Sekretarisku Tercinta (Bagian 3)
Sekretarisku Tercinta (Bagian 3)
Telah seminggu Rita menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Resepsi pernikahannya di Balai Kartini cukup meriah, dan aku datang bersama istriku untuk menyampaikan selamat. Ketika aku menyalaminya, dia tertegun dan terasa agak kikuk dan serba salah โ aku pun merasakan hal yang sama.
"Terima kasih ya, Pak," katanya hampir tak terdengar.
Di hatiku berkecamuk seribu macam pikiran, tapi kuusahakan untuk tetap wajar. Ritaku begitu cantik dan anggun dengan pakaian pengantinnya. Aku membayangkan bahwa sebentar lagi Rita kekasihku, Rita yang selama beberapa tahun telah memadu cinta denganku, akan menjadi istri orang.
Meskipun kutahu bahwa dia tetap mencintaiku, secara resmi dia akan menjadi istri orang lain โ tentu tidak akan sebebas dulu ketika dia masih single. Sebentar lagi Rita akan tidur berdua-duaan dengan lelaki lain, mungkin untuk selamanya. Aku pun tak ingin dia menjadi janda dan menjadi gunjingan orang. Tidak, aku tak rela Ritaku menjadi gunjingan orang.
Sekilas aku berpikir untuk mengakhiri saja hubunganku dengan Rita karena dia telah menjadi istri orang, tapi apakah bisa semudah itu melupakannya? Dunia rasanya sepi dan kejam, dan aku melangkah gontai meninggalkan pesta perkawinannya yang masih penuh tawa dan canda teman-teman dan keluarganya.
Beberapa hari setelah pernikahannya, aku membenamkan diri dalam pekerjaanku. Siang dan malam kusibukkan diriku dengan pekerjaan dan mengurus anak-anakku. Aku tak mau membayangkan โ dan memang tak sanggup membayangkan โ sedang apa Rita beberapa hari setelah pernikahannya. Aku cemburu, marah, masgul, dan gundah jika membayangkan dirinya sedang bersenang-senang dengan suaminya yang tentunya sudah tak sabar ingin menikmati kemontokan dan kemulusan tubuh Rita yang sudah resmi jadi istrinya. Aku membayangkan Rita telanjang bulat bersama suaminya, manja, bersenggama bebas tanpa takut oleh siapa pun, dan melenguh mesra seperti ketika bersenggama denganku.
Tiba-tiba aku sangat benci padanya. Aku menganggap Rita tidak setia padaku, Rita telah mengkhianati cintaku โ buktinya dia mau saja dengan lelaki lain. Apakah itu yang namanya cinta dan kesetiaan? Aku bertekad menjauhinya mulai sekarang dan tidak akan menerima teleponnya. Rita memang berjanji akan meneleponku paling lambat satu minggu setelah menikah dan sebelum ikut suaminya pindah ke Bandung.
Tidak! Aku tak akan menerimanya jika dia meneleponku. Benar saja, pada hari kelima setelah kawin dia meneleponku.
"Pak, ada telepon," kata sekretarisku yang baru, pengganti Rita.
Anehnya, meskipun berparas lumayan, aku tak tertarik sama sekali dengan sekretaris baruku itu. Aku memang bukan tipe "hidung belang" yang sekadar mau iseng bercumbu dengan perempuan. Aku hanya jatuh hati dua kali seumur hidupku: kepada istriku dan kepada Rita.
"Pak, kok melamun? Ada telepon dari Ibu Rita, katanya bekas sekretaris bapak," sekretaris baruku kembali mengagetkan lamunanku.
"Ooh, ya ya, sebentar, Rani... emh, dari siapa? Rita? Bilang saja Bapak sedang ke luar kantor ya!"
"Lho, Pak, kenapa? Kan kasihan, Pak. Katanya penting sekali, dan besok Ibu Rita mau pindah ke Bandung."
Rani, sekretaris baruku itu, mulai mendesakku untuk menerima telepon Rita. Aku sejenak merasa bingung โ rasanya masih benci tapi juga sangat rindu pada Rita, apalagi kata Rani besok dia jadi pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Bandung.
Setelah berpikir sejenak... "OK, Rani, sambungkan ke sini!" Dan aku agak gugup untuk kembali berbicara dengan Rita, untuk kembali mendengar suaranya โ Rita yang sekarang sudah menjadi istri orang lain.
"Halloo... siapa nih?" kataku agak malas.
"Papah, ini Rita, Pah. Papah kok gitu sih?" jawab Rita di ujung sana.
"Oh, Nyonya Prayogo. Saya kira Rita Prameswara, kawanku," kataku menggoda.
"Nggak lucu ah... Mamah sekarang tanya serius: apa Papah mau nemui Mamah nggak sebelum besok Mamah pindah ke Bandung?" jawabnya setengah mengancam.
Aku bingung ditanya begitu. Jauh di dalam hatiku sebenarnya aku rindu berat pada Rita, tapi kebencian dan kekesalan masih menempel erat di benakku. Beberapa jenak aku tidak bisa menjawab sampai Rita nyerocos lagi.
"Mamah ngerti, Papah masih kesal dan benci sama Mamah. Tapi kamu kan sudah setuju kalau Mamah terpaksa harus kawin, demi kebaikan hubungan kita dan demi menjaga nama baikmu juga. Papah, dengar! Mamah sudah seminggu nggak menstruasi sampai sekarang. Ingat hubungan kita di Hotel Sahid terakhir kali? Sudahlah, nanti Mamah ceritakan lebih lengkap. Sekarang mau nggak jemput Mamah di toko biasa di Blok M? Soalnya mumpung si Yudi pulang agak larut malam."
Nama suaminya memang Yudi Prayogo dan hanya selisih dua tahun dengan Rita โ katanya bertemu di kursus Inggris LIA.
Hatiku mulai melunak mendengar pengakuannya dan serta merta aku menyetujui untuk menjemputnya di Blok M. Aku memarkir mobilku di tempat parkir yang agak memojok dan sepi โ maklum kami harus semakin berhati-hati karena Rita sudah menjadi istri orang. Rita segera mengenali mobilku dan setelah duduk di sampingku, segera kukebut keluar Blok M menuju utara, melewati Sisingamangaraja, Sudirman, naik jembatan Semanggi, lalu memutar ke Jalan Jenderal Subroto, dan dengan cepat masuk ke halaman parkir Hotel Kartika Chandra.
Rita terlihat lebih cantik, sedikit lebih berisi, dan tambah bersih serta putih mukanya. Rambut dan bulu-bulu halus di sekitar dahinya terlihat hilang, mungkin karena dikerok oleh perias pengantinnya. Dia mengenakan celana panjang merah dan T-shirt putih kembang-kembang ditutupi blazer warna hitam, terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Banyak yang menyangka dia keturunan Tionghoa, padahal dia jatul โ "Jawa Tulen". Ibunya dari Purwokerto dan bapaknya dari Surakarta; katanya sih masih kerabat Kesultanan Surakarta, masih trah langsung Raja Pakubuwono.
Setelah check-in sebentar, aku sudah berdua dengan Rita di kamar hotel. Untuk pertama kalinya aku berduaan dengan istri orang. Ada perasaan berdosa menyelinap di hatiku. Tapi semuanya menjadi hilang karena betapa besarnya cintaku pada Rita. Juga sebaliknya โ jika Rita tak mencintaiku, mana mungkin dia berani bertemu lelaki lain padahal dia baru kawin lima hari lalu?
"Papah, Rita sedang mengandung janin anakmu. Biasanya tanggal lima minggu lalu Mamah menstruasi โ ternyata nggak keluar sampai sekarang," Rita menambahkan keterangannya tadi di telepon, dan aku semakin cinta dan sayang rasanya. Tapi tetap saja aku ingin menggodanya dan mengetes cintanya.
"Oh, ya, hampir lupa โ gimana dong bulan madunya kemarin? Ceritain dong, Rit! Pasti seru dan rame dengan lenguhan. Dan apa suamimu nggak ribut tanya soal keperawananmu?"
Rita mendelikkan matanya dan mencubit pahaku keras sekali.
"Percaya atau tidak terserah Papah. Yang pasti nggak ada lenguhan, nggak ada goyangan โ persis kayak gedebong pisang. Si Yudi memang sempat marah-marah karena mungkin Mamah terlalu dingin dan nggak bergairah. Tapi memang nggak bisa dipaksakan. Mamah hanya bergairah kalau bersenggama dengan Papah. Dia nggak nanya kenapa nggak ada darah perawan di sprei. Ah, sudah, sudah! Nggak usah tanya gitu-gituan lagi. Nanti malah berantem. Pokoknya Mamah sayang benar sama Papah, nggak ada duanya deh."
Seperti biasa, dia mulai mencopoti pakaianku satu persatu โ sampai celana dalamku pun dia tanggalkan. Begitu terbuka, penisku langsung bergerak liar dan setengah tegang begitu tersentuh tangan halus Rita. Tak buang waktu, Rita melemparkan semua pakaiannya ke lantai karpet, hingga terlihat bodinya yang seksi, putih mulus, dengan puting susu yang semakin ranum โ mungkin pengaruh kehamilannya meskipun baru beberapa hari mengandung anakku.
Penisku yang masih setengah tertidur langsung dikulumnya ke dalam mulutnya dan dihisapnya dalam-dalam, padahal aku masih berdiri seperti patung bersandar ke tembok. Dengan ganas dia menghisap, menggigit, dan menyedot penisku dalam-dalam sampai mentok ke langit-langit mulutnya. Tak lama penisku langsung tegang, memerah, dan mengkilap bercampur ludahnya.
"Ooogghh... Maahh... terus, Maahh... jilaat... oogghh..."
Aku mulai terangsang dan menikmati setiap kali penisku dihisapnya. Rita memang suka sekali menjilat dan menghisap penisku, tapi ketika kutanya apakah dia juga menghisap penis suaminya, dia bilang amit-amit, nggak nafsu katanya. Mulut Rita berpindah menghisap dan menjilat, dia juga senang menggigiti biji pelirku sampai aku kesakitan bercampur geli dan nikmat bukan kepalang.
"Oooghh... Maahh... jangan digigit, Papah sakiitt."
Kuminta Rita berhenti dulu, aku juga sudah rindu untuk menjilat vagina dan klitorisnya. Kuminta Rita tiduran di pinggir tempat tidur dengan kaki terjuntai ke bawah โ dengan begitu aku bisa duduk di tengah-tengah selangkangannya dan vagina serta klitorisnya terlihat jelas. Begitu indah, dengan warna merah jambu klitoris dan lubang vaginanya di hadapan mukaku.
Kujilat dengkul dan pahanya, terus merayap kujilati selangkangannya yang mulus. Sesekali kujilatkan lidahku ke lubang pantat, klitoris, dan lubang vaginanya. Rita melenguh tertahan.
"Oooghh, Papaahh... eemghh, aduuhh... teruuss, Paahh... ooghh... enaakk."
Kalau Rita sudah mulai melenguh begitu aku semakin bernafsu untuk terus menjilat, menggigit, dan menyedot klitoris dan lubang vaginanya sambil menyedot air maninya yang mulai meleleh keluar. Nikmat, manis dan sedikit asin. Kukeraskan lidahku supaya semakin tegang dan kutusukkan ke dalam lubang vaginanya. Rita semakin melenguh keenakan karena mungkin lidahku terasa seperti penis yang menyodok-nyodok ke dalam lubang vaginanya. Cairan vaginanya semakin banyak keluar dan kuhisap serta kutelan dengan nikmat.
"Paahh... ooghh... Paahh... enaakk, teruuss... Paahh... oogghh... aduuhh."
Rita semakin ramai, suaranya mungkin terdengar tamu di sebelah atau room-boy yang sedang lewat. Kujilatkan lidahku ke lubang pantatnya berkali-kali; Rita bergelinjang kegelian.
"Papaahh... gelii..."
Penisku menggesek pahanya yang mulus sehingga semakin tegang.
"Paahh... penisnya geli tuch di paha Mamah. Udahan dulu ngisepnya sayang, kesini deh, cium Mamah dan masukin penisnya."
Kuhentikan jilatan lidahku โ memang sudah mulai pegal menegangkan lidah hampir seperempat jam. Kugeserkan badanku ke atas sejajar dengan tubuh Rita, dan sambil kulumat mulutnya dalam-dalam, kugesekan penisku ke vaginanya yang basah. Betapa nikmatnya. Kukulum dan kugigit lidahnya. Rita menjerit tertahan, lalu kujulurkan juga lidahku dan dia balas menggigit lidahku dengan bernafsu. Aku gantian teriak โ sampai keluar sedikit air mata. Itulah kenang-kenangan kalau Rita nanti di Bandung, katanya.
Kujilati kupingnya, dahinya, hidungnya, matanya, sampai Rita menggelinjang-gelinjang ketika kujilati dan kugigit kupingnya.
"Tuuhh, Paah, lihat, sampai merinding," katanya manja. "Paahh, masukin penisnya, Paahh. Mamah sudah rinduu."
Rita melenguh manja dan merenggangkan selangkangannya untuk membuka lubang vaginanya lebih lebar. Penisku yang tambah keras nyasar-nyasar di lubang vaginanya setelah menembus bulu-bulu vaginanya yang mulai basah, dan "Bless..." Rita berteriak keenakan sambil menggigit bibirku.
"Paahh... oogghh... pelaann pelaann... doong."
Matanya terpejam. Nafasnya yang harum masuk terhirup oleh hidungku. Kutarik dan kutekan penisku semakin kuat dan sering, keringatku semakin bercucuran. Rita juga semakin mengencangkan goyangan pinggul dan pantatnya naik turun sampai aku merasakan kepala penisku mentok di ujung lubang vaginanya.
"Paappaahh... oogghh... teruuss, cumbu Mamaah, Paahh... Mamaahh cintaa, Mamaahh... sayy... ooghh... aduuhh... aangg."
Rita semakin ramai mengerang dan melenguh, tak peduli suaranya didengar orang. Kuminta Rita menungging setelah kucabut penisku. Rita menurut, dan wow โ aku selalu semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Rita yang mulus dan seksi. Aku jongkok dan menyodorkan penisku dari belakang setelah membuka lubang vaginanya sedikit dengan tanganku, dan "Bleezz" โ Rita berteriak keenakan.
"Aagghh, ooghh... Paahh... terus genjot, Paahh... woowww... enaakk, Paahh..."
Aku semakin mengencangkan sodokan penisku. Rita melenguh, merintih, dan teriak-teriak kecil, sementara keringat kami semakin bercucuran membasahi seprai. Aku merasakan kenikmatan luar biasa setiap kali berhubungan dengan gaya doggy style sehingga spermaku mulai meleleh keluar, semakin meramaikan bunyi gesekan penisku dengan vagina Rita. Rita semakin menunggingkan pantatnya sehingga penisku semakin amblas di dalam vaginanya.
"Maahh... ooghh... aduuhh... Maahh, vaginanya enaakk... punya Papah yaa, sayaang..."
Rita menjawab sambil merintih: "Iyaa... sayaangg, semuanya punya Papaahh."
Kusodokkan penisku semakin dalam.
"Maahh... adduuhh... Papaahh... moo keluaarr! Cabut dulu ya, Maahh..."
Rita setuju dan segera telentang kembali. Aku segera menggumulinya dari atas badannya, kulumat pentil buah dadanya. Rita keenakan dan minta penisku segera dimasukkan kembali ke vaginanya. Dia minta aku merasakan kenikmatan bersenggama dengannya sampai nanti bertemu lagi di Bandung dengan segala cara. Kumasukkan kembali penisku ke vaginanya yang semakin basah dengan cairan kami yang sudah bercampur.
"Bleesszz, crroockk... chhoozkk... breesszz... crrockk..." bunyinya semakin gaduh.
Rita semakin membabi buta menggoyang dan menaik-turunkan pinggulnya, dan aku juga demikian. Kutekan dan kucabut penisku yang panas dan keras ke lubang vaginanya. Ingin rasanya kutumpahkan semua sperma ke lubang vagina dan rahim Rita. Tiba-tiba kami merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa โ kami meregang dan melenguh bersama-sama, meregang, meremas, dan memeluk erat dua badan manusia yang saling mencinta dan seakan tak mampu terpisahkan. Rita mengejang dan menggigit bibir dan lidahku, pinggulnya terangkat sambil berteriak.
"Papaahh... ooghh... Mamaah... ooghh, keluaar... sayaangg," sambil mencubit dan mencakar punggungku.
Bersambung...