Sebuah Tantangan (Bagian 10)
Sebuah Tantangan (Bagian 10)
Tanpa menunggu persetujuan, aku berdiri meninggalkan mereka menuju ranjang, langsung telentang bersiap menerima cumbuan—terutama dari Dion.
Harapan tinggallah harapan. Yang muncul ternyata Pak Taryo. Tanpa mempedulikan mimik kecewaanku, dia langsung mencumbu dan menindih tubuhku, menciumi leher dan bibirku, melumat habis hingga putingku terasa agak nyeri.
"Oh yes... Fuck me harder... Yes, faster... faster!" Sayup-sayup mulai kudengar jeritan Ana dari kamar mandi. Secercah iri melintas di benakku, membayangkan Ana mendapat genjotannya dari si bule dengan penis yang besar dan kemerahan itu, sementara aku hanya mendapat sopirnya yang tua dan jelek, rakus lagi.
Pak Taryo mulai menyapukan penisnya ke vaginaku.
"Non, aku sungguh nggak nyangka akan dapat kesempatan seperti ini, bisa bersama non yang cantik—malah lebih cantik dari Neng Ana," katanya seraya mulai perlahan memasukkan penisnya. Aku sama sekali tidak merasa tersanjung dengan pujian seorang sopir seperti dia.
Penis Pak Taryo mulai merasakan nikmatnya vaginaku, diiringi wajah tuanya yang menyeringai penuh kepuasan dan nafsu, bak singa tua mendapat kambing muda. Begitu melesak semua, digenjotnya vaginaku dengan kecepatan penuh bak mobil yang ditancap gas. Tubuh tua itu menelungkup di atasku; dengus napasnya yang menderu jelas terdengar dekat telingaku. Aku sama sekali tak bisa menikmati genjotannya—justru perasaan muak yang kembali menyelimutiku.
Dari dalam kamar mandi, Ana berteriak semakin liar. Ingin rasanya aku melihat apa yang tengah mereka lakukan hingga membuat Ana terdengar begitu histeris.
"Oh... ya... come on, Mark can do more than this!" Terdengar di sela desahannya Ana membandingkan Dion dengan orang lain yang bahkan tidak aku kenal.
Aku lebih menikmati desahan dan jeritan Ana daripada permainan Pak Taryo yang tengah mengocokku dengan penuh nafsu—suara-suara itu justru lebih membangkitkan birahi. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, bukan karena aku mulai bernafsu, tapi lebih berharap agar Pak Taryo cepat selesai dan aku bisa menyaksikan permainan Ana dan Dion.
"Oh no... no... please... not my ass!" Teriakan Ana menarik perhatianku—Dion rupanya memaksakan anal seks padanya. Kudengar suara Dion bicara, tapi terlalu pelan untuk kutangkap, apalagi dengan dengus napas Pak Taryo tepat di telingaku.
"Please... please don't, I never—aauww... shit!" Lalu senyap, tak terdengar lagi teriakannya. Entah apa yang terjadi, apakah dia pingsan? Tak sempat aku menduga-duga karena Pak Taryo sudah melumat bibirku tanpa menghentikan genjotannya.
"Oh shit... bule gila... my ass... ugh... ugh..." Desah Ana kembali terdengar. Rupanya Dion telah berhasil merenggut keperawanan anus Ana. Membayangkan penis yang besar itu keluar-masuk lubang anusnya, birahiku kembali naik. Goyangan pinggulku semakin cepat; ingin segera kutuntaskan tugas berat ini. Aku yakin Pak Taryo tak bisa bertahan lebih lama lagi, apalagi dengan sedikit berpura-pura mendesah nikmat.
Dugaanku benar. Dari raut wajahnya tampak dia sudah dekat dengan puncaknya.
"Keluarin di luar aja," pintaku sambil pura-pura mendesah—rasanya tak rela kalau vaginaku dikotori spermanya.
Tapi terlambat. Belum sempat aku memperhatikannya lebih lanjut, tiba-tiba kurasakan tubuhnya menegang bersamaan denyutan kuat penisnya di dalam vaginaku. Aku menjerit keras—bukan karena nikmat, tapi karena marah. Sopir itu telah "mengotori" vaginaku dengan spermanya, sperma yang selama ini disemprotkan pada wanita-wanita murahan di Dolly atau Tandes.
Aku tak sempat mendorongnya keluar karena tubuhnya sudah telungkup di atasku bersamaan dengan semprotan hangatnya.
"Sialan... sialan... sialaan, dasar sopir tak tahu diuntung," gerutuku dalam hati sambil merasakan denyutan demi denyutan.
"Maaf, Non—habis tanggung sih. Lagian Non Lily membolehkan aku tanpa kondom; biasanya mereka selalu minta pakai kondom," kata Pak Taryo setelah denyutannya habis. Aku tertegun mendengar kalimat terakhirnya.
"Ya sudah, turun gih! Berat, aku nggak bisa napas," kataku menahan marah sambil mendorong tubuh Pak Taryo yang masih menindihku. (Saat menulis cerita ini, aku teringat kalau tubuh Pak Taryo mirip Mat Solar dalam sinetron Bajaj Bajuri itu.)
Desah kenikmatan dari kamar mandi masih terdengar. Segera aku beranjak ke sana untuk melihat mereka. Kulihat mereka sedang melakukan doggy style di lantai; tampak penis kemerahan itu keluar-masuk lubang anus Ana yang tengah mendesah. Tampaknya Ana benar-benar sedang melayang tinggi hingga tak menyadari kedatanganku. Aku mendekat sambil berharap Dion mau menjamah dan berbagi gairah denganku.
Dion, yang tengah mengocok anus Ana, melihatku. Dia menarik tubuh telanjangku dalam pelukannya—inilah pertama kali aku berpelukan dengan seorang bule, telanjang pula. Maka akupun tak mampu menghindar saat bibir Dion mendarat ke bibirku. Aku hanya tertegun, tidak membalas lumatannya. Setelah tangan kekar Dion yang berbulu itu mulai menjamah dan meremas-remas buah dadaku, barulah aku seakan tersadar.
Namun sebelum aku membalas kuluman itu, ternyata Ana menyadari keberadaanku. Di sela-sela desahan kenikmatannya, Ana masih sempat menghardik.
"Ly, stay away from him. Don't even think about it!"
Spontan Dion melepaskan pelukannya dan aku pun menjauh, melihat mereka dari pintu kamar mandi. Birahiku terbakar hebat tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa malu kupermainkan sendiri klitorisku; Dion hanya tersenyum melihat tingkah lakuku.
Beberapa menit berlalu, mereka belum juga selesai—malahan berpindah ke ranjang tempat Pak Taryo tadi melampiaskan nafsunya padaku. Aku sengaja duduk menjauh dari Pak Taryo sambil menyaksikan Dion dan Ana bercinta. Berbagai posisi telah mereka lakukan, namun belum terlihat tanda-tanda menuju puncak, meski aku yakin sekali Ana telah berkali-kali menggapainya. Dalam hati aku mengagumi Dion yang begitu jantan, baik penampilan maupun gaya bercintanya. Sekali lagi aku iri pada Ana.
Ketika Ana tengah bergoyang pinggul di atas Dion, dia melihatku.
"Ly, sini," ajaknya untuk ikut naik ke ranjang. Dengan senang hati aku menurutinya—akhirnya kesampaian juga merasakan kejantanan Dion, pikirku.
Namun aku harus menelan kekecewaan sekali lagi pada detik berikutnya.
"Pak Taryo, kenapa duduk saja? Tuh, Lily sudah nganggur dan siap," kata Ana, lalu melanjutkan goyangan dan desahannya.
Pak Taryo yang merasa mendapat angin segera menuju ranjang dan langsung menubrukku—tubuh telanjang kami kembali menyatu.
Selanjutnya kami pun memacu nafsu di arena yang sama: ranjang. Berulang kali kulihat Ana menatapku dengan sorot penuh kemenangan. Dibiarkannya Dion menyentuh dan menjamah tubuhku, tapi tak sekalipun aku diizinkan menyentuh pasangannya—sepertinya dia benar-benar menikmati kemenangannya.
Ana dan Dion bercinta seperti tak ada hari esok; mereka benar-benar liar. Mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama kalau mendapat pasangan seperti Dion, tapi kini yang kudapat adalah Pak Taryo, sopirnya.
Hingga akhirnya aku pun menyerah kalah atas permainan Ana, dan terpaksa harus kurelakan sperma Pak Taryo mencemari vagina dan rahimku dua kali lagi.
"Neng boleh tahu nggak, kalau sama Non Lily itu bayarannya berapa ya?" tanya Pak Taryo saat hendak keluar kamar.
"Ha? Sudah sana, pergi! Yang jelas kamu nggak akan mampu sampai kapan pun," hardik Ana lalu mengusir Pak Taryo keluar kamar.
Sepeninggal Pak Taryo aku masih bersama mereka, sebenarnya berharap mendapat sepenggal kenikmatan dari Dion, tapi hingga batang rokok kedua kuhabiskan, sepertinya Ana tidak akan memberi kesempatan itu.
Sesungguhnya aku bisa saja meninggalkan mereka karena taruhan sudah terbayar, tapi seberkas harapan masih menahanku untuk lebih lama tinggal. Kalaupun aku tak bisa mendapatkannya, paling tidak bisa mengulum penis kemerahan itu—atau paling tidak memegangnya dan meremasnya.
"Ly, aku mau tinggal sampai besok. Terserah kamu mau di sini atau pergi, tapi jangan harap aku membagi Dion denganmu—karena pasti aku kalah kalau harus bersaing denganmu, seperti yang sudah-sudah," kata Ana menggoda.
Daripada menjadi penonton pasif, kuputuskan meninggalkan mereka. Lebih baik aku mencari tamu lagi—toh masih belum terlalu malam. Aku bertekad melayani tamuku nanti dengan penuh gairah. Beruntunglah tamuku malam ini karena akan mendapat bonus sampai pagi; akan lebih baik kalau bisa 2-in-1 atau bahkan 3-in-1, sekadar pelampiasan birahi, bila perlu bercinta sampai pagi.
Kutinggalkan mereka diiringi jeritan kenikmatan Ana saat penis Dion kembali keluar-masuk lubang anusnya.
Dalam dua hari ini aku telah mengalami kejadian yang luar biasa. Kemarin telah memecahkan rekor untuk melayani lelaki dalam sehari dan berbuat liar seperti pelacur jalanan. Hari ini aku harus melayani seorang sopir, dan mulai membayangkan nikmatnya bermain dengan seorang bule seperti Dion.
Ketika aku melintasi area parkir, kulihat Pak Taryo duduk bergerombol dengan rekan sesama sopir di pojok. Kupanggil dia.
"Kalau kamu ngomong macam-macam pada siapa saja, awas!!" ancamku. Dia hanya manggut-manggut.
Sambil menyusuri jalanan malam kota Surabaya, kuhubungi beberapa GM untuk menanyakan orderan. Ingin kulampiaskan birahiku segera—dengan satu, dua, atau bila perlu tiga lelaki sekaligus, seperti yang sudah pernah kualami sebelumnya.
Tamat