18px

Selingkuh Dibalas Selingkuh (Bagian 5)

Selingkuh Dibalas Selingkuh (Bagian 5)

Pak Joko yang sudah terangsang mulai meraba-raba pantatku dan menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.

"Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak."

"Ya sudah, nggak apa-apa, pemanasan aja dulu, Neng. Boleh ya?" jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penisnya yang hitam dan setengah ereksi. Aku pun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidah — kuawali dengan menjilati kepala penisnya hingga basah, lalu menciumi bagian batangnya sampai ke pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh berkat teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi. Kuperhatikan sekilas ke arahnya — ternyata keduanya sedang asyik berciuman dalam. Posisi mereka tidak berubah; Yessica hanya menengokkan kepala ke samping agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku — dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap. Lama juga aku melayaninya sampai mulutku pegal, hingga akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica, masih mengenakan kimono yang sudah terbuka sana-sini, memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica — klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri, Pak Joko memagut bibirku dan kubalas dengan tak kalah hot. Aku memainkan lidah sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggang kimonoku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman, tangannya menggeser kain dari kedua bahuku, dan melorotlah kimono itu — di tubuhku sudah tidak menempel apa pun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69, kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepala di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat. Dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaiki tubuhku lalu mencium dan mengelusi punggungku — aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidah pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku ditekuknya, lalu jari-jari kakiku diemut satu per satu. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku — dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan napasnnya dekat di wajahku. Leher dan tengkukku digelitik dengan lidahnya, juga telingaku — aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru — Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggul naik-turun; tangannya kadang meremasi sprei, kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas — kutahan dengan lutut dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atas. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati momen-momen penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan — terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku; rasanya seperti sedang dibor saja. Aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makanya aku selalu mendesah:

"Terus, terus, jangan pernah stop!"

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo dan meraih tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow — kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang. Di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.

"Randy bangsat! Ahh, lu kira aku nggak bisa seleweng apa! Engghh, terus, Bang, entot gua buat ngebales cowok sialan itu!!"

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar; otomatis eranganku pun tambah tak karuan — sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat. Sementara itu Pak Joko tidak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya, dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya — dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangkanganku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badan mendapat kuluman Taryo — beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica bergoyang dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.

"Yahh, entot aku, Bang! Sedot susuku sampai puas! Ahh, perlakukan aku sesukamu, biar bajingan itu tahu rasa!!" erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya.

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepala ke payudaraku — puting ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik. Aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Situasi di sebelah nampaknya makin seru — kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah saat mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser diri ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu sekitar lima menit, cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak — bercipratan membasahi wajah Yessica. Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk, rambutnya yang panjang pun terkena cipratan sperma. Setelah semprotan mereda, dia menjilati sisanya yang masih menetes — kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajah dengan jarinya, dihisap jari-jari yang belepotan sperma itu, dan sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepala bersandar di dadanya — keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliranku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

"Ayoo, Pak, terus! Citra sudah mau!" desahku dengan napas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar. Aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandai orgasmeku, bersamaan dengan mengucurnya cairan cinta membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku — spermanya dikeluarkan di dadaku, lalu diratakan ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah menempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruhku membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga kugenggam benda itu dan kusapukan lidah dengan lemas — kujilat bersih dan sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan; keringatku bercucuran deras, dada naik-turun cepat karena ngos-ngosan.

"Ck, ck, ck. What a naughty girl you are, Ci!" terdengar Yessica berkata dari sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya dengan tersenyum. Kami masih sempat mengobrol beberapa menit sebelum satu per satu tertidur kecapekan.

Pagi pukul sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut. Tidak ada seorang pun di kamar — semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar. Dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela — di kolam, Yessica sedang berenang sendirian tanpa sehelai benang pun.

"Yes, oooi!" sapaku sedikit berteriak sambil melambai. "Mana dua orang itu?!"

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai. "Nggak tahu tuh. Kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan. Sini, Ci, segar loh renang pagi begini!"

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul dari sebelah sambil memegang sapu — dia baru masuk setelah selesai membersihkan halaman depan.

Bersambung...

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya