Petualangan Charles: Kencan ke-21 dengan Tina (Bagian 1)
Petualangan Charles: Kencan ke-21 dengan Tina (Bagian 1)
Namaku Charles. Laki-laki. Aku lahir tahun 1975. Menurut penilaianku sendiri, wajahku biasa saja, tapi tubuhku cukup menarik bagi lawan jenisku. Tinggi 174 cm, padat berisi, berat 80 kg. Ini bukan terlalu percaya diri, tapi banyak wanita menyebutku "ganteng". Padahal, wajahku banyak jerawat dan bopeng. Aku jadi tidak mengerti, ganteng dari mana? Ah, tapi yang bisa menilai dengan objektif gantengnya seorang laki-laki kan wanita?
Aku tinggal di Pontianak, kota yang dilintasi garis khatulistiwa, sehingga suhunya selalu panas. Dan karena panasnya, banyak juga pemandangan yang bisa bikin panas di sini. Tertarik? Datang saja ke Pontianak. Cukup perkenalan denganku, kita lanjut di cerita lain.
Waktu aku baru pertama kali kenal situs ini, aku jadi tertarik untuk menceritakan kisah petualanganku yang tak mungkin kuceritakan kepada orang lain secara gamblang. Kalau ceritanya di sini, kan tidak malu dan tabu? Banyak yang akan "mendengar" (membaca, maksudku). Sampai hari ini aku sudah mengencani 25 wanita, dan akan kuceritakan satu per satu yang menurutku paling asyik, seru, romantis — dan yang... Anda tahulah kata yang cocok. Yang pasti ceritaku ini asli tanpa modifikasi, apalagi khayalan, kecuali khusus untuk nama tokoh dalam cerita ini.
Yang pertama akan kuceritakan adalah kisah petualangan seks aku dengan seorang gadis bernama Tina. Walaupun dia bukan yang pertama, dia termasuk sepuluh besar yang tercantik dan paling memuaskan yang pernah kukencani. Kalau mau tahu, dia adalah wanita ke-21 (dua puluh satu)! Dia cantik; rambutnya panjang lurus sampai di bawah bahu, matanya indah, bulu matanya lentik, alisnya seperti punya Krisdayanti. Hidungnya tidak terlalu mancung, biasa saja, standar orang Indonesia. Kulitnya agak gelap, tubuhnya boleh dikatakan mungil — hanya sebahu saya — tapi langsing, dengan pinggang yang ramping, pinggul yang indah, dan buah dadanya yang lumayan besar untuk ukuran badannya. Senyumnya manis, selalu memperlihatkan jajaran giginya yang putih.
Berawal dari perkenalan kami di sebuah hotel yang memiliki fasilitas diskotek, karaoke, dan bar. Waktu itu, tahun 1999, sudah menjadi hobi saya untuk mengunjungi karaoke dan bar, sekadar untuk bersantai, bernyanyi, "cuci mata" melihat ciptaan Tuhan yang indah-indah. Kebetulan dia juga mengunjungi tempat tersebut. Kami bertemu di bar; dia datang sendirian dan memesan minuman. Saya memandanginya dengan kagum karena dia cantik dan imut-imut. Dia memandang aku, pandangan kami bertemu, lalu aku tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumku. Mendapat respons yang positif, aku cepat-cepat melancarkan aksi untuk berkenalan.
"Hai. Charles..." kataku sambil menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman.
"Hai juga. Saya Tina..." jawabnya sambil menyambut握anku.
Dapat kurasakan tangannya yang halus membuatku gemetar dan jantungku berdegup kencang, karena tiba-tiba "setan" dalam diriku berteriak sangat keras! "Huaa!" — berkhayal bagaimana rasanya kalau tangannya yang lembut itu menyentuh dan membelai tubuhku, apalagi memegang, meremas, dan mengocok penisku.
"Tina..." aku mengulang. "Tina datang sendiri aja?"
"Nggak, sama temen — tuh, lagi duduk di sana..." katanya sambil menunjuk ke temannya yang sedang asyik ngobrol.
Yang ditunjuk ada dua orang: yang satu laki-laki, yang lainnya perempuan.
"Yang mana? Yang cowok apa cewek?" tanyaku dengan sedikit cemas, khawatir dia sudah punya gandengan.
"Yang cewek..." jawabnya sambil menyedot Coke pesanannya.
"Ooh, kirain dateng sama cowok kamu..." kataku dengan nada pancing untuk memastikan dia belum punya gandengan.
"Nggak. Cowokku banyak, tapi malam ini nggak dengan cowok..." jawabnya dengan santai.
"Alah Mak! Katanya cowoknya banyak? Play girl juga nih anak?" kataku dalam hati.
"Apa?" tanyanya.
"Nggak, hobi koleksi cowok yah?" tanyaku menggoda.
"Iya, kalau cuma satu, ntar bosan, mau mutusin, saya dong yang kebingungan?" jawabnya santai.
"Minta ampun, ada pula cewek model gini di kota yang terkesan adem ayem ini?" kataku dalam hati, cukup kaget dengan apa yang baru kutemukan.
"Kalau boleh tahu, model cowok kayak apa yang memenuhi syarat jadi koleksimu? Aku memenuhi syarat nggak?" tanyaku memancing.
Dia memandang aku dan menatapku dalam-dalam. Menyapukan pandangannya dari ujung rambut ke ujung kakiku dan balik lagi ke wajahku, tepatnya ke mataku. Dia tidak malu-malu beradu pandang denganku.
"Gile juga perempuan yang satu ini, liar bener!" kataku dalam hati.
Setelah itu, sambil menatapku dia tersenyum manis padaku. Aku merasa lega karena mendapatkan tanda positif.
"Gimana?" tanyaku penuh penasaran.
Sambil beranjak dari tempat duduknya, tersenyum manis, dengan gaya berjalan yang agak genit karena goyangan pinggulnya agak dibuat-buat, dia berkata, "Kamu belum memenuhi syarat!"
"Haah?" jeritku dalam hati.
Tinggallah saya yang kebingungan sendiri, lidah kaku, tak bisa ngomong apa-apa, tenggorokan kering, sambil hanya bisa melihat dia berjalan melenggok menuju temannya, pinggulnya bergoyang-goyang.
"Siial!!" teriakku dalam hati.
Aku berpaling ke meja bar dengan perasaan yang agak dongkol, dan meneguk minumanku. Biarkan sajalah, pikirku. Patah tumbuh, hilang berganti. Mati satu tumbuh seribu. Jamur kali, ya?
Sambil meneruskan tujuanku kemari — cuci mata — aku mencoba mencari pemandangan lain yang indah. Musik disko mendentum penuh semangat di malam itu, namun akan lebih mantap jika suasana hatiku tidak dirusak perempuan tadi. Lima belas menit sudah berlalu. Dengan sisa mood yang ada, setelah menghabiskan minumanku dan sebatang rokok, aku berencana pulang, atau jalan-jalan dulu keliling kota. Aku menyalakan rokok, kusedot dalam-dalam asap beracun itu — biarpun beracun, nikmat rasanya. Tapi tiba-tiba bahuku ditepuk, lumayan keras, "PLAK!" sampai aku terkaget-kaget dan terbatuk akibat asap rokok yang belum sempat kukeluarkan.
"Uhuk... uhuk... uhukk..." Aku terbatuk-batuk.
"Uh, siapa si jahil sialan ini?" gumamku sambil berpaling mencari tahu siapa yang menepuk bahuku. Setelah berpaling, rupanya yang kutemukan adalah si Tina, cewek yang tadi menolakku.
"Hai, kecewa berat ya tadi ditolak saya?" tanyanya sambil tersenyum manis.
"Gile luh! Udah tahu, nanya lagi!? Sialan!" kataku dalam hati.
Tapi senyumnya yang manis itu, matanya yang indah itu, bulu matanya yang lentik itu — aduh! Hilang sudah dongkolku.
"Ng... Nggak... Cuma kaget aja. Kamu tepuk bahuku kuat banget sih? Sampai aku terbatuk-batuk. Mau bunuh aku yah?" kataku pura-pura marah.
"Sorry deh... Saya nggak tahu kalau kamu lagi asyik ngerokok. Jangan marah yah? Nih nomor HP saya, SMS saya yah? Saya mau pulang dulu, sudah ditunggu sama temenku..." katanya sambil menyodorkan secarik kertas berisi sebuah nomor HP.
"Kali ini mau ngerjain apa lagi nih cewek? Belum puas?" tanyaku dalam hati.
"Lho, katanya tadi aku nggak memenuhi syarat? Jadi ini untuk..." belum selesai aku ngomong, dia memotong.
"Udah, jangan masukin ke hati. Pokoknya, ntar SMS saya, OK? Daah, aku pulang dulu..." katanya sambil mengedipkan mata kirinya hingga bulu matanya yang lentik seperti terkibas, lalu bergegas meninggalkanku yang lagi-lagi kebingungan — memegang kertas yang disodorkannya dan rokok yang masih berasap. Kubaca tulisan di atas kertas itu: "081156xx". (Pembaca jangan kecewa, ini musti kurahasiakan. He he he...)
Sesuai rencanaku, aku pulang setelah menghabiskan sebatang rokok. Segera setelah mandi dan berganti pakaian, aku meraih HP-ku dan mulai mengetik SMS kepada Tina.
Aku: "Hai Tina, sudah bobok belum? Atau masih lagi jalan-jalan? CHARLES"
Tina: "Blon, lagi tiduran aja di kamar. Kamu lagi di mana?"
Aku: "Udah pulang. Sekarang lagi tiduran di kamar juga. Besok ada acara nggak?"
Tina: "Nggak ada. Mau ajak ke mana?"
"Nawarin untuk diajak kencan nih!" bisik hatiku.
Aku: "Mau nggak kita makan-makan, jalan-jalan? Jadi tambahin 1 lagi koleksi cowokmu. Kita kencan, gitu?"
Tina: "OK. Jam berapa? Temu di mana? Tapi tempatnya yang romantis yah?"
Aku: "Kamu aja yang atur, aku yang jadi eksekutornya."
Tina: "OK. Saya sempat jam 8 malam. Tunggu di lobi hotel Grd."
Aku: "OK. Tapi kenapa nggak jemput ke rumahmu aja? Di mana rumahmu?"
Tina: "Rahasia. Pokoknya besok jangan telat, OK?"
Aku: "OK. C U tomorrow."
Pada waktu yang ditentukan, aku datangi tempat yang sudah dijanjikan. Dia sudah datang duluan. Dia tampil cantik sekali malam itu. Memakai jaket jeans hitam yang dikancing dua kancing paling bawah, dengan dalaman kaos hijau ketat yang memperlihatkan bentuk payudaranya yang bulat indah menonjol terbungkus BH di balik baju ketatnya. Bawahannya celana jeans panjang ketat berwarna senada dengan jaketnya, mempertontonkan bentuk pinggulnya yang melengkung indah serta pantatnya yang tampak padat berisi, juga bentuk pahanya yang ramping dan serasi dengan tubuhnya yang mungil.
Bersambung...