18px

Sekretarisku Tercinta (Bagian 5)

Sekretarisku Tercinta (Bagian 5)

"Paahh, oogghh, Mamah rindu jilatanmu seperti ini, oogghh." Lenguhan Ritaku baru lagi kudengar setelah dua bulan tidak bertemu.

"Papah buka pakaiannya dong!" kata Rita mulai tidak sabar.

Aku segera menanggalkan seluruh pakaian yang melekat dan ketika celana dalamku kulepas, penisku langsung mencuat keluar dengan tegang. Rita tersenyum manja dan langsung menyergap penisku dengan kuluman mautnya.

"Paahh... Mamah rindu penis inii, eemmgghh, enaakk, Paahh, kok sudah assiinn?"

Mulutnya menyedot-nyedot penisku sambil maju mundur, aku merasakan kenikmatan luar biasa. Rita menggigit-gigit batang penisku yang mulai menegang seperti kayu.

"Maahh, oogghh, teruuss, oogghh, tapi jangaann oogghh keras-keras gigitnya!"

Aku mulai merem melek keasyikan. Rita semakin kencang menghisap penisku sambil memejamkan matanya, sementara buah dadanya berayun-ayun ketika dia menaik-turunkan mulutnya sampai batang penisku masuk semua ke mulutnya.

"Paah, sudah keluar lendirnya, asiin!" sambil menelan cairan penisku, dan hisapannya semakin menjadi-jadi di kepala penisku sambil menghisap lendir yang keluar. "Eemmhh... enaak, Paahh."

Aku semakin merem melek sambil menggapai buah dadanya. Ketika tanganku berhasil meraihnya, kuremas buah dadanya yang semakin kenyal dan kupilin putingnya yang memerah seperti buah delima matang.

"Maahh... oogghh... udaahh duluu yaang, Papah nggak tahaann... ooghh."

Aku menggelinjang kuat ketika hisapannya semakin asyik di kepala penisku.

"Sekarang giliran Mamah yang tidur."

Rita telentang pasrah. Kedua kakinya kurenggangkan, kuusap perutnya yang mulai terlihat sedikit buncit mengandung anakku. Kubenamkan mukaku di selangkangannya sambil kujilat kedua selangkangannya, dan dengan cepat kujilat pula lubang duburnya. Rita selalu tidak tahan kalau kujilat lubang pantatnya โ€” dia menggelinjang kegelian sambil merintih.

"Aduuhh, Papah jahaat!"

Kumainkan klitorisnya dan lubang vaginanya dengan lidahku, kukeluarkan ludahku membasahinya sehingga terasa semakin nikmat ketika kuhisap cairan vaginanya yang sudah mulai keluar bercampur ludahku. Asin, manis, dan gurih. Kutelan dalam-dalam. Rita mulai menaik-turunkan pinggulnya kegelian.

"Paahh, eemmgghh... oogghh, teruuss... Paahh, lidahnya kayak kontool."

Dia terus melenguh seperti biasanya, dan lenguhannya inilah yang tak bisa kulupakan. Lidahku yang tegang semakin kujulurkan ke dalam lubang vaginanya, kumainkan klitorisnya dengan lidah yang digetarkan โ€” Rita menggelinjang hebat. Rongga-rongga vaginanya kulumat dan kujelajahi dengan lidahku, sementara bibirku melumat kelentitnya yang memerah.

"Oooghh... Papaahh... nikmaat... teruuss, Paahh!"

Rita menaik-turunkan pantatnya semakin tinggi sehingga lidahku seperti penis yang menancap dalam di vaginanya.

"Aduuhh... Paahh... oogghh... Paahh, Mamaahh... oogghh... enaakk!"

Mulai deh Rita melenguh panjang.

"Paah, hayo naik deh, Mamah sudah nggak tahan! Masukin cepet penisnya, sayang!"

Rita semakin melebarkan selangkangannya dan menggapai badanku. Aku bangun dan menidurinya dengan hati-hati karena sekarang Rita sedang berbadan dua. Penisku sudah keras seperti batu dan mengangguk-angguk gagah mencari mangsa โ€” dia pun tahu bahwa kesukaannya ada di depannya. Vagina Rita memang sudah tak asing lagi bagi penisku sehingga begitu bersentuhan saja langsung mengeras bukan main. Dan Rita memang tak bakal lupa dengan keperkasaan penisku yang mulai dikenalnya sejak dia perawan, untuk pertama kali menikmati penis lelaki.

Kugesekan penisku di pahanya. Rita kegelian dan memberikan kode agar langsung ditancapkan ke vaginanya yang sudah menganga, basah, hangat, dan mulai menyedot-nyedot. Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit. Hangatnya vagina Rita, dan vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot; empot-ayamnya mulai bekerja. Kutarik lagi penisku sehingga pinggul Rita ikut naik karena sudah tidak sabar ingin melumat penisku. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan, Rita menaikkan pinggulnya ke atas sehingga batang penisku setengah ditelan vaginanya. Pinggulnya diputar-putar sambil mengeluarkan jurus empot-ayamnya.

"Ooogghh, Mamaahh... uughhgghh... nikmaatt, aduhh."

Desahanku membuat Rita semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya hingga batang penisku semakin amblas ditelan vaginanya yang tetap saja sempit.

"Paahh, tekaann, Paahh... Mamaahh... oogghh... nikmaatt sekalii."

Pinggul Rita dan badannya semakin bahenol dan seksi; perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi. Kuganjal pantatnya dengan bantal dan aku setengah duduk bertumpu pada dengkul, menggenjot penisku keluar masuk vagina Rita yang semakin naik ditopang bantal sehingga seluruh rongga vaginanya terlihat jelas.

"Bless... creek... bless... creek..." Gesekan dahsyat penis dan vaginanya yang empot-ayam semakin ramai. Daging vaginanya terlihat seperti terbawa ketika kucabut batang penisku, saking sempitnya. Dan empot-ayamnya hanya dikeluarkan kalau senggama dengan aku saja, katanya โ€” sedangkan dengan suaminya tetap seperti layaknya gedebong pisang.

"Paah... aduuhh, Paahh... Mamaahh... nggaak tahaan, Paahh!"

Rita seperti tidak ingat sedang hamil. Badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku yang perkasa.

"Paahh... ooghh... eemmghh... oozzhh... aauugghh... eemmhh... teruuzshh... tusuukk... Paahhghh."

Lenguhan itu yang sangat kudambakan. Aku seperti lelaki yang sangat dibutuhkan Ritaku โ€” tidak ada lelaki lain yang bisa memuaskannya lahir batin.

Aku semakin gila menyodokkan penisku keluar masuk vagina Rita, kuangkat kaki kirinya ke atas dan kutenggelamkan seluruh batang penisku sampai terasa mentok di ujung lubang vaginanya.

"Ooogghh... apaahh... uughhzz... Papaahh... nikmaatt... ooghh... teruss... aduuhh... teruuss, Mamaahh... maoo... keluaarr!"

Rita berteriak-teriak keras sambil seluruh badannya bergetar dan bergoyang, keringat kami bercucuran membasahi seprai.

"Paahh, kenapa dicabut?"

Rita mendelik waktu penisku mendadak dicabut dari lubang vaginanya. Rita tersenyum lagi ketika kuminta dia menungging agar kami bisa bermain dengan doggy style. Pinggulnya yang putih mulus semakin berisi dan bahenol, menambah nafsuku semakin menjadi ketika Rita menungging. Kuhisap dan kujilat lendir vaginanya dari belakang, sekalian lubang pantatnya โ€” Rita melenguh panjang. Dia memang paling geli kalau dijilat lubang pantatnya.

"Papaahh... aduuhh... Mamaahh nggak tahaan donngg. Cepat masukin penisnya!"

Rita menunggingkan pantatnya sehingga terlihat vaginanya yang merah jambu dan sedikit basah. Penisku yang lagi tegang-tegangnya kiarahkan ke lubang vaginanya seperti mengarahkan meriam siap menembak, dan "Bleesszzhh..." penisku menyeruak ke dalam gua kenikmatan Ritaku. Rita kembali melenguh panjang.

"Paahh... oogghh... teruuss kocookk, sayaang!"

Aku mulai menarik dan membenamkan batang penisku keluar masuk lubang vaginanya yang terasa semakin sempit dan menyedot-nyedot kalau berhubungan dengan doggy style โ€” kesukaan kami berdua.

"Ooogghh... Maahh, Papah enaakk... oogghh... hhzz... aahzzoogghh... duuh... Maahh... aa... duuhh gilaa... yaangg, teruuss goyaang... cakeep!"

Rita memundur-majukan pantat dan pinggulnya semakin cepat sehingga tempat tidur kamar hotel berderit-derit. Keringat kami jatuh bercucuran. Nikmat sekali bersenggama dengan kekasihku tersayang. Jiwa raga kami rasanya bersatu padu.

"Aduuhh... Papaahh... oogghh... enaakk... Paahh, teruuss, Paahh, genjot... teruuss... aahh... lebih kenceng, oogghh... aahhzzhh... duhh."

Badan Rita berguncang-guncang keras, goyangan pinggul dan pantatnya tambah menggila, dan lubang vaginanya seakan mau melumat habis dan mematahkan batang penisku. Air maniku rasanya sudah mengumpul di kepala penisku, siap disemprotkan kapan saja, tapi aku ingin Ritaku dulu yang klimaks agar dia puas. Belum tentu kami bisa bertemu seminggu sekali, padahal dia pernah bilang bahwa kalau kami bisa kawin mungkin bisa berhubungan setiap malam โ€” karena penisku terasa nikmat sekali rasanya, katanya suatu hari sambil melumat lendir yang keluar di mulutnya.

"Paahh... Mamaahh... oogghh... Paahh... aaduhh... oggzz... giillaa... aahh... oogghh... Mamaahh... ooghh... Maauu keluaarr!"

"Tunggu sayang... Mamah berbalik dulu telentang," perintahku.

Kami sudah hampir mencapai orgasme. Kucabut penisku, Rita kemudian telentang dengan kedua kaki dibuka lebar. Vagina dan lubang pantatnya kubersihkan dulu dengan jilatan lidahku penuh nafsu. Kutelan habis cairan vaginanya yang asin, wangi, dan gurih. Dia menggelinjang sambil bergumam.

"Aduuhh, oogghh, Papah jahaat!" sambil tersenyum manja dan matanya merem melek. "Cepetan masukin lagi penisnya, Paahh, Mamah sudah nggak tahan nih!"

Aku segera menaiki tubuhnya dengan hati-hati, takut kandungannya tertekan. Kuarahkan batang penisku yang sudah memerah legam untuk bertempur sampai titik darah putihku terakhir, demi Ritaku tersayang. Dan "Bleezzhh..." Rita melenguh panjang sekali.

"Ooogghh, Paahh... kocookkhh, yangghhzz..."

Kutarik cepat penisku sampai kepalanya nongol ke permukaan vaginanya dan seketika kubenamkan habis batang penisku ke lubang vaginanya sampai terasa mentok. Rita melenguh panjang.

"Ooogghh, Paahh, aduuhh, gilaa, nikmaat."

Kucabut lagi batang penisku tiba-tiba dan kubenamkan lagi kuat-kuat ke dalam vaginanya dengan gaya agak miring โ€” terkadang dari sisi kanan, terkadang dari sisi kiri โ€” membuat Rita terbuai kenikmatan luar biasa.

"Oooww, oogghh, aahh, Papahh, enaakkhh, duhh, ampuunn, duuhh, ooghhz... Paahhzz!"

Teriakannya melengking, tak peduli ada yang mendengar. Aku semakin bernafsu, keringatku bercucuran, penisku terasa semakin tegang dan mau meledak, panas seperti gunung mau memuntahkan laharnya.

"Maahh... ooghhzz, Maahh, vaginanya gilaa, empot ayaamm!"

"Goyaangg teruuss, oogghh, yuu, bareeng keluariin, Maahhggzz!"

Kami semakin menggila. Aku menusukkan batang penisku dan mencabutnya setiap setengah detik sekali, dan goyangan pantat serta pinggul Rita semakin menjadi-jadi. Tempat tidur semakin ramai berderit, keringat kami bercucuran seakan mandi sambil bersenggama โ€” bercampur menjadi satu, menambah kenikmatan dan rasa menyatu yang bukan main indahnya. Rita semakin menggila, mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem melek. Kucium dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, dahinya, ludahnya kusedot dalam-dalam. Rita menggigit lidahku keras sekali sampai aku menjerit kesakitan โ€” itu tandanya dia mau ejakulasi dan klimaks. Kukuatkan menahan agar cairan air sorgaku belum muncrat sebelum Ritaku klimaks.

Tiba-tiba... "Paahh, oogghh, aduuhh, Maamah keluuaarr, oogghh, aduuhh, gilaa, oowwhzz, aahh, Papaahh... uughh, uughh, uugghh."

Dia sekali lagi menggigit lidahku, sambil mencubit keras pahaku โ€” itu kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks yang luar biasa. Aku tak peduli apapun yang dilakukan Ritaku demi kepuasannya. Aku terus menggenjotkan penisku semakin gila dan rasanya sudah tak tahan lagi menahan sperma muncrat di vaginanya yang kusayangi. Rita sudah kepayahan, katanya vaginanya terasa ngilu kalau dia sudah klimaks duluan dan aku masih semangat menggenjot.

"Cepeet donng, yaang, aach, Mamaah capee."

Dan akhirnya... "Ooogghh... Maahh... Papah jugaa keluaarr... ooghh... ooghh... ooghh... Mamaahh... aduuhh, eemmhhzz!"

Kami sama-sama meregang, mengejang, mendelik, menggelepar โ€” seakan jiwa raga kami terbang ke angkasa luas nan indah, ke alam surgawi dunia fana. Entah sampai kapan kami akan memagut cinta, tapi rasanya memang sulit berpisah. Kupeluk dan kucium Ritaku yang terkulai puas dengan senyuman tersungging di bibirnya yang merah muda tanpa gincu. Kulumat lagi bibirnya habis-habisan, dia melenguh manja dengan mata tertutup lelah tanda kepuasan yang luar biasa.

"Paahh, Mamah cinta... jangan tinggalin Mamah ya, sayang!"

Aku mengangguk saja karena aku pun sangat mencintainya. Kemudian kami rupanya tertidur pulas dalam keadaan berpelukan mesra dan bugil, penisku masih sedikit menancap di vaginanya. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul dua pagi. Hawa dingin kota Bandung. Ketika aku tersadar bahwa kekasihku masih tergolek mesra di pelukanku dengan telanjang bulat, nafsuku mulai bangkit kembali dan penisku sedikit demi sedikit mulai menegang dan mengeras.

Kubangunkan Ritaku, dia terbangun, dan kami sama-sama berciuman kembali walaupun belum gosok gigi. Tapi cinta mengalahkan segalanya โ€” semuanya terasa indah dan harum wangi. Rita pun terangsang kembali dan kami bersenggama lagi habis-habisan sampai pukul empat pagi, sampai seluruh badan terasa lemas dan lunglai. Kami memesan ke room service untuk mengembalikan tenaga. Hari Sabtu pagi sampai siang hari kami terus tidur berpelukan mesra, pintu kamar terus berstatus "DO NOT DISTURB" โ€” sebab ada dua sejoli yang sedang memagut kasih. Sampai Minggu pagi kami terus bercinta dan bersetubuh tak bosan-bosannya sampai tujuh kali.

Minggu siang sekitar pukul 12.00 Togar datang sesuai janji untuk mengantarkan Rita pulang, sambil mendropku di stasiun kereta api. Oh, setianya Batak satu ini โ€” benar-benar kawan sejati. Dia hanya cengar-cengir penuh arti ketika bersalaman di stasiun dan kami berpisah. Dari mobil, Rita melambaikan tangan dan menempelkannya di bibirnya.

"Hati-hati kau bawa dia, kawan. Dia sedang mengandung anakku โ€” cari jalan yang mulus!" perintahku pada Togar.

"Siap, boss. Akan kulaksanakan perintahmu!" katanya tegas.

Batak ini memang tegas dan kasar, tapi hatinya sangat lembut dan baik. Sekali lagi aku berpelukan dengan Togar sebelum Kijangnya yang membawa Rita hilang dari pandanganku.

Aku berjanji pada Rita untuk sesering mungkin datang ke Bandung, tak peduli apakah si Yudi keluar kota atau tidak โ€” sebab cinta kami begitu indah.

TAMAT

โ† SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya โ†’