Selingkuh Dibalas Selingkuh
Selingkuh Dibalas Selingkuh
Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu, ketika aku masih berumur 22 tahun dan masih kuliah di tahun ketiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku — anak dari sepupu mamaku — dari Semarang datang berkunjung untuk menghadiri undangan pernikahan sekaligus mengisi liburan. Namanya Yessica, dia dua tahun lebih muda dariku dan sedang kuliah tahun kedua di sebuah PTS di kotanya. Setelah hampir tujuh tahun tidak bertemu, aku agak pangling ketika menjemputnya di bandara; penampilannya sudah jauh berbeda. Yessica yang dulu pemalu dan konservatif kini telah menjadi gadis belia yang modis dan mempesona — tubuhnya putih langsing dengan perut rata, rambutnya hitam panjang seperti gadis di iklan sampo. Dia tiba sekitar pukul tujuh malam, dan dari bandara aku langsung mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Ternyata dia enak diajak ngobrol karena kami sama-sama cewek gaul, padahal waktu kecil dulu kami tidak terlalu cocok karena dia agak tertutup.
Keesokan harinya aku mengajaknya jalan-jalan menikmati kota Jakarta. Kami sempat bertemu Ratna dan cowoknya secara tidak sengaja ketika sedang belanja di TA. Yessica royal juga dalam belanja — tasnya penuh barang bermerek, sampai aku geleng-geleng kepala melihatnya. Malamnya, sepulang dari pesta yang diadakan di sebuah restoran mewah di ibukota, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur setelah melepaskan gaun pesta, menyisakan celana dalam pink saja. Aku berbaring telanjang meregangkan otot-otot sambil menunggu Yessica yang sedang di kamar mandi — dia tadi minum cukup banyak alkohol, kemungkinan sedang muntah di dalam sana.
"Yes, sekalian ambilkan kaos gua di gantungan baju di dalam dong," pintaku ketika dia keluar lima belas menit kemudian. Matanya tampak sayu karena pengaruh alkohol dan kelelahan.
Dia menyerahkan kaos itu padaku lalu memintaku membantu melepaskan kait belakang gaun malamnya. Setelah aku memakai kaos, kubuka kait dan kuturunkan resleting gaunnya. Yessica pun melorotkan gaunnya sehingga tampaklah dadanya yang montok — ukurannya tidak beda jauh dengan milikku, hanya putingnya sedikit lebih kecil. Dengan hanya mengenakan celana dalam G-string, dia berjongkok di depan kopernya mencari pakaian tidur.
"Kenapa, Ci? Kok ngeliatin gua terus, jangan-jangan lu...?" katanya nyengir karena merasa terus kuperhatikan tubuhnya.
"Yee, nggak lah! Dasar negatif thinking aja lo!" ujarku sambil tertawa.
Malam itu kami berbaring mengobrol panjang lebar — dari soal fashion, kuliah, cinta, hingga seks — sehingga bukannya tertidur, kami malah larut dalam obrolan dan canda tawa. Apalagi saat memasuki topik seks: aku menceritakan kehidupan seksiku yang liar, dan Yessica terkagum-kagum sekaligus tampak juga ikut terangsang.
Namun ketika gilirannya bercerita, suasana berubah serius. Dia mengisahkan pertengkaran besarnya dengan pacarnya yang selingkuh dengan cewek lain. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Matanya berkaca-kaca, setetes air mata menetes dari matanya yang sipit, dan dia memeluk bantal lalu menangis tersedu-sedu di baliknya. Sebagai perempuan yang pernah merasakan pengkhianatan yang sama, aku mengerti perasaannya. Kurangkul dia dan kuelus punggungnya untuk menenangkannya, berusaha keras menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan, lalu kuberikan segelas air putih.
Beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda. Dengan masih sesegukan dia memanggil namaku.
"Hm... Apa?"
"Ci, tadi lu bilang lu pernah bikin film bokep pribadi, kan?" tanyanya — merujuk adegan yang direkam Verna.
"Mm, iya. So what?" jawabku sambil mengangguk.
"Boleh gua lihat nggak, hitung-hitung penghilang stres? Boleh ya?"
"Eh... gimana ya? Sekarang?" Aku bingung, risih juga kalau film pribadiku ditonton orang lain.
Akhirnya karena didesak terus, dan mengingat kami sesama perempuan, aku pun menyerah. Kunyalakan komputer di seberang ranjang dan kuambil VCD yang kusimpan di lemari. Yessica adalah orang pertama di luar gengku yang menonton VCD ini. Gambar di layar memperlihatkan diriku sedang dikerjai para tukang bangunan, diikuti adegan seks massal yang belakangan melibatkan Verna juga — membuat jantung kami berdebar-debar. Yessica nyengir-nyengir melihatku yang tadinya berontak akhirnya takluk dan menikmatinya.
"Hihihi, malu-malu mau nih ye!" godanya. Kutanggapi dengan mencubit pahanya.
Aku merasakan vaginaku sudah basah setelah menonton film yang kubintangi sendiri itu. Kurasa hal yang sama dialami Yessica karena tadi dia sering menggesek-gesekkan pahanya.
"Ci, gua juga mau dong bikin bokep pribadi kayak lu," pintanya. Aku kaget.
"Ngaco lu, jangan yang nggak-nggak, nanti gua dibilang ngerusak anak orang, nambah-nambah dosa aja!" aku menolak.
"Aah, ayolah Ci, lagian gua juga sudah nggak perawan ini, sudah basah jadi tanggung sekalian aja mandi."
"Jangan, Yes, gua nggak enak ke lu."
"Ayolah, gua cuma mau ngebales aja kok. Napoleon juga balas berselingkuh waktu tahu istrinya selingkuh — itu baru adil, kan?" katanya sok bersejarah.
"Ya ilah, Napoleon aja sampai dibawa-bawa. Kalaupun gua mau, bikinnya sama siapa? Cowoknya mana?"
"Di villa aja, Ci. Penjaga villa lu masih kerja di sana kan? Sekali-kali gua mau coba gimana rasanya, please."
Karena didesak terus dan dia sendiri yang meminta, aku pun terpaksa menyetujui. Lagipula aku sendiri sudah lama tidak ke sana — pasti Pak Joko dan Taryo senang, apalagi aku datang membawa "barang baru."
Kami tidur sekitar pukul dua belas dan bangun pukul delapan pagi. Setelah sarapan, kami mengemasi barang lalu pamit kepada mamaku dengan memberitahu bahwa kami akan ke villa. Aku memakai halter neck merah yang memperlihatkan punggungku, dipadukan celana pendek jeans ketat. Yessica memakai gaun terusan mini yang menggantung sejengkal di atas lutut, rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan jepit rambut Tare Panda. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul sepuluh dan tiba pukul satu lebih, terlambat karena jalan agak macet di musim liburan.
"Sudah siap, Yes? Kalau mau berubah pikiran, belum telat sekarang. Tapi kalau mereka sudah ngerjain lu, gua nggak bisa apa-apa lagi," tanyaku ketika sudah hampir sampai.
"I'm ready for it. Lagian gua juga mau tahu rasanya seperti apa," katanya yakin.
Kami pun sampai di villa. Pak Joko membuka pintu garasi beberapa saat setelah kubunyikan klakson.
"Waduh, Neng, sudah lama kok nggak ke sini. Bapak kangen nih!" sapanya menyambut kami.
"Iya Pak, habis Citra sibuk banget di Jakarta. Kalau libur baru bisa main. O iya Pak, kenalin, itu sepupu Citra, namanya Yessica."
Pak Joko terkagum-kagum memandang Yessica yang baru turun dari mobil. Yessica mengangguk dan tersenyum padanya. Kusuruh Yessica meletakkan tasnya di kamar sementara kami mengeluarkan barang. Setelah dia masuk, Pak Joko berbicara pelan padaku.
"Eh, Neng, Neng Yessica itu boleh nggak? Habis... menggoda banget."
"Idih, Bapak jorok ah, datang-datang langsung mikirnya gitu."
"Duh, maaf-maaf, Neng, Bapak khilaf."
"Nggak kok Pak, Bapak nggak salah. Justru dia yang ngajak ke sini minta begitu — malah minta disyuting lagi, Pak. Bapak mau kan? Tenang aja, buat koleksi pribadi kok."
Pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi senang mendengar jawabanku dan langsung bergegas mau menemui Yessica. Tapi cepat-cepat kutahan dengan menarik lengannya.
"Eh, sabar dulu dong Pak, kita harus cari suasana dulu biar lebih hot. Lagian kita lapar nih, mau makan siang dulu. Bapak sekalian ikut makan ya," kataku sambil menyerahkan sekotak ayam goreng KFC dan menyuruhnya menyiapkan nasi.
"O iya Pak, si Taryo ada nggak? Mau manggil dia juga nih."
"Wah, kurang tahu tuh, Neng. Telepon aja dulu."
Aku menelepon villa sebelah. Setelah beberapa kali orang di sana bilang "halo, siapa ini?" barulah aku yakin itu suara Taryo, dan aku pun mengundangnya ke sini sambil mengutarakan maksudku. Dia tentu senang sekali, tapi bisa menemani hari ini saja karena besok siang majikannya mau datang berlibur. Ketika kututup telepon, Yessica baru saja turun dari tangga lantai atas.
"Ngapain aja lu, lama amat beresin barang? Yuk makan dulu, lapar nih!" kataku.
"Sori, tadi sakit perut, kepaksa setor dulu ke WC deh."
Aku usul agar kita makan di taman belakang dekat kolam renang saja, mumpung cuaca bagus. Kusuruh juga Pak Joko menggelar tikar seperti piknik. Ketika lagi beres-beres, bel berbunyi — pasti Taryo. Kusuruh Pak Joko meneruskan beres-beres sementara aku ke depan membukakan pintu.
Bersambung...