu macam." Akhirnya aku naik mengikutinya ke lantai 16.

"Aku paling nggak bisa pegang janji kalau sama gadis secantik kamu," katanya setelah menutup pintu kamar. Dia langsung memelukku dari belakang, diremas kedua buah dadaku. Pak Pram tampak kaget saat tahu aku tidak memakai bra.

"Aku kangen, lho, sejak kita dari Bali. Sayang harus berpisah di Ngurah Rai, padahal aku masih ingin melanjutkan lagi di Surabaya — gara-gara big boss yang memanggil mendadak," bisiknya sambil mencium telingaku. Remasannya tak berhenti, bahkan menyusupkan tangannya di balik kaosku yang ketat.

"Pak, aku sedang ditunggu di bawah. Tadi pamit cuma ke toilet. Besok aja aku temanin Bapak, janji deh," kataku sambil menggeliat geli.

"Kita quickie aja sayang," bisiknya. Dia selalu memanggilku sayang — seperti memanggil putrinya yang seusiaku.

Aku segera berbalik menghadapnya, kucium bibirnya dan dia membalas lumatan bibirku. Sambil tetap berciuman, kukeluarkan kejantanannya dari lubang resleting — sudah tegang. Segera aku berjongkok di depannya, kujilati sejenak lalu kumasukkan ke mulutku, hanya semenit aku mengulumnya. Kutuntun Pak Pram ke arah meja kerja dan aku duduk di atasnya. Saat kusingkap rok miniku, terlihat ekspresi terkejut di wajahnya saat tahu aku sudah tidak memakai celana dalam. Tanpa memberinya kesempatan bertanya lebih lanjut, kusapukan penisnya ke bibir vaginaku yang sudah basah sedari tadi.

Pak Pram melepas kaosku lalu melesakkan penisnya ke dalam dan langsung mengocok dengan tempo tinggi. Desahan kenikmatan keluar dari mulutnya; aku pun ikutan mendesah. Sedikit terlampiaskan gairah yang terpendam sedari tadi, meskipun tidak senikmat saat bermain bertiga nanti. Hanya semenit kami sudah berganti posisi — aku berdiri telungkup di atas meja, menerima sodokan Pak Pram dari belakang. Kugoyangkan pantatku mengimbanginya. Aku hanya berharap dia segera menuntaskan nafsu birahinya secepat mungkin; tidak enak meninggalkan Edward dan Raymon di bawah terlalu lama, nanti mereka curiga.

Beberapa menit kemudian, kurasakan penisnya membesar diiringi semprotan sperma yang hangat membasahi vaginaku. Tubuh Pak Pram menegang, mencengkeram erat pantatku. Akhirnya dia menarik keluar dan mengusap-usapkan sisa spermanya pada pantatku. Aku berbalik dan jongkok di depannya, kukulum penisnya yang masih banyak spermanya. Dia melotot melihat kenakalanku, tapi tidak mencegahnya — justru malah mengusap-usapkan ke wajahku. Aku berdiri merapikan rokku, mengenakan kembali kaosku, lalu mencuci vagina dan wajahku dari sperma Pak Pram.

"Lain kali kamu seperti ini saja kalau ketemu. Besok aku hubungi," kata Pak Pram sambil memberikan beberapa lembar ratusan dolar. Kami keluar kamar bersamaan, tapi turun dengan lift yang berbeda.

Hampir dua belas menit aku meninggalkan Edward dan Raymon. Ternyata mereka bertemu dua temannya — berempat mengelilingi meja kami. Aku diperkenalkan kepada mereka; tidak ada yang bernama Leo, berarti bukan salah satu dari mereka. Aku minta maaf karena terlalu lama; semoga mereka tidak curiga saat kubilang mendadak sakit perut.

"Mungkin kebanyakan nelan sperma dan bereaksi dengan kerang rebus tadi," bisik Raymon. Tenang hatiku — berarti dia tidak curiga.

Lima belas menit kami melanjutkan di lobby. Aku masih tidak tahu apakah salah satu atau kedua teman mereka itu ikut bersama kami. Ternyata tidak satu pun yang ikut; mereka berpisah, sedangkan aku, Edward, dan Raymon kembali ke kamar. Berarti malam ini kita melanjutkan permainan bertiga alias 2 in 1 — tidak ada 3 in 1.

Malam sudah semakin larut, sudah melewati pukul sebelas malam, lobby hotel mulai sepi. Bertiga kami masuk lift. Begitu pintu lift tertutup, Raymon menarik tubuhku dalam pelukannya, diciuminya bibirku sambil meremas-remas buah dada. Edward tidak mau ketinggalan — dia menyingkap rokku dan mempermainkan klitorisku. Aku mendesah di dalam lift. Meskipun sudah terbakar nafsu, aku masih bisa berpikir normal. Kutolak ketika Edward hendak menyetubuhiku di lift — terlalu berisiko apabila tiba-tiba lift berhenti dan ada orang masuk. Mereka berdua tertawa terbahak.

Namun begitu, sepanjang perjalanan di lift, tangan kedua laki-laki itu tak berhenti menjamah dan menyusuri tubuhku — mulai dari tangan yang menyusup masuk di balik kaosku, hingga menyusup di balik rok dan meremas buah dada maupun pantatku. Ternyata rangsangan bercampur ketegangan membuat birahiku yang sempat turun setelah melayani Pak Pram bangkit kembali dengan cepat. Aku pun mendesis pelan dalam lift.

Beruntung pintu lift tidak terbuka hingga lantai 8. Kami pun bergegas menuju kamar. Aku heran saat mereka menekan bel pintu, bukannya langsung membukanya dengan kunci. Keherananku segera terjawab ketika pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki hitam manis dari balik pintu.

"Inikah yang namanya Leo?" pikirku.

"Ly, kenalin, ini Edo. Karena Leo tidak ada, kebetulan yang muncul dia — ya rezeki dia lah," kata Raymon setelah kami semua masuk. Rupanya si Edo baru selesai mandi.

"Sorry, tadi nggak sempat ketemu soalnya aku baru dari Malang, jadi mandi dulu — tapi kalian keburu naik," katanya. Sepintas kulihat Edo seperti orang Ambon atau Irian. Meskipun tidak terlalu gelap kulitnya, dibandingkan kedua orang Chinese itu dia tampak sekali bedanya.

Cengkeraman tangannya begitu kuat saat menjabat tanganku — pertanda dia bukan orang kantoran. Dengan santai, hanya mengenakan handuk yang membalut pinggangnya, Edo menemani kami ngobrol di sofa. Obrolan mereka justru seputar permainan kami tadi siang dan membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya. Terbersit sedikit kebanggaan saat mereka memuji bagaimana aku melayaninya dan mereka puas. Baru sekarang kutahu bahwa mereka sendiri belum pernah main berempat seperti ini. Berarti ini pengalaman pertama bagi semua — terutama bagi Edward, yang baru bermain ramai-ramai langsung berempat. Tentu saja dia sangat excited.

Selama kami ngobrol, aku duduk di antara Edward dan Raymon. Tangan keduanya tak beranjak dari tubuhku, baik di punggung maupun paha. Edo hanya melihat sambil tersenyum. Tak lebih sepuluh menit kami ngobrol, tangan Edward dan Raymon bersamaan menyelinap masuk di balik kaosku dan berbagi buah dada. Mereka berpandangan lalu tersenyum, dan bersamaan pula mereka mencium pipi kanan dan kiriku, menyusur turun ke leher sambil masih meremas-remas buah dada. Aku mendesah-desah diperlakukan seperti ini, apalagi di depan Edo yang kelihatan begitu cool menyaksikan kedua temannya sudah mulai.

"Lepas kaosnya dong," teriak Edo tanpa beranjak dari duduknya. Kulihat tangannya sudah berada di balik handuknya.

Tanpa diminta dua kali, Edward menarik lepas kaosku. Bersamaan, mereka langsung mengulum putingku yang sudah menantang. Edo memuji keindahan payudaraku sebelum kedua laki-laki di sebelahku mengulumnya. Tangan Edward sudah mulai menjamah selangkanganku; aku semakin mendesah. Kuraih kejantanan mereka — ternyata sudah keluar dari celananya. Dua penis berbeda bentuk dan ukuran berada dalam genggamanku, kukocok dan kuremas. Mereka mulai ikutan mendesah. Raymon mendahului berlutut di antara kakiku, disingkapnya rokku. Aku mendorongnya menjauh karena khawatir masih tersisa aroma sperma Pak Pram. Tapi dia tidak mempedulikan penolakanku. Kubiarkan saja ketika lidahnya mulai menyusuri pahaku — justru kakiku kubuka semakin lebar.

Aku mendesah, atau lebih tepatnya menjerit nikmat, ketika lidah Raymon mulai menyentuh klitoris dan bibir vaginaku. Sementara itu Edward masih menempelkan mulutnya pada puting — dua lidah bermain dengan lincahnya di kedua titik sensitif tubuhku. Desahan demi desahan keluar dari mulutku tanpa terkendali. Kuremas-remas kepala Raymon yang berada di selangkanganku dan kutekankan lebih dalam, sambil mengocok penis Edward.

"Ugh... ss... copot dong pakaiannya," pintaku sambil mendesah.

Kedua laki-laki itu berdiri melepaskan diri dari cumbuannya. Melihat kekosongan ini, Edo berdiri menghampiriku. Dilemparnya handuk penutup tubuhnya — tampaklah tubuhnya yang cukup atletis dengan penis yang menegang, sama besar dengan punya Raymon. Dia langsung menyodorkannya ke mukaku. Dengan tersenyum kuraih penisnya, kukocok sejenak sambil menatapnya. Dia tersenyum. Aku mulai menciumi penis Edo, menjilatinya sekujur batang hingga ke kantong bola. Cairan bening meleleh dari kepala penisnya — terasa asin, tapi tak kupedulikan. Penis itu segera memasuki mulutku ketika Edward kembali duduk di sampingku. Raymon berdiri di samping Edo menunggu giliran, ternyata Edward mengikutinya. Aku pun menyesuaikan posisiku, jongkok di depan ketiga laki-laki telanjang yang dua di antaranya baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Bersambung...

SebelumnyaDaftar BabSelanjutnya