18px

Petualangan Charles: Kencan ke-21 dengan Tina (Bagian 2)

Petualangan Charles: Kencan ke-21 dengan Tina (Bagian 2)

Dandanannya biasa saja — lipstik merah mawar, tanpa perona pipi, eye shadow, maupun bedak yang tebal, rambutnya terurai rapi. Hanya dengan itu pun dia sudah terlihat cantik sekali. Ditambah tas tangannya yang mungil, dia tampak sempurna sebagai gadis belia yang benar-benar manis. Melihatku, dia tersenyum lebar.

"Hai, sorry telat..." kataku membuka pembicaraan sambil mengambil posisi duduk di sampingnya, di kursi kayu lobi hotel itu.
"Nggak, kamu nggak telat kok. Tepat waktu..." balasnya sambil menatapku.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Udah, pokoknya kamu aja yang bawa aku jalan. Aku ikut aja..." katanya sambil menepuk pahaku.
"OK. Kalau gitu kita langsung jalan aja, nggak usah buang waktu lagi..." ajakku.

Dalam hatiku aku berkata, "Supaya cepat sampai ke acara puncak, yang itu tuuh... he he he..."

"Ngomong-ngomong tadi kamu datang dengan apa?" tanyaku sambil jalan.
"Diantar sama temen..." jawabnya.
"Wah! Cowokmu yah?" tanyaku cemas.
"Bukan. Udah ah... Ayo jalan!" jawabnya sambil memeluk lenganku seperti sudah lama pacaran saja.

Singkatnya, aku ajak dia makan di sebuah restoran kelas menengah yang meja makannya berupa lesehan, terletak di dalam pondok-pondok yang terpisah dari gedung restorannya. Lokasinya di kawasan GOR Pangsuma Pontianak. Kalau Anda pernah ke Pontianak, Anda mesti tahu restoran Galaherang. Supaya privasi kami tidak terganggu, kami mengambil posisi meja yang paling pojok agar tidak ada yang berlalu-lalang dan mendengar pembicaraan pribadi kami. Dari obrolan di restoran itu, aku tahu kalau dia berumur 22 tahun, punya lima orang saudara, ayah ibu masih ada, tinggal di daerah Pal 1.

Tak ada yang istimewa yang perlu kuceritakan di restoran itu. Begitu pula dengan acara jalan-jalan yang hanya berlangsung kurang lebih setengah jam. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan mulai turun dan udara berubah dingin.

"Tina, kamu bisa nginap nggak malam ini?" tanyaku setengah berharap.
"Bisa..." jawabnya dengan santai.
"Kalau gitu kita cari kamar yah?" ajakku.
"OK. Ayo aja!" jawabnya.

Wah, pasti seru acara puncak kita nih. Pembaca, sabar dan ikuti terus ceritaku, OK?

Rupanya, malam itu beberapa hotel kelas menengah yang layak untuk kencan romantis sudah habis di-booking, sampai akhirnya kami memasuki sebuah cottage bernama Arowana Mas. Akhirnya kami mendapat kamar yang bersih dan layak untuk sebuah kencan yang romantis.

Begitu transaksi sewa kamar dengan pihak pengelola cottage selesai, dia baru turun dari mobil — itupun setelah kubukakan pintu dan kugandeng tangannya.

"Silakan, Tuan Putri..." kataku menggoda.
"Terima kasih, Pangeranku..." balasnya.

Sesampainya di ruang tidur, yang bersebelahan dengan ruang parkir, dia duduk di kursi sementara aku menghidupkan AC dan TV. Tak ada acara yang menarik untuk ditonton, sebab gadis yang berada satu kamar denganku sekarang jauh lebih menarik dari apa pun juga. TV hanya untuk mengisi kesunyian. Sambil memandangiku, dia mulai membuka bajunya.

"Hah! Nggak sabaran amat nih cewek?!" kataku dalam hati.

Saya hanya memberinya senyuman sambil memperhatikan dia membuka jaketnya yang hanya dikancing dua saja. Setelah jaketnya dilepas, barulah terlihat jelas bentuk buah dadanya yang bulat indah, sebesar buah apel besar, menonjol di balik kaosnya yang ketat tanpa lengan. Dia tampak tersenyum menikmati proses pelepasan pakaiannya yang ditonton dengan saksama olehku.

"Dadamu indah yah?" pujiku.
Dia tersipu dan sambil tersenyum hanya membalas, "Ih!"

Lalu dia membuka kaosnya. Melihat dia mulai memegang ujung bawah kaosnya, jantungku sudah berdegup kencang membayangkan pemandangan yang bakal kulihat berikutnya. Mataku tak berkedip memperhatikan dengan saksama pemandangan menakjubkan yang seperti mimpi indah namun telah menjadi nyata! Sambil matanya masih tertuju pada mataku, dia meraih ujung kaosnya, menarik ke atas sampai sebatas payudaranya bagian bawah, melepas pegangan tangannya pada kaos, kemudian menyilangkan lengannya dan sekali lagi menggenggam ujung kaosnya — kali ini ditariknya ke atas sampai melewati kepala. Tampaklah olehku sepasang buah dada imut-imut bulat indah yang masih terbungkus BH warna hijau, senada dengan warna kaosnya.

"Ijo... ijo... ijo..." kataku menirukan iklan Sampoerna Hijau untuk menggodanya.

Dia cuma tersenyum. Manis sekali.

Lalu dia berdiri, melepas kaitan ikat pinggangnya, kancing celana jeansnya, resleting, lalu merosotkan celana panjangnya. Bertambah kencanglah degup jantungku seiring dengan bertambahnya pemandangan menakjubkan di hadapanku. Pahanya benar-benar mulus, walau bukan paha terputih dibanding gadis lain yang pernah kukencani. Warna celana dalamnya senada dengan BH-nya — hijau. Rupanya BH dan celana dalamnya satu set.

Aku sudah tidak mampu menahan diri untuk tinggal diam dan menonton saja. Aku menghampirinya, memeluknya, dan mencium bibirnya dengan lembut. Dia menyambut ciumanku. Aku berusaha menyedot keluar lidahnya, kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dia membalasnya, bergantian. Aku meraih kaitan BH-nya di punggung, lalu melepaskannya — dia membiarkanku melakukannya. Lalu kuraih celana dalamnya dan kulorotkan. Dia pun bekerja sama dengan mengangkat kakinya satu per satu secara bergantian begitu celananya kulorotkan sampai ke ujung kakinya, hingga lepas dari injakannya.

Kini telanjang bulatlah dia, tanpa tertutup apa-apa. Mata saya bisa melihat jelas indahnya tubuh gadis berwajah cantik ini. Tubuhnya ramping, padat berisi. Kulitnya bersih mulus, halus dan kenyal. Payudaranya tidak jatuh sama sekali ketika BH-nya kulepas — persis sebesar apel besar, seperti yang kugambarkan di atas. Pinggangnya ramping, pinggulnya yang membesar di bawah pinggang tampak sangat serasi dan indah. Bulu kemaluannya yang jarang-jarang, pendek, hitam, tampak seperti jenggotku yang baru tumbuh.

"Lho, kok kamu belum buka pakaian?" tanyanya kepadaku.
"Tolong bukain dong..." pintaku.
"Ih, seperti anak kecil aja, nggak bisa buka baju sendiri..." jawabnya menggoda.
"Kan lebih enak kalau dibukain. Lebih merangsang..." kataku.

Dia tersenyum, lalu mulai membuka kemejaku — dari kancing teratas dan seterusnya. Lalu membuka celanaku, mulai dari ikat pinggangku. Setelah merosotkan celana dalamku, tampaklah olehnya jagoanku yang sudah mengembangkan ototnya bak binaragawan yang sedang beraksi di atas pentas. Dia meraih dan menggenggam jagoanku yang masih terbungkus celana dalam.

"Besar juga punyamu?" komentarnya sambil melepaskan celana dalamku.
"Apa lebih besar dari punya cowok-cowokmu?" tanyaku ingin tahu.
"Lumayan, termasuk besarlah, dan keras lagi..." lanjutnya sambil meremas jagoanku yang tegap berdiri menghadap langit, dengan urat-urat yang menyembul dari kulit yang tipis.
"Kamu akan tahu seberapa kerasnya dan kemampuannya nanti. Sekarang, kita mandi dulu ya?" ajakku.

Aku merangkul bahunya dan memboyongnya ke dalam kamar mandi. Setelah membasahi diri masing-masing, dia mulai menyabuniku. Tangannya yang mungil dan lembut menggerayangi sekujur tubuhku — bahuku yang tegap, dada dan perutku yang kenyal padat berisi, punggungku, pantatku yang ramping, pinggangku, pahaku yang kokoh besar — membuat jantungku berdegup tidak karuan dan aliran darah dalam pembuluh darahku terasa seperti mau pecah! Apalagi jagoanku sudah menegang mencapai puncak terhebat, kaku dan keras bagai tongkat kayu! Tegak berdiri bagai tiang listrik, benar-benar seperti ada aliran listrik dari tersambungnya kutub positif dan negatif dari tangan lembutnya Tina. Bagian yang paling lama dan paling teliti dia bersihkan adalah — Anda pasti tahu — jagoanku! Penisku! Dielus-elus, digenggam, diremas, dikocok-kocok. Rasanya aku mau pingsan karena nikmat yang tak terlukiskan ini.

"Aakh!" aku menahan pekikan nikmat bercampur geli, terangsang, dan sedikit sakit karena ada bagian sensitif yang terlalu kasar disabuni — mungkin saking semangatnya dia mengocok jagoanku.

Kini giliranku menyabuni tubuhnya. Aku sangat menikmatinya. Punggungnya kusabuni dengan posisi berpelukan sehingga payudaranya menempel erat di dadaku. Begitu pula sebaliknya, dadanya — lebih tepatnya buah dadanya — kusabuni dari posisi berdirinya membelakangiku, seolah aku memeluknya dari belakang. Kugerakkan tanganku memutar-mutar di payudaranya, dan dia tampak sangat menikmatinya.

Kujepit puting payudaranya di antara jari telunjuk dan jari tengahku, lepas karena licinnya sabun, jepit, lepas, jepit... seperti gerakan mencubit. Kukecup belakang telinganya, lehernya, dan bahunya. Dia tampak sangat menikmatinya — ketahuan dengan sesekali dia mendesah "Shht..." sambil memejamkan mata. Lalu tangan kiriku turun ke bagian surga mininya, melewati area bulu-bulu yang lembut, kuraih pintu gerbang surga mininya dan kuelus-elus. Tangannya menggenggam erat lenganku yang sedang bekerja mengelus, menekan-nekan pintu gerbang surga mininya.

Dia benar-benar tampak menikmatinya. Sesekali dia memalingkan wajahnya, mempelototi aku dengan genit dan berkata, "Ih, geli..." lalu tersenyum manis kembali ke posisi di mana aku bisa meneruskan kerjaan yang memberinya kenikmatan, geli, terangsang, dan mungkin kadang-kadang sedikit sakit. Sengaja kukombinasikan, supaya seru.

Bersambung...

SebelumnyaDaftar BabSelanjutnya