Selingkuh Dibalas Selingkuh (Bagian 3)
Selingkuh Dibalas Selingkuh (Bagian 3)
"Wuih, gila bener, sepongan Neng Yessica nggak kalah dari Neng Citra!" komentarnya.
Kudekatkan kamera ke wajah Yessica yang sedang menjilati sisa-sisa sperma di penis Taryo dengan rakus. Sambil men-charge penisnya, Taryo bermain-main dengan payudara Yessica — kedua bongkahan kenyal itu dicaplok dengan telapak tangannya dan dihisapi bergantian. Kulit payudara yang putih itu sudah memerah akibat cupangan Taryo. Suara erangan sahut-menyahut memanaskan suasana.
Yessica terus menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat, semakin lama semakin cepat, dan mulutnya menceracau tak karuan.
"Oohh, auuhh, aahh!" lolongnya dengan kepala mendongak ke langit, bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang. Didekapnya kepala Taryo erat-erat sehingga wajahnya terbenam di antara belahan payudaranya. Momen indah ini terabadikan melalui handycam-ku. Terus terang aku sendiri sudah terangsang berat dan ingin segera bergabung, tapi sepertinya belum saatnya — nampaknya mereka berdua sedang getol-getolnya menggarap Yessica sebagai "barang baru" daripada aku yang sudah sering mereka kerjai.
Yessica ambruk di atas tubuh Pak Joko dengan penis masih tertancap. Pak Joko mendekapnya dan mencumbunya mesra, lidah mereka berpaut dan saling menghisap. Kini Taryo, yang senjatanya sudah di-reload, meminta gilirannya. Pak Joko pun menurunkan Yessica dari tubuhnya dan masuk ke dalam untuk mengambil minum. Kedua pergelangan kaki Yessica dipegangi Taryo lalu dibentangkannya pahanya lebar-lebar. Setelah menaikkan kedua betisnya ke bahu, Taryo menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vagina Yessica.
Walaupun vagina itu sudah basah, penis Taryo termasuk besar — lebih besar dari Pak Joko — sehingga Yessica meringis dan mengerang kesakitan saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos. Tubuhnya tegang sambil meremasi tikar di bawahnya; mungkin dia belum terbiasa dengan penis seperti itu. Taryo sendiri mengerang nikmat akibat himpitan dinding vagina itu.
"Uuuhh, sempit banget, asoy!" erangnya saat melakukan penetrasi.
Sebagai juru kamera, aku sudah terlalu menghayati sampai tak sadar tangan kiriku menyelinap di bawah bajuku dan memijiti payudaraku sendiri. Kuputar-putar puting yang sudah mengeras dari tadi. Taryo mulai menggerakkan penisnya perlahan, direspons Yessica dengan rintihannya. Pak Joko kembali dari dalam, bersimpuh di samping mereka, lalu meletakkan tangan Yessica pada penisnya. Dia menikmati penisnya dipijat Yessica sambil meremas payudaranya.
Taryo menaikkan tempo permainannya — disodoknya Yessica, sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Yessica semakin menggeliat keenakan; desahannya pun semakin mengekspresikan kenikmatan, bukan kesakitan. Pak Joko merundukkan badan agar bisa menyusu dari payudaranya — puting itu diemut dan ditarik dengan mulutnya.
Sekitar lima belas menit kemudian mereka berganti posisi karena Pak Joko juga sudah ingin mencoblos lagi. Kali ini tanpa melepas penisnya, Taryo mengangkat tubuh Yessica dan membaringkan diri di tikar sehingga Yessica kini berada di atasnya. Kemudian Pak Joko menyuruhnya mengangkat pinggul — Yessica mencondongkan badan ke depan sehingga pantatnya menungging dan payudaranya tepat di atas wajah Taryo.
"Bapak tusuk di pantat ya, Neng. Tahan ya kalau agak sakit," kata Pak Joko meminta izin.
"Jangan terlalu kasar ya, Pak, saya takut nggak tahan," kata Yessica dengan suara lemas.
"Engghh, Pak!" erangnya saat Pak Joko memasukkan telunjuknya ke anusnya, diikuti jari tengah yang dilumuri ludah dan digerak-gerakkan untuk melicinkan jalan bagi penisnya.
Setelah merasa cukup, Pak Joko mulai memasukkan barangnya ke sana. Kelihatannya cukup susah sehingga dia harus memakai cara tarik-ulur — keluarkan satu sentimeter, masukkan tiga sentimeter — sampai menancap cukup dalam, lalu dengan sedikit tenaga dihujamkan hingga mentok.
"Akkhh, sakit!" erangannya berubah menjadi jeritan ketika diperlakukan seperti itu.
Kedua penjaga villa itu bagaikan kuda liar menggarap kedua liang senggama sepupuku. Dua tubuh gelap yang menghimpit tubuh putih mulus itu seperti daging ham di antara dua roti hangus — mereka sudah bermandikan keringat dan nampak sebentar lagi akan mencapai puncak. Aku sejak tadi sibuk berpindah-pindah mencari sudut yang bagus.
Yessica mulai mengejang dan mengerang panjang menandai klimaksnya. Tapi kedua penjaga villa itu tanpa peduli terus menggenjotnya beberapa menit lagi. Mereka akhirnya mencabut dan menelentangkan Yessica di tikar. Mereka cukup mengerti permintaan Yessica agar tidak membuang di dalam karena sedang masa subur — Pak Joko menumpahkan ke wajah dan mulutnya, sedangkan Taryo ke perut dan dadanya. Meskipun masih lemas, Yessica tetap menggosokkan sperma itu ke badannya. Ketiganya rebahan dan mengatur napas kembali.
"Gimana, Yes, puas nggak?" tanyaku.
"Aduh, Ci, lemes banget. Kayak nggak bisa bangun lagi rasanya!" jawabnya lemah dengan sisa tenaganya.
"Gimana, Pak-Pak, masih kuat nggak? Gua belum dapat nih!" kataku pada keduanya.
"Iya, ntar, Neng, harus isi tenaga dulu nih!" jawab Pak Joko.
"Ya sudah, istirahat aja dulu. Gua mau minum nih, haus!" kataku meninggalkan mereka menuju ke dalam.
Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Setelah menutup pintu kulkas dan membalik badan, tiba-tiba Taryo sudah berdiri di belakangku — aku kaget sampai gelas di tanganku hampir jatuh.
"Duh, ngagetin aja lu, Tar! Datang nggak kedengeran gitu kayak setan!" omelku. "Ngapain? Mau minum?"
Tanpa berkata-kata dia mengambil gelas yang kusodorkan dan meminumnya. Aku memandang tubuhnya yang telanjang — penisnya dalam posisi setengah tegang, pelirnya menggantung di pangkal pahanya seperti kantung air. Setelah berbasa-basi sejenak aku mendekati dan memeluknya. Berpelukan, mulut kami mulai saling memagut — lidah bertemu lidah, saling jilat dan saling belit. Kugenggam penisnya dan kupijati. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu diremasi.
Kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan duduk di sofa. Aku berdiri di hadapannya dan melepas pakaian satu per satu dengan gerakan erotis hingga tak menyisakan apa pun di badanku. Aku berhenti tepat di depannya yang sedang duduk; nampak dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku, tangannya meraba paha dan pantatku.
"Neng cukur jembut ya, jadi rapih deh, hehehe," komentarnya tentang bulu kemaluanku yang beberapa hari lalu kurapikan pinggir-pinggirnya hingga berbentuk memanjang.
Menanggapinya aku hanya tersenyum seraya mendekatkan kemaluanku sejengkal sejajar dari wajahnya. Seperti yang sudah kuduga, dia langsung melahapnya dengan rakus.
"Emmhh, yes!" desahku begitu lidahnya menyentuh vaginaku.
Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan lidahnya begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Aku mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu klitorisku yang sensitif. Mulutnya kadang mengisap, kadang meniupkan angin, sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Sementara tangannya terus meremas pantatku dan sesekali mencucuk-cucuk duburku. Aku mengerang sambil meremas rambutnya sebagai respons permainan lidahnya yang liar.
Puas menjilati vaginaku, dia menyuruhku duduk menyamping di pangkuannya. Dengan liarnya dia langsung mencaplok payudaraku — puting dikulum dan dijilat, tangannya menyusup di antara pahaku mengarah ke vagina. Selangkanganku terasa semakin banjir karena jarinya mengorek-ngorek lubang vaginaku.
Selain payudaraku, ketiakku yang bersih pun tak luput dari jilatannya, menimbulkan sensasi geli. Terkadang dihirupnya ketiakku yang beraroma parfum bercampur keringatku. Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya — benda itu kini telah kembali mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari vaginaku begitu dikeluarkan. Disodorkannya ke mulutku yang langsung kujilati dan kukulum — terasa aroma dan rasa cairan yang sudah akrab denganku.
Tubuhku ditelentangkan di meja ruang tamu dari batu granit hitam itu setelah sebelumnya dia singkirkan benda-benda di atasnya. Napasku makin memburu ketika penis Taryo menyentuh bibir vaginaku.
"Cepat, Tar, masukin yang lu dong, nggak tahan lagi nih!" pintaku sambil membuka pahaku lebih lebar seolah menantangnya.
Karena mejanya pendek, Taryo harus menekuk lutut setengah berjinjit untuk menusukkan penisnya. Aku menjerit kecil merasakan perih akibat cara memasukkannya yang sedikit kasar. Selanjutnya kami larut dalam birahi — aku mengerang sejadi-jadinya sambil menggelengkan kepala atau menggigit jariku. Kini dia berdiri tegak memegangi kedua pergelangan kakiku sehingga pantatku terangkat dari meja. Payudaraku terguncang-guncang mengikuti irama goyangan kasarnya.
Dalam waktu dua puluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang, sementara dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.
Bersambung...