Sekretarisku Tercinta
Sekretarisku Tercinta
Aku baru saja merekrut sekretaris baru karena sekretarisku yang lama sudah malas-malasan dan kurang profesional, apalagi setelah dia menikah. Oh ya, hampir lupa โ aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang sedang naik daun, tepatnya di sebuah bank swasta. Tak kuduga, sekretaris baruku itu bukan sekadar masih perawan, tapi juga rajin, pintar, dan yang paling penting โ tubuhnya montok dan parasnya cantik, dengan kulit putih bersih tanpa cela. Dari pandangan pertama saat kuwawancarai, aku langsung terpikat. Dari sorot matanya serta sikapnya terhadapku, aku juga paham bahwa dia menyukaiku.
Wah, cocok sekali. Rasanya pada minggu pertama, hari-hari di kantor begitu indah dan terasa sangat cepat berlalu. Namanya Indah Rita Purwati. Rasanya kerjaku semakin bersemangat. Setiap kali dia datang ke ruang kerjaku membawa surat atau minumanku, aku mulai menancapkan busur-busur asmaraku โ dari sekadar menggenggam tangannya, mencium hidung dan keningnya, tapi masih cukup sopan, jangan sampai dia kaget atau marah. Tapi aku yakin dia pun ingin diperlakukan demikian, karena ternyata dia tak menolak; bahkan kerjanya semakin rajin dan cekatan, tak pernah bolos (termasuk saat datang bulan). Kupikir tak apa, malah aku senang โ toh aku belum mau lebih jauh, yang penting bisa mencium bibirnya, hidungnya, keningnya. Dari hari ke hari kami semakin tenggelam dalam asmara.
Ketika itu tahun 1982. Dia sudah punya pacar yang terus memintanya untuk segera menikah. Herannya, menurut pengakuannya, dia semakin benci dan tidak berniat kawin dengan pacarnya itu. Weleh-weleh, rupanya jerat cintaku telah merasuki jiwanya.
Sampai suatu hari โ tiga bulan kemudian โ aku memberanikan diri mengajaknya pergi ke luar kota di hari Minggu, karena tidak mungkin kami mencurahkan rasa cinta kami di kantor. Dia setuju dan berjanji menungguku di sebuah pasar swalayan tak jauh dari rumahnya. Ketika mobil kami meluncur di tol Jagorawi menuju Bogor dan kemudian ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, hati kami semakin berbunga-bunga. Kami akan dapat mencurahkan segalanya tanpa takut diketahui orang lain โ maklum, kedudukanku sebagai kepala cabang bank swasta terkemuka, di samping aku sudah beristeri dan beranak dua.
"Rit..." kataku pelan ketika mobilku keluar pintu tol.
"Ada apa, Pak?" Rita menjawab manis sambil melirikku.
"Sekarang jangan panggil Bapak, panggil saja Papah, biar nanti orang mengira kita suami-istri."
Dia mencubit pahaku sambil tersenyum manja, dan tangannya kutahan untuk tetap memegang pahaku. Dia mendelik manja, tapi juga setuju.
"Pah... kamu nakal deh," sambil mencubit sekali lagi pahaku.
Wah, rasanya aku seperti terbang ke langit mendengar Rita mengatakan "Papah" seperti yang kuminta. Sebaliknya, aku pun mulai memanggil Rita dengan sebutan "Mamah". Kami saling memagut cinta sepanjang perjalanan ke Pelabuhan Ratu, laksana sepasang sejoli yang sedang mabuk cinta atau pengantin baru yang akan berbulan madu โ hingga tak terasa mobilku sudah memasuki halaman Hotel Samudera Beach, Pelabuhan Ratu, yang berada di tepi Samudra Hindia dengan ombaknya yang terkenal garang.
Laksana suami istri, aku dan Rita masuk dan menuju meja resepsi untuk check-in minta satu kamar yang menghadap ke laut lepas. Petugas resepsi dengan ramah dan tanpa rewel โ mungkin karena kami ber-Mamah-Papah dan terlihat serasi โ segera memberikan kunci kamar sambil meminta seorang room-boy mengantar kami ke lantai tiga. Segera kututup pintu kamar, dikunci rapat, dan kupesankan agar kami tidak diganggu karena mau beristirahat.
Aku dan Rita duduk berhadapan di pinggir tempat tidur sambil tersenyum mesra penuh kemenangan. Akhirnya angan-angan yang selalu kuimpikan untuk berdua-duaan dengan Rita terlaksana juga. Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya โ Rita menggelinjang geli. Kusodorkan mulutku meraih mulutnya, dia terpejam manja, dan ketika bibir kami bersentuhan lalu kuulurkan lidahku, ternyata dia langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam.
"Ooohhgghh, Paahh..." Rita mulai terangsang dan merebahkan badannya. Aku segera menggumulinya, menaiki badannya. Rita melenguh dan terpejam; kemaluanku bergesekan dengan selangkangannya dan aroma parfumnya semakin merangsang nafsuku.
"Paahh, kita buka pakaiannya dulu, nanti lecek."
Oh, harum sekali mulutnya. Kulumat habis wajahnya, kupingnya, jidatnya, dan mulutnya.
"Paahh, bandel nih, kita buka dulu bajunya!"
Aku masih terengah-engah menahan nafsu yang membara, kemaluanku semakin menegang menggesek selangkangannya.
"OK, Mahh... yuk dibuka dulu."
Karena sudah sama-sama ngebet, kami saling membukakan pakaian. Setelah T-shirt-nya kulepas, terlihat sepasang gunung menyembul putih dan mulus. Kami berpandangan setelah tak selembar benang pun menempel. Kudekap Rita yang mulus, putih, dan harum itu, kujilati semuanya sambil berdiri, sementara kemaluanku sudah tegang memerah โ apalagi ketika Rita mulai meraba dan meremas batang kemaluanku.
Kutelentangkan dia di tempat tidur. Betapa mulusnya badan Rita, sempurna seperti bidadari. Pinggulnya yang montok, buah dadanya yang putih kencang dengan puting merona merah, dan kemaluannya yang dijalari rambut tak terlalu lebat jelas menampakkan bentuknya yang sempurna โ serta klitoris merah yang masih rapi dan belum menonjol keluar karena Rita memang masih perawan.
Kujilati dari ujung kaki sampai ujung jidatnya yang mulus, naik ke atas, berhenti lama di bawah kemaluannya. Kumainkan lidahku di antara selangkangannya, Rita melenguh. Terus kukulum kemaluannya, klitorisnya yang merah dan beraroma harum, makin lama makin merambah ke dalam lubang kemaluannya yang merah.
"Ogghh, Paahh, gelii... terus, Pahh, ogghh, tapi jangan terlalu dalam, Pahh... saakiit."
"Iya, sayang," jawabku, sambil terus lidah dan mulutku mengulum kemaluan dan klitorisnya yang mulai terasa agak asin karena cairan Rita mulai keluar.
"Ogghh, Paah... adduuhh, Paahh, gelii, Pahh, Mamah kayaak maauu... ogghh."
Aku terus menjilati seluruh kemaluannya dengan membabi buta, kuhirup seluruh cairannya yang wangi itu. Sesekali lubang pantatnya kujilati dan Rita menggelinjang serta merintih setiap kali kujilat.
Penisku semakin tegang dan keras, urat-uratnya terlihat jelas menegang. Kutahan terus agar tidak ejakulasi duluan โ aku ingin memuaskan Ritaku yang tentunya baru merasakan kenikmatan surga dunia ini bersama lelaki yang dicintainya.
"Paahh, eemmgghh... teruuss, Paahh, geellii... oogghh... Pappaahh jaahhaatt!"
Aku masih terus melumat, memamah, menggigit-gigit kecil lubang kemaluan dan klitorisnya yang merah dan beraroma wangi, sementara pantat Rita semakin cepat naik turun seakan ingin agar lidahku semakin masuk ke lubang kemaluannya.
"Paahh, naik Paahh, udaahh donnkk, Mamahh nggak tahaan."
Sambil menarik tanganku, matanya terpejam, buah dadanya yang putih, mulus, dan kencang naik turun. Aku menaiki badannya dan penisku yang sudah seperti besi menggesek bulu kemaluannya, menempel hangat di sela-sela kemaluannya yang semakin basah oleh ludahku dan cairan vaginanya. Kuremas dan kuhisap buah dadanya, kukulum puting susunya yang merah muda โ terasa sedap dan manis. Rita menggelinjang dan semakin melenguh.
"Mahh, masukin ya, penis Papah."
Dia mengangguk sambil tetap terpejam. Kubidikkan penisku ke lubang kemaluannya dan kujajaki sedikit-sedikit lubangnya โ maklum Rita masih perawan, aku tak ingin menyakitinya.
"Ppaahh, masukkaan cepatt... Mamah nggak tahan, Paahh, aahh..."
Kutancapkan penisku lebih dalam. Rita merintih nikmat, pantatku naik turun mencari lubang kemaluannya yang belum tertembus. Rita terus menggoyangkan pantatnya naik turun sambil merintih.
"Maahh, penis Papahh udahh masuukk, oogghh, mahh, vaginanya lezat, menyedot-nyedott..."
Aku mulai merasakan kenikmatan luar biasa. Di samping Rita masih perawan, vaginanya juga memiliki keistimewaan yang sering disebut "empot-empot ayam." Makin lama, penisku makin melesak jauh ke dalam vaginanya dan ada beberapa tetes darah sebagai tanda keperawanannya yang diberikannya kepadaku โ boss-nya, kekasih barunya. Betapa bahagianya hati ini.
"Paahh, saakkiitt, Paahh, tapi enaak, oogghh... Paahh, terus, goyang, paahh... ooghh, cepeetiinn paahh..."
Aku semakin mempercepat goyangan pantatku naik turun hingga penisku bisa masuk semuanya ke lubang kemaluan Rita. Aku bangun dan duduk, kupeluk Rita untuk duduk berhadap-hadapan tanpa melepaskan penisku. Rita duduk di pangkuanku dengan kaki melonjor ke belakang pantatku. Penisku terus menancap di vaginanya dan Rita mulai menaik-turunkan pantatnya.
"Paahh, ogghh... pahh," sambil melumat bibirku dan menggigitnya. "Maahh, oogghh, aememmhh... maahh, goyang teruss... Papah mau keluarr."
Rita semakin beraksi menaik-turunkan pinggulnya yang bahenol dan putih bersih, dan aku pun meladeninya dengan menaik-turunkan penisku semakin kencang.
"Ppaahh... Papahh harus tanggung jawab ya, kalau Rita hamil," ucapnya di sela nafasnya yang semakin ngos-ngosan.
"Ritaa... emmhhgg, sayang Papaahh... biarin mengandung anak Papaahh," manjanya.
Aku mengangguk saja karena aku sangat mencintainya.
"Paahh... oogghh... emmgghh... Ritaa mauu... keluaarr... oomhh."
"Papahh jugaa... sayangg," jawabku sambil telentang lagi, sementara Rita tetap bertengger di atasku dan pantatnya naik turun semakin cepat melumat habis batang penisku.
"Paahh... Mamahh... ooghh... ssakitt, oogghh... tapii... ennaakk."
Kubalikkan badannya dan kutancapkan penisku dari belakang. Kugenjot terus penisku keluar masuk lubang kemaluannya sambil kuremas pinggulnya yang mulus dan montok seperti gitar itu. Rita semakin merintih, aku juga semakin tersengal-sengal. Waktu sudah berjalan sekitar lima puluh menit sejak kami masuk kamar. Kuat juga, pikirku โ mungkin berkat latihan yoga yang cukup teratur, sehingga bisa menahan emosi dan menjaga napas.
"Terruuss... Paahh... eemmhh... ogghh... Paahh... Paahh, gghh... Mamahh maaoo keluaarr... oogghh... bareng, Paahh."
Kucabut dulu penisku dan kuminta Rita telentang kembali โ aku ingin menatap dan menciumi wajah kekasihku saat kami sama-sama ejakulasi. Kutancapkan kembali penisku ke vaginanya yang terlihat semakin memerah, kujilati dulu lendir-lendir di kemaluannya sampai lumat dan kutelan dengan nikmat. Dia menggeliat.
"Cepat dong masukan lagi penisnya, Pah!"
Dan, "Bless" โ nikmat sekali rasanya vagina perawanku tercinta ini. Aku seperti di awang-awang, saling mencintai dan dicintai. Kugoyang terus pantatku semakin lama semakin kencang, penisku keluar masuk vaginanya dengan gagah. Rita terus melenguh kenikmatan sambil tangannya memilin puting susuku, semakin menambah nikmat. Rita semakin menggila goyangnya mengimbangi keluar masuknya penisku, vaginanya terasa menyedot-nyedot dan menjepit dengan daging lunak yang rapat sekali. Keringat kami semakin bercucuran dan semakin membangkitkan gairah cinta, hingga tiba pada puncak gairah dan surga dunia yang paling indah โ disaksikan laut selatan โ dan kami berdua serempak berteriak dan mengejang.
"Paahh... Maahh... oogghh... mauu keluuarr... ogghh... baarreengg... yuu... ooghh... sayaang."
Kami sama-sama mengejang, mengerang, merengkuh apa pun yang bisa direngkuh โ sebuah klimaks dua manusia yang saling mencintai dan baru dipertemukan, meskipun sudah agak terlambat karena aku sudah berkeluarga.
Sejak itu, aku terus memadu kasih kapan dan di mana saja โ kebanyakan di luar kota โ sampai Rita kawin dan keluar dari perusahaanku. Anak-anaknya adalah anak-anakku juga; bahkan wajahnya mirip wajahku. Kadang-kadang kami masih bertemu dan memadu kasih karena kami tak bisa melupakan saat-saat indah itu. Kapan perselingkuhan ini akan berakhir, kami tidak tahu โ sebab cinta kami sangat mendalam.
Rita telah keluar dari kantor cabang bank yang kupimpin di bilangan Slipi karena dia dipaksa kawin dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya. Namun sebagai anak yang patuh pada orang tua, terpaksa harus mengikuti keinginan mereka dan ikut bersama suaminya pindah ke Bandung, karena suaminya bertugas di kantor pajak Jawa Barat.
Sebulan sebelum menikah, dia kuajak ke Singapura untuk operasi selaput dara, karena aku tidak ingin Ritaku bermasalah dengan suaminya pada malam pengantinnya. Kami menginap di sebuah hotel di kawasan Orchard Road yang ramai dan penuh pertokoan selama tiga malam, dan satu malam lainnya aku menunggunya di Rumah Sakit Elizabeth yang terkenal, langsung ditangani oleh dr. Lie Tek Shih, spesialis operasi plastik, kenalan lamaku. Malam sebelum operasi selaput dara, kami menumpahkan seluruh kasih sayang semalam suntuk di hotel bintang empat itu. Malam itu merupakan malam yang ke-24 (karena Rita rajin mencatat setiap pertemuan kami) kami memadu kasih dan terlarut dalam kebersamaan yang tiada tara, sejak yang pertama di Samudera Beach, Pelabuhan Ratu.
"Papah," Rita bersender manja di dadaku di kamar hotel itu.
"Apa, sayang?" jawabku sambil mencium rambutnya yang harum.
"Mamah... Mamah nggak mau kawin dan meninggalkan Papah," rengeknya manja.
"Memangnya kenapa, sayang?" jawabku sambil mengusap sayang payudaranya yang putih ranum.
"Mamah nggak cinta sama calon suami pilihan Bapak, lagi pula Mamah nggak mau meninggalkan Papah sendirian di Jakarta." Matanya mulai berkaca-kaca. "Mamah sangat sayang sekali sama Papah, Mamah cinta sekali sama Papah. Mamah tak rela tubuh dan segala milik Mamah dijamah dan dimiliki orang lain selain Papah. Achh... kenapa Tuhan mempertemukan kita baru sekarang, setelah Papah punya istri dan anak?" Rita terus bergumam sambil membelai dadaku dan sesekali mempermainkan puting susuku yang semakin keras.
"Mahh, sudahlah โ itu sudah diatur dari sananya begitu. Kalau dipikir, Papah pun tak rela kamu dijamah lelaki lain. Papah tak kuasa membayangkan bagaimana malam pengantinmu nanti, tapi semuanya sudah akan menjadi kenyataan yang tidak mungkin kita ubah." Aku menciumi seluruh mukanya dengan segenap kasih sayang, seakan kami tidak ingin terpisahkan. Air mata kami berlinangan, bercampur menjadi satu dalam kesenduan dan kemesraan yang tak pernah berakhir setiap kali kami memadu kasih.
"Papaahh, nikmatilah Ritamu sepuasmu, Pahh, sebelum orang lain menjamah tubuhku."
Rita menarik tanganku ke buah dadanya dan merebahkan badannya ke kasur empuk. Aku beringsut mendekatinya sambil merebahkan badanku di sampingnya, lalu kuusap penuh mesra buah dadanya yang putih ranum dengan putingnya yang merona merah. Kujulurkan mulut dan lidahku ke puting buah dada kirinya yang menurutnya paling cepat membangkitkan rangsangan berahinya.
"Paahh... gellii... sayaang... oogghh, Paahh... naikin Mamaahh, Paahh..."
Matanya merem melek dan dadanya naik turun.
"Iyyaa, yaanng..." Aku segera menindihnya dan penisku mulai kembali tegang. Tiba-tiba Rita membalikkan badannya dan merenggangkan kedua kakiku. Tak sampai satu menit, Rita sudah mengulum penisku yang semakin mengeras dan mengkilat kepalanya, sampai batangnya amblas semua ke dalam mulutnya.
"Oogghh, Paahh, sudah assiinn โ Papah sudah ngiler nih. Tapi nikmat kok, Mamah suka."
Aku semakin merem melek.
"Ogghh, Mmaahh, geellii, sayaang, nikmaatt, ogghh."
Rita mengenyot biji pelirku dan menggigit-gigit sayang hingga aku menggelinjang geli sekaligus nikmat. Rita memang pintar, hebat, telaten, dan cantik. Aku terkadang tak rela dia nanti ditiduri lelaki lain, walaupun itu suaminya. Aku menggodanya.
"Mah, apa nanti suamimu juga dijilati begini?"
Rita berhenti melumat dan menjilat penis dan buah pelirku sejenak. Matanya mendelik dan mencubit pantatku keras sekali.
"Jangan menyakiti hati Mamah ya, Pah. Mamah sumpah nggak akan seperti ini โ seperti main sama Papah โ meskipun nanti lelaki itu resmi jadi suamiku." Rita iseng mengusap penisku penuh sayang sambil nyerocos lagi. "Percaya dech, Pah โ Rita cuma cinta sama Papah. Paling-paling kalau main nanti sama dia sekedar karena kewajiban, biar saja kayak gedebong pisang."
"Benar ya, Mah? Papah nggak rela kalau kamu main sama dia, terus ikut goyang dan melenguh. Papah pasti merasakannya."
"Nggak bakal, sayang. Mamah hanya manja dan menikmati semua kalau sama Papah, percaya dech sayang."
Rita kembali naik di atas badanku dan penisku terus diusap-usapnya, sesekali dikocoknya tepat di bagian kepalanya, sehingga langsung tegang dan berdiri perkasa. Rita mengangkat sedikit pantatnya dan menyelipkan penisku yang semakin perkasa ke lubang kemaluannya yang mulai basah dan licin. Penisku memang tidak terlalu panjang โ paling sekitar 15 sentimeter โ tapi kerasnya seperti besi, dan Rita selalu menikmati klimaks dengan sangat bahagia, bahkan bisa berkali-kali klimaks dalam setiap hubungan denganku.
Pantatnya mulai bekerja naik turun dan pantatku mengimbanginya dengan menekan-nekan ke atas, sehingga Rita semakin merem melek keasyikan.
"Ppaahh, aagghh... terus teken sayaang... Mamaahh eennaakk, adduuhh, Paahh... oogghh... Mamaahh, cintaa... yaangg..."
Selalu saja Rita nyerocos kalau lagi keasyikan vaginanya melumat penisku. Vaginanya mulai lagi menyedot-nyedot dengan "empot ayam"-nya yang tak bisa kulupakan.
"Mmaahh... oogghh... aduuhh, Maahh, nikmaat, sayaang... teruuss, Maahh, goyaanng."
Aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kuremas buah dada dan putingnya hingga dia kegelian dan semakin kencang menaik-turunkan pantatnya, sampai bunyi gesekan penis dan vaginanya semakin terdengar jelas. Rita membalikkan badannya dan membelakangiku, tapi dengan posisi tetap di atasku tanpa mengeluarkan penisku dari kemaluannya. Aku paling bernafsu kalau melihat pantat Rita yang putih mulus dan bahenol naik turun di depan mataku, sementara vaginanya terus menghisap-hisap batang penisku sampai amblas ke dasarnya.
Tiba-tiba: "Pppaahh, ogghh, Papaahh, Mamahh maoo keluaarr... ooghh... Papaahh... aa... aa... aagghh, aagghh, Mamaahh duluaann, Pahh..."
Rita terkulai lemas sambil mencubit keras pantatku, lalu berbalik kembali menindih tubuhku, sambil memegang penisku yang masih berdiri tegak dan belepotan lendirnya.
"Bandel nih... ayo cepeten masukin lagi, Mamah yang di bawah!" perintahnya manja sambil menciumi wajahku.
Kedua tubuh kami mandi keringat. Rasanya puas sekali setiap bersetubuh dengan Ritaku sayang.
Bersambung...