18px

Sebuah Tantangan (Bagian 9)

Sebuah Tantangan (Bagian 9)

Aku seperti tersadar, segera kupersilakan masuk. Ternyata Ana dan Dion sudah mengenakan piyama mereka.

"Pak Taryo, ini Lily milik Pak Taryo seperti yang kamu inginkan," kata Dion dengan logat bule-nya.

"Tapi, Tuan, saya nggak biasa dengan yang seperti ini. Apalagi cantik kayak Non Lily ini โ€” paling juga pernah sama si Ina pembantu sebelah. Apa Non Lily mau sama saya?" kata Pak Taryo terbata-bata sambil menatapku bergantian dengan Dion.

"Pak Taryo pernah ke Tandes atau Dolly?" tanya Ana.

"Eh, Neng, bikin malu aja. Sekali-kali sih, itupun kalau dapat persen dari tuan," kata Pak Taryo tersipu.

Kepalaku berputar pening mendengar pembicaraan mereka. Laki-laki macam apa yang akan disodorkan kepadaku ini? Siapakah dia?

"Udah, anggap aja dia dari Dolly atau Tandes. Nggak ada bedanya, cuma dia lebih cantik dan lebih mulus, dan lebih... pokoknya lebih dari segalanya deh โ€” jauh. Mau nggak?" timpal Ana sambil menatapku.

Aku tak bisa berkata apa-apa; sama sekali tak menyangka permainan taruhan bisa seliar ini.

"Pak Taryo nggak suka sama dia ya? Oke, I carikan yang lain atau ntar kita ke tempat kamu biasanya," timpal Dion dengan bahasa yang aneh.

"Bu-bukan begitu, Tuan. Aku cuma masih seperti bermimpi," jawab Pak Taryo dengan lugunya sambil menatap ke bawah, seolah tak berani menatapku.

"Ly, kamu ini gimana sih, kok diam saja? Dia kan tamumu," hardik Ana sambil mendorong tubuhku ke arah Pak Taryo. Tercium bau keringatnya yang tidak sedap.

"Udah, urus dia. Aku mau ngelanjutin โ€” ntar aku keburu drop ngelihat Pak Taryo," bisiknya menggoda sambil mendorong tubuhku semakin dekat ke Pak Taryo.

Kutatap matanya dengan penuh kemarahan, tapi dia membalas dengan tatapan penuh kemenangan. Dia bisa mendapatkan laki-laki seperti Dion, tapi memberiku Pak Taryo. Dengan sangat terpaksa kugandeng Pak Taryo ke kamar mandi; aku ingin memandikan dia dulu, menghilangkan bau keringatnya yang menyengat.

Kukuatkan hatiku ketika melepas pakaian Pak Taryo satu demi satu sambil menggerutu dalam hati. Kalau aku diberi tamu yang tua tapi berduit tentu tidak terlalu masalah karena masih bisa mengharap tip darinya, tapi dengan orang seperti Pak Taryo mana bisa? Paling banter kalau dia memang memberi, tak lebih dari sepuluh ribu, padahal aku biasa memberi tip pada room boy paling tidak dua lembar dua puluh ribuan.

Tubuh Pak Taryo sudah telanjang di depanku; terlihat dia agak kikuk.

"Nggak usah, Non. Aku mandi sendiri aja, Non tunggu di luar saja," katanya saat celananya mau kulepas. Tapi aku tak mau diketawai Ana.

"Nggak apa, Pak โ€” memang sudah tugasku kok," jawabku menghibur diri.

"Kalau begitu Non juga harus lepas, masak cuma aku yang telanjang," katanya mulai nakal.

Aku terdiam sejenak โ€” agak kesal juga sebenarnya, tapi dilepas sekarang atau nanti, toh akhirnya memang harus dilepas juga. Dengan terpaksa kulepas juga pakaian dan celanaku.

"Non makin cantik kalau begitu," katanya saat aku mulai mengguyurkan air hangat ke tubuhnya.

"Lepas aja itu sekalian, Non, ntar basah lho," katanya lagi saat aku mulai menyapukan sabun ke tubuhnya.

Aku pun menurutinya; sudah kepalang tanggung, pikirku.

"Aku seperti mimpi bisa begini sama Non Lily," katanya ketika melihat tubuh telanjangku.

Tubuh telanjang kami sudah berada dalam satu bathtub. Pak Taryo sudah mulai berani memegang dan mengelus pundakku ketika aku menyabuni penisnya. Elusannya bergeser ke dadaku dan mulai meremas buah dada saat kuremas-remas penisnya dengan sabun.

"Non jauh lebih sintal daripada si Ina atau Ijah si janda gatel, apalagi kalau dibandingkan Mince yang di Dolly โ€” wah, kalah jauh, Non. Mereka nggak ada apa-apanya," katanya sambil meremas dan mempermainkan putingku.

Dalam hati aku mendongkol dan marah dibandingkan dengan pembantu atau para pelacur di Dolly โ€” jelas bukan kelasku mereka itu. Kubiarkan dia dengan gemas mempermainkan buah dadaku; toh dia pasti melakukannya, dan lebih dari itu, penis yang ada di genggamanku ini pun tak lama lagi akan masuk dan menikmati hangatnya vaginaku.

"Emang Pak Taryo apanya Dion?" tanyaku sambil mengocok penisnya dengan tanganku.

"Oh, dia tuanku. Sudah lebih dari tiga tahun aku menjadi sopirnya. Dia itu orangnya baik sekali, Non โ€” aku sering mendapat persen darinya," katanya memuji-muji bosnya.

Kudengar jeritan kenikmatan dari Ana yang menikmati permainan Dion. Ingin aku melihat bagaimana Dion menyetubuhi Ana, tapi aku harus melayani Pak Taryo dulu.

"Oouughh... shit... yes... yess... fuck me hard... harder... yes harder..." berulang kali desahan lepas dari Ana terdengar melewati pintu kamar mandi yang tidak tertutup.

"Aku mah sudah terbiasa mendengar suara-suara seperti itu dari Neng Ana," kata Pak Taryo, mulai mendesis.

Sambil saling memandikan, akhirnya aku tahu bahwa Pak Taryo yang sopir itu sering mengantar Dion dan Ana ke Tretes atau Batu, dan tak jarang menyaksikan mereka bercinta. Sepertinya Dion tak peduli dilihat atau diintip oleh sopirnya. Bukan cuma dengan Ana, tapi begitu juga dengan gadis lain yang dia bawa โ€” namun Ana yang paling sering, makanya Ana mengenal Pak Taryo.

Sambil bercerita, Pak Taryo mulai menyabuni tubuhku. Dia sudah berani mencium punggung dan leherku dari belakang di sela-sela ceritanya. Teriakan dan jeritan Ana masih terdengar, malahan semakin nyaring; sepertinya semakin liar.

Setiap pulang dari luar kota, Dion selalu memberinya uang lebih. Untuk melampiaskan dari apa yang dilihat di Tretes atau Batu, Pak Taryo pergi ke Dolly atau Tandes โ€” memang tempat itulah yang bisa dia jangkau. Akhirnya kebiasaan itu ketahuan Dion; suatu hari Dion bertanya gadis seperti apa yang diimpikan Pak Taryo.

"Saya mah orang kecil, nggak berani berangan-angan yang muluk-muluk," jawab Pak Taryo waktu itu. Tapi Dion mendesak, dan akhirnya Pak Taryo mengungkapkan impian nakalnya: gadis yang putih mulus, kalau bisa Cina, tinggi, montok, dan tentu saja cantik. "Itu sih semua orang juga mau," ledek Dion saat mengetahui impian Pak Taryo.

"Jangan kuatir, Pak Taryo โ€” impian kamu suatu saat pasti terjadi," janji Dion.

Minggu depan Dion mau pulang ke Belanda karena visanya habis. Pak Taryo tidak berani menagih janjinya tempo hari karena beranggapan itu sekadar hiburan, hingga siang tadi, sepulang rapat, Dion memintanya naik ke kamar ini sekitar jam setengah dua โ€” dan beginilah jadinya.

Kami sudah berpelukan sambil membersihkan sisa-sisa sabun yang masih menempel di tubuh kami. Tubuhnya yang tidak sampai setelinga aku dengan mudahnya menciumi leherku.

Jeritan kenikmatan Ana sudah tak terdengar lagi. Ketika Pak Taryo memintaku duduk di tepian bathtub, aku tahu yang dia mau. Kubuka kakiku lebar saat kepalanya mendekat ke selangkangan.

Tanpa canggung, Pak Taryo mulai menjilati vaginaku. Kupejamkan mata saat bibirnya menyentuh klitoris; perlahan tapi pasti aku pun mulai mendesah, apalagi ketika tangannya ikut bermain di puting. Mau tak mau birahiku mulai bangkit. Kuremas-remas buah dadaku sambil meremas rambut Pak Taryo yang berada di selangkangan; kutekan semakin dalam.

Ternyata permainan oral Pak Taryo cukup lihai, tak seperti penampilannya yang lugu. Dia mahir memainkan irama tarian lidahnya pada klitoris; aku masih malu untuk mendesah bebas, hanya rintihan tertahan.

Lidahnya dengan lincah menyusuri paha, vagina, dan klitoris. Sepertinya tak sejengkal paha yang terlewatkan dari sapuan bibir dan lidahnya; kalau saja kubiarkan, tentu bekas merah akan banyak bertebaran di pahaku.

Kedua tangan si sopir itu sudah beralih meremas-remas kedua buah dadaku dengan kasarnya, diikuti bibir dan lidahnya mendarat pada puncak bukit itu. Dengan kuat dia menyedotnya bergantian; aku menggelinjang antara sakit dan geli. Kembali dia berusaha meninggalkan bercak merah pada bukitku, tapi segera kucegah โ€” mungkin dia begitu gemas melihat kemulusan buah dadaku yang ada dalam genggamannya.

Mataku terlalu lama terpejam berusaha menikmati cumbuan Pak Taryo, hingga aku dikagetkan oleh suara. Ketika kubuka mata, ternyata Ana dan Dion sudah berdiri di samping kami, masih telanjang. Ana dengan santainya menyandarkan tubuhnya di dada Dion tanpa risih meski di depan sopirnya.

"Udah, gantian. Kamu yang karaoke, Ly," kata Ana.

"Sialan," umpatku dalam hati. Kutatap matanya, tapi dia membalas tatapanku dengan sorot mata penuh kemenangan yang menggoda.

Pak Taryo menghentikan cumbuannya dan menatapku seakan meminta persetujuan. Aku diam saja โ€” tak sanggup meng-iya-kan, padahal sebenarnya memang tugasku.

"Para cewek di Dolly atau Tandes saja bisa melakukan, masak Lily yang terkenal itu nggak mau? Lagian Dion juga ingin melihat bagaimana pintarnya kamu setelah kubilang bahwa kamu lebih pintar karaoke daripada aku," lanjut Ana dalam bahasa Jawa.

Aku semakin jengkel tapi merasa tertantang saat dibilang Dion ingin melihat kemahiranku. Entah kenapa, seakan aku ingin membuktikan di hadapan Dion bahwa aku lebih hebat dari Ana.

Kuminta Pak Taryo berdiri; penisnya tepat berada di depanku. Kupegang dan kuremas-remas, lalu kukocok dengan tangan. Kembali ada keragu-raguan saat penis itu hendak kuciumi. Kulirik Ana dan Dion yang tengah melihat kami dengan penuh perhatian; terpancar sorot mata aneh dari Dion yang tak bisa kuterjemahkan.

Penis di genggamanku semakin mengeras seiring desahan nikmat dari Pak Taryo. Kubulatkan tekadku sambil memejamkan mata saat bibirku akhirnya menyentuh ujung penis. Sapuan bibir sepanjang penis itu mengiringi desahan kenikmatan darinya; tangan Pak Taryo mulai meremas-remas rambutku โ€” suatu hal yang sangat tabu dilakukan seorang sopir padaku, tapi kali ini dia adalah tamuku yang berhak melakukan apa saja yang dimaui.

Dion mendekat ketika penis sopirnya memasuki mulutku. Rasanya mau muntah merasakan penis itu di mulut, meski ini bukan pertama kali aku mengulum penis dari orang "rendah" macam dia. Tapi kali ini sungguh berbeda karena apa yang kulakukan adalah suatu harga yang harus kubayar, dan aku tidak mendapatkan sepeserpun dari perbuatan ini. Mengingat hal itu, perutku semakin mual, tapi tetap kuteguhkan tekadku.

Aku agak "terhibur" saat tangan Dion yang penuh bulu itu mulai ikut menyentuhku, mengelus punggung dan rambut, serta meremas-remas buah dadaku dengan lembut โ€” jauh lebih lembut dari Pak Taryo. Kalau saja diperbolehkan, tentu kualihkan kulumanku pada penis Dion yang kemerahan dan menggemaskan itu. Tapi, jangankan mengulumnya, ketika tanganku berusaha meraihnya, Ana langsung menepis.

"Ojo nyenggol Dion," katanya, padahal Dion tengah meremas-remas buah dada dan mempermainkan putingku.

Sentuhan Dion membuat birahiku perlahan naik, menghilangkan mual di perut, dan kulumanku pun semakin bergairah pada Pak Taryo. Tentu saja dia semakin senang menikmatinya; berulang kali lidah dan bibirku menyapu sekujur batang hingga kantong bolanya. Pak Taryo pun semakin berani โ€” dipegangnya kepalaku dan dikocoknya mulutku dengan penisnya.

"Ya begitu, bagus, Pak Taryo... faster... harder," komentar dan perintah Dion dengan nada pelo pada sopirnya. Sementara dia sendiri meremasku semakin liar, dan satu tangannya dari belakang sudah berada di selangkanganku. Tak dapat kutahan lagi ketika pinggulku mulai bergoyang mengikuti permainan jari Dion pada vagina; kini atas dan bawah tubuhku bergoyang bersamaan.

"Kita pindah ke ranjang yuk," usulku sambil berharap bisa mendapat cumbuan lebih banyak dan lebih bebas dari Dion. Meski aku belum pernah melayani bule dan selama ini tidak pernah menginginkannya, tapi untuk Dion aku tidak keberatan menjadikannya sebagai yang pertama.

Bersambung...

โ† SebelumnyaDaftar BabSelanjutnya โ†’